Skripsi kadar SGOT dan SGPT

  • Published on
    07-Nov-2015

  • View
    113

  • Download
    36

Embed Size (px)

DESCRIPTION

hghv.mmml

Transcript

<p>GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN KADAR SGOT DAN SGPT PADA ANAK EPILEPSI YANG MENDAPAT MONOTERAPI ASAM VALPROAT DI POLIKLINIK ANAK RSUDZA BANDA ACEH</p> <p>SKRIPSI </p> <p>Diajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan memenuhi syarat-syarat guna memperolehgelar Sarjana Kedokteran</p> <p>Oleh:</p> <p>MARKA BELA MONIKANIM: 0907101050043</p> <p>PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTERFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS SYIAH KUALADARUSSALAM BANDA ACEHTAHUN 2013LEMBAR PENGESAHANGAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN KADAR SGOT DAN SGPT PADA ANAK EPILEPSI YANG MENDAPAT MONOTERAPI ASAM VALPROAT DI POLIKLINIK ANAK RSUDZA BANDA ACEH</p> <p>SKRIPSIDiajukan untuk melengkapi tugas-tugas dan Memenuhi syarat-syarat guna memperolehGelar Sarjana Kedokteran</p> <p>Oleh:</p> <p>MARKA BELA MONIKA NIM : 0907101050043Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Syiah KualaBanda Aceh, Maret 2013</p> <p>Dosen Pembimbing I,Dosen Pembimbing II,</p> <p>dr. Anidar, Sp.A dr. Azhari Gani, Sp.PD, KKV, FCIC, FINASIMNIP.140 345 948 NIP. 19631124 199601 1 002</p> <p>Mengetahui: Dekan Fakultas Kedokteran Unsyiah,</p> <p>Dr. dr. Mulyadi, Sp. P (K) NIP. 19620819 199002 1 001</p> <p>Telah lulus Ujian Skripsi pada hari Kamis tanggal 21 Maret 2013ABSTRAKAsam valproat merupakan jenis obat antiepilepsi yang biasa digunakan pada anak-anak. Manajemen terapi epilepsi dapat berlangsung selama 2 tahun atau lebih. Terapi epilepsi yang lama akan menimbulkan efek samping yang merugikan. Salah satu efek samping yang sering dilaporkan adalah gangguan fungsi hati. Pemeriksaan yang dilakukan pada penelitian ini adalah pemeriksaan serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT). Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan cross sectional yang dilakukan di Poliklinik Anak dan bagian Rekam Medik Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 33 sampel dan teknik pengambilan sampel dengan Total Sampling. Pengumpulan data didapatkan dari rekam medik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi hati pasien epilepsi anak yang menggunakan monoterapi asam valproat setelah terapi 6 bulan. Hasil penelitian ini adalah pasien yang terjadi peningkatan kadar SGOT dan SGPT setelah terapi 6 bulan sebesar 20 sampel atau 60,6%, dan semua sampel didapatkan peningkatan kadar SGOT dan SGPT kurang dari 2 kali nilai normal. Didapatkan usia yang paling sering adalah usia 1-5 tahun dan 5-10 tahun yaitu 40,0% (masing-masing 8 sampel) dan didapatkan lama terapi lebih dari 12 bulan yaitu 16 sampel atau 80,0% yang mengalami peningkatan kadar SGOT dan SGPT.</p> <p> Kata Kunci : Epilepsi Anak, terapi setelah 6 bulan, peningkatan kadar SGOT dan SGPT</p> <p>ABSTRACT </p> <p>Valproic acid is an antiepileptic drug that is commonly used in children. Management of epilepsy therapy can last for 2 years or more. Epilepsy therapy time will cause adverse side effects. One of the commonly reported side effects are liver dysfunction. Tests carried out in this study is the examination of serum glutamic oxaloacetic transaminase (SGOT) and serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT). The study was a descriptive cross sectional study conducted at Children's Clinic and the Medical Records Regional General Hospital dr. Zainoel Abidin. The sample