SIARAN PERS Bank Dunia - krisis keuangan melanda kawasan tersebut, sementara penduduk yang hidup dalam…

  • Published on
    29-Apr-2019

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<p>East Asia and Pacific Regional Update, November 2004 1 </p> <p>Bank Dunia Wilayah Asia Timur &amp; Pasifik Hubungi: Di Washington: Melissa Fossberg </p> <p>Tel: 1-202- 458-4145 mfossberg@worldbank.org </p> <p>Kawasan Asia Timur Tumbuh 7% di Tahun 2004 Melambungnya harga minyak dan ketidakpastian global </p> <p>mengancam kondisi ekonomi di tahun 2005 Manila, 9 November 2004 Perekonomian Asia Timur mencatat tingkat pertumbuhan terpesat sejak krisis keuangan melanda kawasan tersebut, sementara penduduk yang hidup dalam kemiskinan juga mencapai jumlah terendah. Hal tersebut terungkap dalam laporan East Asia and Pacific Regional Update dari Bank Dunia, yang menyoroti perkembangan ekonomi wilayah tersebut tiap dua kali dalam setahun. </p> <p>Pertumbuhan ekonomi diharapkan mencapai tingkat 7 persen untuk keseluruhan kawasan Asia Timur dan Pasifik (diluar Jepang). Perekonomian negara berkembang di kawasan ini, bahkan diharapkan dapat tumbuh hingga 8 persen. Pertumbuhan yang pesat ini dirasakan baik oleh negara miskin maupun perekonomian berpenghasilan menengah. Ekspor mencatat kinerja terbaiknya sejak 1988, didukung oleh tingginya permintaan dari Cina, pemulihan ekonomi global, bangkitnya kembali industri berteknologi tinggi, serta menguatnya harga komoditas. Aktifitas investasi juga mengalami pemulihan, memberikan kontribusi setengah dari pertumbuhan permintaan di kawasan ini. Kinerja yang menggembirakan ini telah mengangkat 40 juta penduduk Asia Timur dari kemiskinan. Sebagian besar dari mereka berada di Cina, Indonesia, Thailand dan Vietnam. </p> <p>Kami memperkirakan bahwa pada akhir tahun ini, jumlah orang yang berpenghasilan kurang dari 2 dollar sehari, akan menjadi sepertiga dari keseluruhan populasi di wilayah ini. Jumlah penduduk miskin mencapai angka absolut terendah sepanjang masa, bahkan jika perkembangan di Cina tidak turut diperhitungkan. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan tersebut telah dapat mengatasi masalah tingginya kemiskinan akibat dari krisis ekonomi di tahun 1997. Demikian diungkapkan oleh Wakil Presiden Direktur Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Jemal-ud-din Kassum. Perkembangan ini terjadi bersamaan dengan perubahan politik mendasar yang sedang berlangsung, seperti berbagai pemilihan legislative dan juga pemilihan presiden, termasuk pemilihan presiden langsung pertama di Indonesia; menjadikan tahun ini sebagai tahun gemilang bagi kawasan Asia Timur dan Pasifik. </p> <p>Tetapi ditengah berbagai catatan keberhasilan tersebut, muncul kekhawatiran akan kondisi di tahun 2005, yang penuh ketidakpastian dan situasi yang tidak mendukung. Melambungnya harga minyak dunia, lambannya pertumbuhan berbagai negara kaya, serta melambatnya perkembangan industri teknologi tinggi dan siklus perdagangan komoditas, adalah hal-hal yang tidak mendukung perkembangan kawasan Asia Timur. Berbagai neraca makroekonomi global, khususnya defisit neraca perdagangan Amerika Serikat, berikut surplus negara-negara Asia Timur, dan ledakan investasi di Cina yang masih belum mencapai bentuk stabil, meningkatkan resiko yang dihadapi kawasan ini. </p> <p>SIARAN PERS </p> <p>East Asia and Pacific Regional Update, November 2004 2 </p> <p>Meskipun 2004 merupakan tahun yang menggembirakan, data-data terakhir menunjukkan bahwa pemulihan di kawasan Asia Timur telah mencapai titik tertingginya, dan aktifitas ekonomi mulai memperlihatkan gejala perlambatan. Demikian Homi Kharas, Chief Economist untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik. Berbagai resiko yang dibahas dalam edisi Regional Update sebelumnya, terlihat semakin meningkat intensitasnya, dan membuat situasi semakin tidak menentu. </p> <p>Berbagai analisis sepakat menyatakan bahwa pertumbuhan di negara-negara maju, termasuk Amerika Serikat, Jepang dan Eropa, akan melambat untuk sementara waktu, tetapi