SNAPSHOT STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK ?· STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF i ...…

  • Published on
    06-Mar-2019

  • View
    215

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

i

STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF

i

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

ii

STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF

ii

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

1

STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF

1

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

KATA PENGANTAR

Kami bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat-Nya yang senantiasa mengiringi kami

selama penyusunan laporan Snapshot Citra Merek Produk Kreatif ini dan juga selama penelitian

yang kami lakukan yang bermuara pada laporan ini. Laporan ini merangkum dan menggambarkan

hasil penggalian dan pengolahan informasi dan data yang kami peroleh dari berbagai sumber

mengenai pengembangan citra merek produk kreatif. Informasi dan data tersebut telah kami

gali melalui Focus Group Discussion (FGD) dengan pelaku UMKM industri kreatif, wawancara

mendalam dengan lembaga pemerintah daerah yang terkait dengan industri dan ekonomi kreatif,

serta hasil survei konsumen produk kreatif.

Kami berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung dan membantu kami selama

penelitian dan penyusunan laporan ini, terutama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), pemerintah

daerah, pelaku industri kreatif, dan responden survei konsumen yang tersebar di berbagai wilayah

Indonesia. Kami membuka pintu untuk saran dan kritik sebagai bahan perbaikan kekurangan yang

ada dalam penelitian dan laporan ini agar kami dapat berkontribusi lebih baik dalam penelitian

serupa tentang industri kreatif di masa yang akan datang. Semoga laporan ini dapat bermanfaat

bagi pembaca dan juga bermanfaat jangka panjang dalam pengembangan ekonomi dan industri

kreatif nasional.

Jakarta, September 2017

Penyusun

2

STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF

2

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

Daftar Isi

KATA PENGANTAR

TIM PENYUSUN

PENDAHULUAN

STRATEGI PENGEMBANGAN

CITRA MEREK PRODUK KREATIF:

SEBUAH URGENSI

9

1

20

6 10

5

29

23

24

26

27

LANDASAN TEORI

KUPANG

PALEMBANG

JAKARTA

MAKASSAR

AMBON

33

34

36

38

41

MEMBANGUN IDENTITAS MENUJU CITRA INDUSTRI KREATIF

METODOLOGI PENELITIAN

KARAKTERISTIK INDUSTRI KREATIF

INDUSTRI KREATIF DI INDONESIA

CITRA MEREK

UMKM DAN CITRA MEREK

13

14

16

18

DESAIN PENELITIAN

PENGUMPULAN DATA

PENGOLAHAN DATA

KETERBATASAN PENELITIAN

MANADO

SEMARANG

SURABAYA

MEDAN

BANDUNG

43

44

47

49

50

3

STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF

3

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

KESIMPULAN

PENUTUP

82

84

52

SEKTOR KULINER

SEKTOR KRIYA

SEKTOR FASHION

SEKTOR MUSIK

SEKTOR ANIMASI

SEKTOR APLIKASI

54

57

59

61

63

65

MEMAHAMI CITRA MEREK PRODUK KREATIF DI MATA KONSUMEN

68 KENDALA PELAKU INDUSTRI DAN HARAPAN PEMERINTAH

KUPANG

PALEMBANG

JAKARTA

MAKASSAR

AMBON

MANADO

SEMARANG

SURABAYA

MEDAN

BANDUNG

70

71

73

74

75

76

77

78

79

80

4

STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF

4

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

5

STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF

5

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

PEREKAYASA UTAMA 1

Prof. Agus W. Soehadi, Ph.D.

Dr. Fathony Rahman

PEREKAYASA UTAMA 2

Dr. Zaki Saldi

Stevanus Wisnu Wijaya, Ph.D.

PENGARAH

Rektor Universitas Prasetiya Mulya

Prof. Dr. Djisman S. Simanjuntak

GRAFIK DAN LAYOUT Firdaus

Detty Sathia

PEMBANTU PENELITI

Fitriana Nurindah Kusumadewi

Gregorius Dimas Hapsoro

Leli Ira Novita

Risqa Tsania

Yohana Desi

Fanni Dyah Anggraini

PEREKAYASA MADYA

Fredy Utama, MM.