in this study amounted to 33 samples and sampling techniques with a total sampling. Data collection was obtained from medical records. This study aims to describe the patient's liver function epileptic children receiving valproic acid monotherapy after 6 months of therapy. The results of this study were patients with an increase in the levels of SGOT and SGPT after 6 months of therapy of 20 samples or 60.6%, and all samples found elevated levels of SGOT and SGPT less than 2 times the normal value. The most frequently obtained age is the age of 1-5 years and 5-10 years is 40.0% (8 samples each) and the duration of therapy gained more than 12 months at 16 samples or 80.0% who had elevated levels of SGOT and SGPT.</p> <p>Keywords: Epilepsy Children, after 6 months of therapy, elevated levels of SGOT and SGPT</p> <p>KATA PENGANTAR</p> <p>Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Shalawat beriring salam penulis sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.Skripsi yang berjudul Gambaran Hasil Pemeriksaan Kadar SGOT dan SGPT Pada Anak Epilepsi yang Mendapat Monoterapi Asam Valproat di Poliklinik Anak RSUZA Banda Aceh dibuat sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan dan memperoleh gelar sarjana (Strata-1) pada Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat banyak bantuan, dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:1. Dr. dr. Mulyadi, Sp.P (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.2. dr. Anidar, Sp.A dan dr. Azhari Gani, Sp.PD, KKV, FCIC, FINASIM selaku dosen pembimbing I dan dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan yang sangat bermanfaat kepada penulis.3. dr. Nova Dian Lestari, Sp.S dan dr. Vivi Keumala Meutiwati, Sp.PK, M.Kes serta dr. Istanul Badiri, MS, Sp.PA selaku dosen penguji I dan penguji II yang telah memberikan banyak saran dan masukan kepada penulis.4. dr. Feriyani, Sp.M selaku dosen wali yang turut membantu dan menuntun penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.5. Staf PBL dan Rumah Sakit Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) yang telah meluangkan waktunya untuk membantu penulis selama penelitian.6. Bapak dan Ibu Dosen pengajar Program Studi Pendidikan Dokter yang telah mengajarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang sangat bermanfaat kepada penulis.7. Ayahanda M. Kasem Ibrahim, SE dan ibunda Marhamah yang selalu memberikan kasih sayang, doa, semangat dan dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.v</p> <p>8. Kakanda tercinta Julianda Syahputra, SE dan adinda M. Rezha, Geuberi Akrama, Regina Sari, dan M. Sultan Michiel yang selalu menyemangati dan mendoakan penulis.9. Teman-teman tersayang, Maryamah, Fitri Rizki Ermalia, Fera Andriani, Nabila Maghfira, Imami Rusli Putri, Khaliza Maulina dan teman-teman seangkatan 2009 FK Unsyiah.10. Seluruh pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan kepada penulis.Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan. Segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan untuk penyempurnaan penelitian ini. Harapan penulis semoga penelitian ini dapat bermanfaat baik bagi penulis maupun orang yang membacanya.