Situasi Geopolitik Goyangkan Pasar

  • Published on
    02-Apr-2016

  • View
    216

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Gelombang ketegangan geopolitik yang terjadi tak kunjung mereda dan memberikan dampak pada pasar global. Situasi geopolitik ini berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Para pelaku pasar pun berbondong-bondong berburu aset safe-haven seperti emas dan yen Jepang. Sementara Rupiah masih menunggu apa hasil putusan Mahkamah Konstitusi terkait hasil pilpres yang baru lalu. Pembahasan lebih lanjut Anda bisa langsung mengunduh edisi terbaru FOREXimf Magz ini. Selamat Menikmati.

Transcript

  • 1Gelombang ketegangan geopolitik yang terjadi tak kunjung mereda dan memberikan dampak pada pasar global. Ketika Jalur Gaza berada dalam kondisi gencatan senjata yang diprakarsai oleh Mesir, namun potensi meningkatnya ketegangan Ukraina-Rusia kembali membuat pasar gelisah.

    Rusia telah mengirimkan bantuan kemanusiaan ke daerah Ukraina timur, namun muncul desas-desus bahwa konvoi bantuan kemanusiaan itu yang nota bene menembus perbatasan Rusia-Ukraina hanyalah kedok untuk menutupi misi sesungguhnya: yaitu penyusupan kekuatan militer Rusia.

    Ketika Rusia dan Barat (Uni Eropa dan Amerika Serikat) terlibat dalam permainan politik yang panas, situasi politik di Irak pun turut memanas. Perdana Menteri Al-Maliki menolak untuk mundur dari jabatannya, kekuatan militer pun ditambah di Baghdad. Lebih buruk lagi, Gedung Putih telah memutuskan untuk mendukung Presiden Masoum dan pemerintahan baru, sehingga semakin memperbesar peluang untuk menyingkirkan Al-Maliki.

    Situasi geopolitik ini berpengaruh terhadap harga minyak dunia. Para pelaku pasar pun berbondong-bondong berburu aset safe-haven seperti emas dan yen Jepang. Dari tanah air, ternyata ada indikasi rupiah pun turut menyimak apa yang terjadi di Timur Tengah dan Eropa Timur, di samping tentunya menunggu apa hasil putusan Mahkamah Konstitusi terkait hasil pilpres yang baru lalu.

    Simak FOREXimf Magz edisi kali ini untuk ulasannya. Selamat membaca.

    Editorial EKO TRIJUNIEDITOR IN CHIEF

    Susunan RedaksiPendiri : PT. International Mitra Futures Pemimpin Umum Editor In Chief Kontributor Layout & Design Marketing & Distribusi

    : Freddy Chandra : Eko Trijuni: Adi Nugroho, Fredy Rodo, Garry Adrian, Rizal Perwira, Dandun Wintolo : Arbianto, Andreas Lim : Eka Saputra, Donna

    PT. International Mitra FuturesMultivision Tower Lt. 20Kuningan Mulia Lot 9BKompleks Kuningan PersadaJakarta 12980, Indonesia

    021 29380500support@foreximf.com

  • 2

    .

    Daftar IsiSITUASI GEOPOLITIKGOYANGKAN PASARTahun 2014 telah menapaki pertengahan tahun. Isu-isu seputar kebijakan bank-bank sentral negara maju selalu ditunggu oleh para pelaku pasar. Namun, saat ini pasar masih belum dapat mengalihkan perhatian dari perkembangan situasi geopolitik mulai dari Suriah, konflik Ukraina-Rusia, ketegangan di Irak hingga serangan Israel ke jalur Gaza.

    Rupiah:ANTARA PUTUSAN MK& ISU GEOPOLITIK

    KETIDAKPASTIANEKONOMI AS & GEOPOLITIKBAYANGI EMAS

    SAMSUNG DALAM MASALAHTOYOTA CEMERLANG

    DATA SUKU BUNGA: MENGAPA DITUNGGU-TUNGGU?