Hanesman Alkhair, MM.

Joklan Imelda Goni, MM.

Arief Budiman, M.Si.

Donil Beywiyarno, S.E., M.Com (Extn)

PEREKAYASA MUDA

Muhamad Ridwan

Chevy Andhika Putra

Annanias Shinta Dewi

Tim Penyusun

Universitas Prasetiya Mulya

Undergraduate Program - BSD Campus

Jl. BSD Raya Utama, BSD City, Serpong, Tangerang , Indonesia 15820

P +62-21-304-50-500 ext 2126 / F +62-21-304-50-555 / W www.prasetiyamulya.ac.id

Graduate Program | Business School - Cilandak Campus

JL. R. A. Kartini (TB Simatupang), Cilandak Barat. Jakarta Selatan, Indonesia 12430

P +62-21-751-1126 | F +62-21-751-1128 | W www.pmbs.ac.id

6

STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF

6

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

PE

ND

AH

UL

UA

N

7

STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF

7

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF: SEBUAH URGENSI 9

9

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

Pada tahun 2008, Kementerian Perdagangan RI

menerbitkan buku Pengembangan Ekonomi Kreatif

Indonesia 2025 sebagai publikasi visi pemerintah

dalam mengembangkan industri kreatif nasional yang

berkontribusi secara signifikan terhadap kemajuan bangsa

(Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia tahun 2025,

2008). Instruksi Presiden RI nomor 6 tahun 2009 tentang

Pengembangan Ekonomi Kreatif mempertegas komitmen

pemerintah dalam memperkuat sektor ini. Sebagai

kelanjutan agenda tersebut, pemerintah menjadikan

pengelolaan ekonomi kreatif sebagai tugas lembaga

kementerian, yaitu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi

Kreatif, yang merupakan bagian dari Kabinet Indonesia

Bersatu II (2011- 2014).

Dalam rentang 20082015, dapat dikatakan bahwa

istilah industri kreatif di Indonesia menjadi semakin

populer seiring dengan semakin kuatnya sektor ini dalam

menggerakkan roda perekonomian nasional. Rata-rata

kontribusi industri kreatif di Indonesia untuk tahun 2010-

2013 adalah 7,13% dari total PDB (Zulaikha, 2016). Sektor

ini juga telah didukung oleh tenaga kerja sebesar sekitar

11,8 juta jiwa di tahun 2012 yang meningkat sampai 15,9

juta jiwa di tahun 2015 (Rusiawan et al., 2017; Zulaikha,

2016). Sebagai kulminasi komitmen dan visi pemerintah

dalam mengawal terus berkembangnya sektor ini dengan

beragam potensinya, Presiden RI mendelegasikan

pengelolaan ekonomi kreatif nasional yang lebih terfokus

dan strategis kepada Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf)

yang terbentuk pada tahun 2015.Sejak pembentukannya,

Bekraf dengan program dan kebijakannya telah menaungi

aktivitas pengembangan industri kreatif nasional yang

mengakomodasi pelaku industri kreatif di tanah air.

Karakter kewirausahaan sangat kental dalam sektor

yang berbasis ide-ide kreatif, originalitas, dan inovasi ini,

sehingga tidak mengherankan bahwa banyak pelaku

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang

berkecimpung di industri kreatif. Wirausahawan MKM

industri kreatif, layaknya juga di sektor-sektor non-kreatif,

memiliki banyak tantangan dalam mengembangkan

usahanya. Hal ini secara bertahap telah diidentifikasi oleh

Pengembangan Citra Merek Produk Kreatif: Sebuah Urgensi

Bekraf dalam berbagai forum interaksi dan komunikasi.

Salah satu tantangan yang dihadapi UMKM kreatif adalah

pembentukan dan pengembangan identitas dan citra

merek (brand image). Citra merek memainkan peranan

penting dalam keberlangsungan sebuah usaha, terlepas

dari sektor usaha yang dilakukan kreatif atau non-kreatif,

maupun skala usaha MKM atau besar. Penyampaian

pesan sebuah produk dan aktivitas untuk meningkatkan

penjualan selalu berakar dari penciptaan identitas dan

citra merek dan bagaimana mengelolanya.