</p> <p>Banda Aceh, Maret 2013</p> <p> Penulis</p> <p>vi</p> <p>DAFTAR ISIHalamanHALAMAN JUDULiHALAMAN PENGESAHANiiABSTRAKiiiABSTRACTivKATA PENGANTARvDAFTAR ISIviiDAFTAR TABELixDAFTAR GAMBARxDAFTAR LAMPIRANxi</p> <p>BAB I PENDAHULUAN1 1.1 Latar Belakang1 1.2 Rumusan Masalah4 1.3 Tujuan Penelitian4 1.4 Manfaat Penelitian4 1.4.1 Manfaat Teoritis4 1.4.2 Manfaat Praktis4</p> <p>BAB II TINJAUAN PUSTAKA5 2.1 Epilepsi5 2.1.1 Definisi Epilepsi5 2.1.2 Epidemiologi Epilepsi5 2.1.3 Etiologi Epilepsi6 2.1.4 Klasifikasi Kejang dan Epilepsi6 2.1.5 Patofisiologi Epilepsi9 2.1.6 Diagnosis Epilepsi11 2.1.7 Tatalaksana Epilepsi11 2.2 Terapi Epilepsidengan Asam Valproat13 2.2.1 Indikasi Pemakaian Asam Valproat14 2.2.2 Farmakologi Asam Valproat14 2.2.3 Farmakokinetik Asam Valproat15 2.2.4 Farmakodinamik Asam Valproat 15 2.2.5 Interaksi Obat dan Kontraindikasi Asam Valproat15 2.2.6 Bentuk Sediaan dan Dosis Asam Valproat16 2.2.7 Pemantauan Terapi Asam Valproat16 2.2.8 Efek Samping Asam Valproat16 2.3 Hubungan Gangguan Fungsi Hati dengan asam valproat16 2.4 Pemeriksaan fungsi hati20 2.4.1 Metode Pemeriksaa SGOT dan SGPT.21 2.4.2 Cara Pemeriksaan menurut RSUDZA Banda Aceh21 2.5 Kerangka Teori23</p> <p>BAB III METODE PENELITIAN24 3.1 Jenis dan Desain Penelitian24 3.2 Tempat dan Waktu Penelitian24 3.3 Populasi dan Sampel24 3.3.1 Populasi Penelitian24 3.3.2 Sampel Penelitian24 3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel25 3.4 Instrumen Penelitian26 3.5 Variabel Penelitian26 3.6 Definisi Operasional26 3.7 Teknik Pengumpulan Data26 3.8 Alur Penelitian27 3.9 Analisis Statistik27 3.10 Alur Penelitian27</p> <p>BAB IV HASIL PENELITIAN29 4.1 Hasil Penelitian29 4.1.1 Prevalensi dan Insidensi Epilepsi Anak29 4.1.2 Karakteristik Umum Sampel 29 4.1.3 Karakteristik Khusus Sampel30 4.2 Pembahasan 33 4.3 Kelebihan Penelitian36 4.4 Keterbatasan Penelitian36BAB V PENUTUP38 5.1 Kesimpulan38 5.2 Saran38</p> <p>DAFTAR PUSTAKA40LAMPIRAN45 </p> <p>DAFTAR TABEL HalamanTabel 2.1 Klasifikasi tipe kejang7 Tabel 4.1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian Berdasarkan Usia, Jenis Kelamin dan Lama Terapi30Tabel 4.2 Peningkatan Kadar SGOT dan SGPT Berdasarkan Waktu, Pertama Pemeriksaan dan Setelah lebih 6 Bulan Terapi31Tabel 4.3 Peningkatan kadar SGOT dan SGPT berdasarkan Usia, Jenis Kelamin dan Lama Terapi31Tabel 4.4 Peningkatan Kadar SGOT dan SGPT berdasarkan Karakteristik Subjek Penelitian Umum dan Subjek Penelitian Khusus32Tabel 4.5 Klasifikasi Peningkatan Kadar SGOT dan SGPT33 </p> <p>DAFTAR LAMPIRANHalamanLampiran 1 Lembar Data Sampel45Lampiran 2 Data Rekam Medik Pasien Epilepsi di Poliklinik Anak RSUDZA Banda Aceh 201246Lampiran 3 Surat Izin Penelitian Fakultas Kedokteran 48Lampiran 4 Surat Izin Penelitian RSUDZA Banda Aceh49Lampiran 5 Lembar Konfirmasi Izin Penelitian Ka. SMF Anak RSUDZA Banda Aceh50Lampiran 6 Lembar Konfirmasi Izin Penelitian Ka. Poliklinik Anak RSUDZA Banda Aceh51Lampiran 7 Lembar Konfirmasi Izin Penelitian Ka. Instalasi Rekam Medis RSUDZA Banda Aceh52Lampiran 8 Surat Selesai Penelitian RSUDZA Banda Aceh53Lampiran 9 Perencanaan Jadwal Kegiatan Penelitian54Lampiran 10 Biodata Peneliti55</p> <p>BAB 1PENDAHULUAN</p> <p>1.1Latar BelakangEpilepsi merupakan salah satu penyebab morbiditas terbanyak dibidang saraf anak, yang menimbulkan berbagai permasalahan antara lain kesulitan belajar, gangguan tumbuh-kembang dan menentukan kualitas hidup anak (Major dan Thiele, 2007). Insiden epilepsi di negara maju ditemukan sekitar 50/100.000 jiwa, sementara di negara berkembang mencapai 100/100.000 jiwa. Berdasarkan berbagai studi prevalensi epilepsi di Eropa setidaknya terdapat 0.9 juta dengan prevalensi 4.5-5.0 per 1000 (Forsgren et al., 2005). Hasil pendataan penduduk secara global diketahui bahwa terdapat 3,5 juta kasus baru setiap tahun berdasarkan golongan usia adalah 40% anak-anak, 40% dewasa dan 20% lainnya