    INFLASI,APAKAH ITU?US-NFP HANYA NAIK TIPISNOT A PROBLEM

    UPS EURO DAN KIWI MASIH TERTEKAN

    PSIKOLOGITRADING

    TRIVIAQUIZ

    BANGEDU

    3-5FUNDAMENTAL GLOBAL

    FUNDAMENTALINDONESIA

    FOREX OUTLOOK

    FUNDAMENTALBURSA SAHAM ASIA

    GOLDOUTLOOK

    SEPUTARNON FARM PAY ROLLS

    POJOKEDUKASI21-28

    29-31 34-3532-33

    6-8

    14-16

    9-11

    17-20

    12-13

    Isi Artikel ditulis hanya untuk kepentingan edukasi. Setiap transaksi yang dilakukan untuk membeli, menjual, ataupun menahan posisi dan lainnya atas suatu jenis kontrak perdagangan apapun berdasarkan isi dari artikel majalah ini adalah atas pertimbangan dan keputusan pembuat transaksi.

  • 3Fundamental Global

    Tahun 2014 telah menapaki pertengahan tahun. Isu-isu seputar kebijakan bank-bank sentral negara maju selalu ditunggu oleh para pelaku pasar. Namun, saat ini pasar masih belum dapat mengalihkan perhatian dari perkembangan situasi geopolitik mulai dari Suriah, konflik Ukraina-Rusia, ketegangan di Irak hingga serangan Israel ke jalur Gaza.

    Ukraina-Rusia: Never Ending Story

    Situasi geopolitik yang memanas antara Ukraina dan Rusia selalu menjadi sorotan. Pasalnya, hingga saat ini, permasalahan antara kedua negara tersebut tidak kunjung berakhir. Para pelaku pasar terus memantau perkembangan dari

    kondisi perekonomian negara kedua negara dan kebijakan yang akan diambil Presiden Vladimir Putin terhadap Ukraina. Setelah tindakan Putin yang mencaplok wilayah Crimea dari Ukraina, kini dunia kembali terguncang dengan pemberontakan yang dilakukan oleh sejumlah warga Ukraina pro-Rusia yang berakibat jatuhnya pesawat MH17 milik Malaysia Airlines. Hal ini tentunya berimbas pada citra negera Rusia di mata internasional.

    Setelah peristiwa itu, Amerika Serikat dan Uni Eropa sepakat memutuskan untuk memberikan sanksi lebih lanjut terhadap Rusia dengan menargetkan sasarannya ke sektor energi, perbankan dan pertahanan. Sebelumnya AS dan

    SituasiGeopolitik Goyangkan Pasar

    GARRY ADRIANJUNIOR ANALYST FOREXIMF

  • 4Fundamental Global

    Uni Eropa telah memberikan sanksi hanya kepada individu dan organisasi yang dituduh terlibat langsung dalam mengancam Ukraina. Kini, mereka akan membatasi perdagangan peralatan untuk sektor minyak dan pertahanan, dan penggunaan ganda teknologi dalam hal pertahanan dan sipil. Lalu bank Rusia akan dilarang untuk mengumpulkan dana di pasar modal Eropa.

    Sanksi ini akan memiliki dampak yang lebih besar pada perekonomian Rusia dari yang telah kita lihat saat ini. Ini akan membuat ekonomi Rusia semakin melemah. kata Presiden Barack Obama di Washington. Namun, Obama tampaknya tidak akan memberikan bantuan militer ke Ukraina. Ia mengatakan bahwa militer Ukraina masih memiliki persenjataan yang lebih baik daripada kubu pemberontak. Obama lebih memfokuskan pada bagaimana mencegah pertumpahan darah di Timur Ukraina. Obama berharap Vladimir Putin akan mundur dari kampanye selama berbulan-bulannya untuk merebut wilayah Ukraina. Tapi sejauh ini, Putin tidak menunjukkan tanda-tanda untuk mundur. Bahkan informasi terbaru, adanya penambahan tentara Rusia di dekat perbatasan dengan Ukraina, yang mengisyaratkan Rusia tengah bersiap untuk menginvasi Ukraina. Selain itu, Perdana Menteri Rusia Dmitry Medvedev mengatakan bahwa Rusia bersiap untuk membalas sanksi yang diberikan dengan memberlakukan larangan impor makanan dari Uni Eropa dan Amerika Serikat.