akan membangun dasar bagi pertumbuhan yang lebih berkesinambungan. Walaupun pertumbuhan ekonomi, investasi dan juga impor Cina kemungkinan akan melambat secara gradual, hal ini akan lebih berkelanjutan dan menambahkan stabilitas ekonomi regional. </p> <p>Melambungnya harga minyak dunia menyebabkan nilai impor kawasan ini di tahun 2004 meningkat hingga 25 milliar dolar. Hal ini menurunkan penghasilan berbagai negara di kawasan ini, yang pada umumnya merupakan importir energi netto, juga penghasilan di negara-negara tujuan ekpor utama bagi kawasan ini, seperti Jepang, Amerika Serikat dan Eropa. </p> <p>Tingginya harga minyak mengurangi pertumbuhan ekonomi kawasan ini di tahun 2005 hingga 0.5 sampai 1 persen, dimana negara seperti Fillipina, Thailand dan Korea mengalami penurunan paling tinggi. Demikian menurut Mr. Kharas. </p> <p>Kekhawatiran juga semakin meningkat dengan diperlukannya penurunan surplus neraca perdagangan di kawasan Asia Timur dan defisit di Amerika Serikat sebagai bagian dari proses penyesuaian. Apa yang dapat disumbangkan oleh perekonomian di Asia Timur untuk mengurangi surplus mereka adalah dengan meningkatkan investasi domestik dan melanjutkan liberalisasi perdagangan, terutama dalam bidang jasa, tambah Mr. Kharas. </p> <p>Apa yang dapat dilakukan oleh pembuat kebijakan? Masalah utama yang dihadapi para pembuat kebijakan adalah bagaimana melanjutkan pemulihan dalam investasi dengan menciptakan iklim investasi yang menunjang pemulihan tersebut berjalan secara berkesinambungan. Ini akan sangat membantu dalam melewati periode ketidakpastian dan siklus perlambatan ekonomi global. Daripada mengkhawatirkan siklus perlambatan ekonomi global yang pasti akan terjadi, lebih baik perhatian diarahkan pada usaha untuk melanjutkan pemulihan investasi swasta. Demikian Lead Economist, Milan Brahmbhatt, penulis utama laporan Regional Update. Peningkatan investasi akan memperluas pemulihan ekonomi di kawasan ini, sehingga tidak hanya tergantung pada sumber pertumbuhan ekspor dan konsumsi yang berperan saat ini. Pertumbuhan ekspor tergantung dari faktor-faktor siklikal dan situasi global, sementara pertumbuhan konsumsi swasta dapat menimbulkan bahaya jika didorong oleh peningkatan kredit konsumsi rumah tangga, seperti yang sekarang terjadi di Korea dan Hong Kong (Cina). Fokus khusus di akhir laporan tersebut, yang diberi judul Memperbaiki Iklim Investasi di Asia Timur, membahas berbagai masalah dan kendala utama yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan di kawasan ini, berdasarkan respon dari 6500 unit usaha di lima negara. Laporan ini juga mengetengahkan tindakan-tindakan spesifik yang dapat diambil oleh masing-masing negara untuk mengurangi ketidakpastian, menurunkan biaya berinvestasi dan meningkatkan pendapatan usaha. Prioritas yang dapat dijalankan antara lain adalah meningkatkan kepastian hukum, baik di tingkat pengadilan maupun dalam </p> <p>East Asia and Pacific Regional Update, November 2004 3 </p> <p>interpretasi peraturan. Selain itu, resiko makroekonomi juga harus diturunkan, prosedur pendirian usaha disederhanakan, sementara pasar tenaga kerja diusahakan menjadi lebih fleksibel. Tidak dapat dilupakan adalah usaha untuk mengurangi birokrasi, termasuk korupsi dan suap, selain memperbaiki infrastruktur and ketersediaan energi serta meningkatkan keahlian. </p> <p>************************************************************************* The Regional Update diterbitkan dua kali dalam setahun oleh Bank Dunia Wilayah Asia Timur dan Pasifik. Laporan selengkapnya, termasuk Fokus khusus di akhir laporan tersebut, yang diberi judul Memperbaiki Iklim Investasi di Asia Timur dan berbagai data serta laporan untuk tiap negara, akan tersedia pada tanggal 9 November 2004 pukul 2:30 UTC, (atau tanggal 9 November pukul 9.30 waktu Jakarta, Bangkok, Hanoi, Phnom Penh; 10.30 waktu Beijing, Manila, Singapura dan Ulan Bator; 11.30 waktu Dili dan Tokyo; serta 12.30 waktu Port Moresby). Tersedia di website Bank Dunia Asia Timur, www.worldbank.org/eapupdate. </p>