pada usia lanjut (Word Health Organization, 2009).Setiap tahun terdapat paling sedikit 700.000-1.400.000 kasus epilepsi di Indonesia, dengan pertambahan sebesar 70.000 kasus baru setiap tahun diperkirakan 40%-50% terjadi pada anak-anak. Selama 4 tahun terakhir di Indonesia terdapat epilepsi menurut penyebab terjadinya bangkitan dengan prevalensi 10.1%. Insiden yang terjadi pada laki-laki sedikit lebih tinggi yaitu 56,9%. Paling banyak terjadi pada kelompok umur 1-5 tahun yaitu 42% , dan 46% dijumpai pada umur kurang dari 1 tahun (Suwarba, 2011). Penatalaksanaan epilepsi terdiri dari pemberian obat-obatan dan pembedahan. Tujuan utama terapi epilepsi adalah tercapainya kualitas hidup optimal sesuai dengan perjalanan penyakit epilepsi dan disabilitas fisik yang dimiliki. Tujuan tersebut dapat tercapai dengan beberapa upaya antara lain, menghentikan bangkitan (kejang), mengurangi frekuensi kejang, mencegah timbulnya efek samping, menurunkan angka kesakitan dan kematian serta mencegah timbulnya efek samping dari obat anti epilepsi (OAE) (Lowenstein et al., 2008). Beberapa jenis obat yang sering digunakan dalam terapi epilepsi antara lain: asam valproat, fenobarbital, primidone, klonazepam, diazepam, adrenocorticotropic hormone (ACTH) dan karbamazepin (Gidal dan Garnett, 2005). Asam valproat merupakan pilihan lini pertama untuk terapi kejang umum dan parsial (Lacy, 2009). Asam valproat adalah jenis obat spektrum luas yang biasa digunakan pada anak (Benitez et al., 2010). Manajemen terapi epilepsi dapat berlangsung selama 2 tahun atau lebih (Kustiowati et al., 2012). Lamanya terapi epilepsi akan menimbulkan efek samping yang merugikan (Goldernberg et al., 2010).Sebelum memulai terapi direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan Serum Glutamic Oxaloacetic Trasaminase (SGOT) dan Serum Glutamate Pyruvate Transaminase (SGPT) terlebih dahulu. Pemeriksaan fungsi hati seperti SGOT dan SGPT biasa dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pada hati. (Attilakos et al., 2006). Salah satu efek samping yang sering dilaporkan oleh beberapa penelitian adalah gangguan fungsi hati, seperti peningkatan aktivitas enzim-enzim hati dan sesekali terjadi nekrosis hati yang sering berakibat fatal. Gangguan funsi hati yang diakibatkan oleh asam valproat biasanya timbul setelah 6 bulan terapi (Engel, 2008). Risiko terbesar terjadi pada anak usia kurang dari 2 tahun dan menggunakan politerapi epilepsi (Katzung et al., 2010). Mekanisme terjadi gangguan fungsi hati karena asam valproat mengakibatkan gangguan pada mitokondria dan menghambat beta-oksidasi menyebabkan reaksi perlemakan hati (Suchy et al., 2007). Efek samping asam valproat yang lain adalah gejala gastrointestinal, seperti anoreksia, mual dan muntah, efek samping idiosinkratik berupa ruam kulit, gagal hati akut, pankreatitis akut dan diskrasia darah (trombositopenia, anemia dan leukopenia). Gejala intoksikasi berupa mengantuk, vertigo dan perubahan prilaku. Efek pemberian kronik adalah perubahan prilaku, tremor, hiperamonia, bertambahnya berat badan dan rambut rontok (Engel, 2008). Adanya gangguan fungsi hati yang terjadi selama terapi harus menjadi perhatian dokter yang merawat pasien epilepsi, karena hal ini dapat memicu terjadinya berbagai masalah penyakit hati yang berbahaya, seperti nekrosis hati, hepatitis kronik, perlemakan hati, infark miokad dan sebagainya (Attilakos et al., 2006). Penelitian oleh Attilakos et al (2006) tentang efek monoterapi asam valproat terhadap konsentrasi a...</p>