Di satu sisi, langkah-langkah strategis dalam

pengembangan citra merek telah lazim dilakukan oleh

perusahaan besar yang telah memiliki sumber daya yang

memadai, misalnya dengan pendekatan Strategic Brand

Management (SBM). Di sisi lainnya, pada tingkatan MKM,

pengembangan citra merek bukanlah hal yang lumrah

dilakukan atau menjadi agenda penting, mengingat

keterbatasan sumber daya yang dimiliki UMKM dan

karakteristik pembeda lainnya.

Bekraf melihat potensi peningkatan penjualan produk

serta nilai usaha yang cukup menjanjikan dari sektor

kreatif. Hal ini didasari oleh sumbangsih UMKM kreatif

di tanah air terhadap PDB sebesar Rp852,24 Triliun

dan penyerapan 15,9 juta tenaga kerja pada tahun 2015

(Rusiawan et al., 2017). Dengan usaha pengembangan citra

merek produk kreatif secara tepat oleh para pelaku UMKM

tersebut, sektor ini dapat berkembang secara optimal dan

berkontribusi terhadap perekonomian nasional secara

lebih signifikan. Berangkat dari pemikiran tersebut, serta

minimnya studi pengembangan citra merek produk

UMKM kreatif di Indonesia, laporan ini bertujuan untuk

menambah wawasan masyarakat luas tentang bagaimana

pelaku industri kreatif (UMKM) mengembangkan citra

merek produknya, serta hambatan dan peluang apa saja

yang dapat teridentifikasi.

10

STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF

10

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

LA

ND

AS

AN

TE

OR

I

11

STRATEGI PENGEMBANGAN CITRA MEREK PRODUK KREATIF

11

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

KARAKTERISTIK INDUSTRI KREATIF

INDUSTRI KREATIF DI INDONESIA

CITRA MEREK

UMKM DAN CITRA MEREK

13

14

16

18

12

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

13

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

INDUSTRI KREATIF

Pemerintah Inggris melalui Department of Culture, Media,

and Sport (DCMS) dapat dikatakan sebagai pencetus

pertama istilah industri kreatif. Istilah ini muncul untuk

merepresentasikan tiga belas sektor usaha yang berbasis

kreativitas, keterampilan dan bakat individual, serta yang

memiliki potensi komersial dan menciptakan lapangan

kerja melalui penciptaan dan eksploitasi kekayaan

intelektual. Sektor-sektor tersebut adalah: (1) arsitektur,

(2) desain, (3) fashion (mode, busana), (4) film dan video,

(5) kerajinan, (6) layanan perangkat lunak dan komputer,

(7) musik, (8) pasar barang seni atau barang antik, (9)

penerbitan, (10) perangkat lunak hiburan interaktif, (11)

periklanan, (12) pertunjukan seni, dan (13) televisi dan

radio (DCMS, 1998).

Dalam kerangka DCMS ini, industri kreatif dapat

diidentifikasi melalui beberapa karakteristik utama.

Pertama, industri tersebut memiliki misi untuk

menghasilkan gagasan baru dalam produk atau layanan

yang ditawarkan secara berkelanjutan. Kedua, industri

tersebut berfokus pada nilai orisinalitas dan keunikan

sehingga membutuhkan perlindungan kekayaan

intelektual. Terakhir, industri ini secara umum memiliki

keterkaitan kuat dengan teknologi sehingga tercapai

nilai orisinalitas dari proses kreatifnya (Banks & OConnor,

2009; Galloway & Dunlop, 2007; Garnham, 2005;

OConnor, 2009).

Seperti yang diperkenalkan oleh DCMS, gagasan

mengenai industri kreatif ini awalnya didasari oleh

fenomena yang ditemukan di negara maju, khususnya

Amerika Utara, Eropa, dan Australia. Namun, belum ada

definisi yang jelas sejauh mana pemahaman terhadap

fenomena industri kreatif di negara maju tersebut dapat

diterapkan untuk konteks yang berbeda. Fahmi, McCann,

and Koster (2015) berpendapat bahwa kemungkinan

terdapat pola yang berbeda antara karakteristik industri

kreatif di negara maju dan di negara berkembang.

