Solusi Dari Bumn.unlocked

  • Published on
    07-Nov-2015

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Solusi Kasus PSAK 24

Transcript

<p>BAB 4ANALISIS PENCADANGAN BIAYA PESANGON DI PT. PGN (Persero) Tbk.</p> <p>4.1. Perhitungan Kewajiban Pencadangan Biaya Pesangon</p> <p>4.1.1. Perhitungan Kewajiban Pencadangan Pesangon Menurut Aktuaris</p> <p>Perhitungan imbalan kerja oleh aktuaris dilakukan berdasarkan ketentuan dalam PSAK 24 (revisi 2004) tentang Imbalan Kerja. Aktuaris yang melakukan perhitungan imbalan kerja PT . Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Adalah PT Sienco Aktuarindo Utama. Valuasi aktuaria dilakukan dengan menggunakan data karyawan aktif per 31 Desember 2008, data karyawan yang berhenti bekerja selama periode 1 Januari 2008 sampai dengan 31 Desember 2008, serta menggunakan berbagai asumsi dan prinsip aktuaria yang wajar dan layak digunakan di Indonesia dan telah disepakati oleh kedua belah pihak. Imbalan kerja yang ada di perusahaan yang menjadi dasar valuasi oleh aktuaris adalah sebagai berikut :Tabel 4.1 Imbalan Pasca Kerja menurut Peraturan Perusahaan</p> <p>No.Sebab PHKImbalan Pasca Kerja</p> <p>1PensiunFaktor Penghargaan x Masa Kerja x UpahDasar</p> <p>2Pekerja meninggal dunia2,5 x Masa Kerja x Upah Dasar</p> <p>3</p> <p>4Cacat atau sakit yang menyebabkan tidak dapat bekerja2,5 x Masa Kerja x Upah Dasar</p> <p>Mengundurkan diri atas permintaan sendiri0,35 x Masa Kerja x Upah Dasar</p> <p>Sumber : Peraturan Perusahaan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk.</p> <p>Data yang diproses berdasarkan data karyawan aktif sebanyak 1.386 orang dan karyawan berhenti bekerja selama tahun 2008 sebanyak 43 orang. Pergerakan data karyawan per 31 desember 2008 dibandingkan dengan data per 31 Desember2007 adalah sebagai berikut :</p> <p>Data per 31 Desember 2007 1.387 Orang</p> <p>+ Karyawan Baru 42 Orang</p> <p>- Karyawan Keluar (43) Orang</p> <p>= Data per 31 Desember 2008 1.386 Orang</p> <p>38 Universitas Indonesia</p> <p>Analisis pencadangan biaya ..., Leli Mulyani, FISIP UI, 2009</p> <p>Asumsi-asumsi yang digunakan dalam perhitungan aktuaris adalah :</p> <p>1. Asumsi Ekonomis yang terdiri dari :</p> <p>a. Tingkat Diskonto</p> <p>Tingkat diskonto yang digunakan adalah 12% per tahun. Asumsi tersebut ditetapkan berdasarkan tingkat bunga (yield) obligasi pemerintah dengan jatuh tempo sesuai perkiraan sisa masa kerja rata-rata pekerja yang diperoleh dari Tabel Indonesia Goverment Securities Yield Curve (IGSYC) tanggal 31Desember 2008 yang dikeluarkan oleh Bursa Efek Indonesia.</p> <p>b. Tingkat Kenaikan Upah</p> <p>Rata-rata kenikan upah PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk., selama 2 tahun terakhir adalah sebesar 25,29% per tahun. Asumsi kenaikan upah 10% per tahun merupakan hasil diskusi dengan manajemen PT. Perusahaan Gas negara (Persero) Tbk., tentang proyeksi kenaikan upah rata-rata selama sisa masa kerja rata-rata pekerja yang diharapkan2. Asumsi Demografis, yang terdiri dari :</p> <p>a. Tingkat kematian :</p> <p>Mengacu kepada Tabel mortalita dari The Commissioners 1980 Standard Ordinary Mortality (CSO 80) dimana tabel tersebut memiliki angka pengharapan hidup (Life Expectancy) untuk usia 0 tahun adalah 69,50 tahun, sehingga tabel tersebut masih sesuai dengan kondisi demografi di Indonesia.b. Tingkat cacat</p> <p>Tingkat cacat ditentukan sebesar 1% dari tingkat kematian dari usia 20 tahun hingga usia 54 tahunc. Tingkat pengunduran diri atas permintaan sendiri</p> <p>Asumsi tingkat pengunduran diri selama 2 tahun terakhir rata-rata adalah sebesar 1,81% dari umlah pekerja aktif. Tingkat pengunduran diri cenderung menurun seiring bertambahnya usia pekerjaBerdasarkan PSAK 24 (revisi 2004) beban imbalan kerja berdasarkan undang- undangan ketenagakerjaan ditentukan dengan metode penilaian aktuaris projectedunit credit yang menganggap setiap periode jasa akan menghasilkan satu unit</p> <p>39Universitas Indonesia</p> <p>tambahan imbalan. Perhitungan dilakukan dengan membagi secara prorata imbalan yang diakru sesuai tahun jasa. Ilustrasi perhitungan dengan metode projected unit credit adalah sebagai berikut :ContohPensiun 56.00 tahun Usia 2008 35.00 tahun Usia Masuk