  • 5Dampak Situasi Geopolitik

    Ketegangan yang terjadi di wilayah Timur Tengah, umumnya akan mengganggu ketersediaan minyak mentah, yang akan berdampak pada meningkatnya harga minyak global di pasar. Situasi geopolitik yang terjadi sempat mengantarkan harga minyak mentah ke level tertinggi dalam 9 bulan terakhir.

    Selain itu, berkiblat pada sejarah, dampak dari situasi geopolitik yang terjadi, biasanya pelaku pasar akan cenderung menghindari resiko dan beralih kepada aset safe haven. Situasi geopolitik tersebut akan memberikan dorongan kepada aset safe haven meski bersifat jangka pendek. Dihubungkan dengan kondisi saat ini, aset safe-haven yang dicari para pelaku pasar meliputi mata uang yen dan pastinya emas.

    Penilaian terhadap emas yang merupakan produk safe-haven rasanya tidak akan pernah berubah meskipun harganya sempat merosot tajam. Jika situasi geopolitik terus memanas maka peluang pergerakan harga emas semakin terbuka lebar. Bahkan emas sempat mencapai kisaran $ 1,390 per tory ons ketika krisis Ukraina-Rusia memanas. Pelaku pasar tidak segan-segan untuk menangkap peluang tersebut dan bersiap-siap melakukan aksi ambil untung jika harga emas mendekati puncaknya. Emas kerap dapat dijadikan investasi aman di saat kondisi krisis. Teorinya, semakin parah situasi, maka semakin tinggi pula daya tarik emas tersebut di mata para pelaku pasar. Namun, saat ini apakah emas menjadi satu-satunya pilihan safe-haven?

    Dollar AS Menjadi Alternatif Pilihan

    Dalam beberapa minggu terakhir, dollar AS menjadi salah satu alternatif mata uang safe-haven oleh para pelaku pasar. Hal ini dikarenakan para pelaku pasar melihat bahwa data-data fundamental AS sudah mulai menunjukkan pemulihan yang signifikan. Puncaknya pada Rabu, tanggal 30 Juli 2014, Biro Analisis Ekonomi AS merilis estimasi riil produk domestik bruto (PDB) AS kuartal II 2014 yang menunjukkan output peningkatan pertumbuhan ekonomi AS pada kisaran 4%. Hal tersebut kian meningkatkan aksi beli dollar AS seiring dengan hasil FOMC meeting kemarin yang memangkas program pembelian obligasi sebesar $ 10 miliar menjadi $ 25 miliar dari US $ 35 miliar.

    Data payrolls AS terakhir tidak melanjutkan trend positif pemulihan ekonomi. Apalagi tingkat pengangguran AS pada bulan Juli 2014 naik menjadi 6,2%. Sektor tenaga kerja sedikitnya telah menghasilkan 200.000 lapangan pekerjaan dalam enam bulan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak tahun 1997.

    Fundamental Global

  • 6Fundamental IndonesiaGARRY ADRIANJUNIOR ANALYST FOREXIMF

    Rupiah:Antara Putusan MK& Isu Geopolitik

    Ketatnya persaingan antara kubu Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta dalam memperebutkan kursi RI-1 masih terus berlangsung hingga saat ini. Meskipun Komisi Pemilihan Umum (KPU) sudah merilis hasil resmi untuk kemenangan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan perbedaan sekitar 8.4 juta suara, namun pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa masih belum mengakui hasil resmi KPU tersebut. Dengan diwarnai aksi walk-out pada proses rekapitulasi suara, kubu Prabowo-Hatta menyampaikan keberatannya ke Mahkamah Konstitusi (MK), yang prosesnya sudah berjalan hingga saat ini. Pembacaan hasil keputusan MK direncanakan akan digelar pada tanggal 21 Agustus 2014. Jika hasil MK dinilai tidak pro-pasar, ada kemungkinan para pelaku pasar akan merepson negatif terhadap rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kemungkinan terburuk, bisa menyebabkan dana asing keluar dari Indonesia alias capital outflow.

    Sementara itu, nilai tukar rupiah masih terpantau melemah sejak awal perdagangan minggu pertama Agustus dan pada hari Jumat tanggal 8 Agustus 2014 berada di kisaran Rp. 11.774 per dollar AS. Hal ini diakibatkan oleh neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juni 2014 yang mengalami defisit sebesar 305,1 j