Perbedaan ini dapat berdampak pada ketidakcocokan

penerapan kebijakan yang berkaitan dengan industri

kreatif dari negara maju di negara berkembang. Pendapat

tentang ketidakcocokan ini diperkuat oleh temuan

empiris yang menyatakan bahwa elemen sosial, politik,

dan ekonomi secara regional berpengaruh terhadap

tingkat kreativitas dan perilaku kewirausahaan di suatu

wilayah, yang bermuara pada perkembangan industri

kreatif (Clare, 2012; Florida, 2002; Lee, Florida, & Acs,

2004).

Di negara berkembang, khususnya di Asia, ada banyak

sektor kreatif yang masih memegang teguh nilai warisan

turun-menurun yang dipertahankan. Hal tersebut

sering kali menjadi nilai jual yang unik. Di sisi lain, inovasi

pengetahuan, orisinalitas dan teknologi belum menjadi

nilai utama (Kong, Gibson, Khoo, & Semple, 2006;

OConnor, 2015; OConnor & Xin, 2006).

Hal ini menggambarkan polarisasi pemahaman industri

kreatif di negara berkembang menjadi; (1) industri budaya

dan tradisional. Istilah ini mewakili kelompok industri

yang menghasilkan produk yang memiliki atribut makna

simbolis yang berakar pada nilai nilai budaya lokal dan

dikembangkan berdasarkan kekayaan intelektual yang

berakar pada budaya tradisional. (Banks & OConnor,

2009; Galloway & Dunlop, 2007; OConnor, 2000;

OConnor, 2009). (2) Industri kreatif berbasis inovasi

dengan memanfaatkan teknologi media baru. Adapun

kelompok industri ini cenderung mengembangkan

inovasi produk dengan memanfaatkan teknologi media

baru. Implikasi utama dari kelompok industri ini adalah

perlunya legalitas hak cipta sebagai syarat keberlanjutan

usaha kelompok industri ini. Contoh dari kelompok

industri ini adalah perfilman, aplikasi & permainan,

animasi, dan yang lainnya (UNDP, 2013).

Fahmi et al. (2015) melihat bahwa kedua kelompok industri

kreatif di atas berkembang di Indonesia karena didukung

oleh faktor faktor penopang yang berbeda. Industri

budaya tradiosional dipengaruhi oleh faktor penopang

budaya lokal yang kuat misalnya dareah Bali, Yogyakarta,

dan Surakarta. Sedangkan industri kreatif berbasiskan

inovasi teknologi berkembang diwilayah yang secara

geographis dapat menyedikaan infrastruktur media baru,

dan ketersediaan SDM yang mampu berinovasi dengan

media baru seperti Jakarta dan Bandung.

Karakteristik Industri Kreatif

14

SNAPSHOT CITRA MEREK PRODUK KREATIF

Industri kreatif di Indonesia memberikan kontribusi

sebesar 7,38% terhadap total perekonomian nasional, dan

mengalami kenaikan 4,38% dari Rp 784,82 Trilliun pada

tahun 2014 menjadi Rp 852,24 Trilliun pada tahun 2015.

Tiga subsektor yang berkontribusi paling tinggi terhadap

PDB adalah kuliner, fashion, dan kriya, masing-masing

sebesar 41,69%, 18,15%, dan 15,7% (Rusiawan et al., 2017).

Industri kreatif Indonesia memasok sekitar 10% ekspor

nasional, sedangkan nilai impor industri ini hanya 1%.

Nilai ekspor industri kreatif yang 10 kali lipat lebih tinggi

daripada nilai impornya menunjukkan bahwa produk

industri kreatif Indonesia memiliki keunggulan kompetitif

di pasar global. Fakta ini juga menjelaskan bahwa industri

kreatif Indonesia memiliki tingkat ketergantungan

impor yang kecil sehingga memiliki kesempatan untuk

terus berekspansi dan menguasai pasar dalam negeri

(Simarmata & Adiwidjaja, 2011).

Industri kreatif nasion...

Recommended

View more >