Kerja 31.00 tahun Masa Kerja s.d 2008 4.00 tahun Total masa kerja 25.00 tahun Masa Kerja yad 21.00 tahun</p> <p>Asumsi :Salary increase 10.00% Discount rate 12.00% Disability rate 1.00%</p> <p>Gaji saat Pensiun = Gaji Tahun 2008 x (1+10%) (56-35)=2,698,500x(1.1) 21</p> <p>=2,698,500x7.40</p> <p>=19,969,574.47</p> <p>TAMB = Upah Dasar x Masa Kerja x Faktor Penghargaan=19,969,574.47x25 x 2,5</p> <p>=1,248,098,404.66</p> <p>Satuan Unit Manfaat (SUM) = TAMB / Masa Kerja= 1,248,098,404.66 / 2549,923,936.19</p> <p>Biaya Jasa Kini = SUM x Present Value x Probability49,923,936.19 x 0.08264 x 0.814763,361,569.55</p> <p>Saldo Awal Kewajiban = Biaya Jasa Kini x (34-31)=3,361,569.55x 3</p> <p>=10,084,708.65</p> <p>40Universitas Indonesia</p> <p>Biaya Bunga = 12% x (3.361.569,55+10.084.708,65)= 1,613,553.38</p> <p>Perhitungan aktuaris dengan metode Projected Unit Credit dan penggunaan asumsi-asumsi tersebut diatas menimbulkan kewajiban imbalan pasca kerja yang harus diakui dalam laba rugi perusahaan. Perhitungan imbalan kerja untuk periode2007-2008 PT. Perusahaan Gas Negara (persero) Tbk. adalah seperti terlihat dalam tabel berikut ini :Tabel.4.2 Biaya Imbalan Kerja Menurut Aktuaris</p> <p>Keterangan31 Desember 200831 Desember 2007</p> <p>Biaya Jasa KiniBiaya BungaHasil yang diharapkan dari Aktiva Program Amortisasi Biaya Jasa Lalu Vested Amortisasi Biaya Jasa Lalu Non VestedKeuntungan/(Kerugian) Aktuaria yang diakuiEfek Kurtailment dan Penyelesaian Program20,966,691,515.0023,334,531,251.00-5,771,781,907.0023,899,409,778.001,484,028,961.00-16,249,389,018.0018,342,408,870.00--18,898,522,741.00--</p> <p>Beban Imbalan Kerja dalam laporan Laba Rugi75,456,443,412.0053,490,320,629.00</p> <p>Sumber :Laporan Aktuaris No. 013/LA-IK/SAU/01-2009 Valuasi Imbalan Kerja PT. Perusahaan GasNegara (Persero) Tbk. per 31 Desember 2008</p> <p>Untuk mencatat kewajiban tersebut, Beban tahun berjalan tersebut akan dikurangi dengan pembayaran manfaat dan ditambahkan dengan kewajiban lainnya sehingga nilai yang harus muncul dalam neraca menurut hitungan aktuaris adalah seperti terlihat dalam tabel berikut ini :Tabel.4.3 Total Kewajiban Imbalan Kerja Menurut Aktuaris</p> <p>Keterangan31 Desember 200831 Desember 2007</p> <p>Kewajiban yang diakui awal periode+ Biaya (Perndapatan) periode berjalan- Pembayaran Manfaat111,001,566,548.0075,456,443,412.00 (20,175,366,481.00)71,450,289,255.0053,490,320,629.00 (13,939,043,335.00)</p> <p>Kewajiban yang diakui akhir periode166,282,643,479.00111,001,566,549.00</p> <p>Kewajiban lainnya akhir periode15,584,068,550.0010,524,464,611.00</p> <p>Total Kewajiban yang diakui akhir periode181,866,712,029.00121,526,031,160.00</p> <p>Sumber :Laporan Aktuaris No. 013/LA-IK/SAU/01-2009 Valuasi Imbalan Kerja PT. Perusahaan GasNegara (Persero) Tbk. per 31 Desember 2008</p> <p>Universitas Indonesia</p> <p>4.1.2. Perhitungan Kewajiban Pencadangan Pesangon Menurut Akuntansi</p> <p>Imbalan pasca kerja yang tidak didanai melalui Dana Pensiun ataupun asuransi, dibukukan oleh perusahaan dengan membebankan beban imbalan kerja (employee benefit) dan mengakui kewajiban imbalan kerja (employee benefit obligations). Pencatatan akuntansi perusahaan atas imbalan pasca kerja tanpa pendanaan (Unfunded) dicatat dalam akun Tunjangan Akhir Masa Bakti (TAMB). Menurut Pedoman Akuntansi perusahaan Tunjangan akhir masa bakti (TAMB) merupakan pengeluaran perusahaan berupa pemberian uang kepada pekerja yang pensiun yang besarannya berdasarkan masa kerja yang bersangkutan. Selain itu perusahaan mengenal pula istilah pesangon yang merupakan pengeluaran perusahaan berupa pemberian uang kepada pekerja yang berstatus PKWTT dan PKWT, yang diputus hubungan kerjanya oleh perusahaan yang besarannya berdasarkan masa kerja yang bersangkutan.Perusahaan membedakan pencatatan pesangon untuk pekerja yang berstatus pekerja tetap dengan yang tidak tetap (PKWTT dan PKWT). PKWTT adalah Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu sedangkan PKWT adalah Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. Menurut peraturan ketenagakerjaan, jenis perjanjian kerja terdiri dari dua jenis yaitu PKWT dan PKWTT. Pekerja Tetap sebenarnya termasuk ke dalam kelompok PKWTT mengingat masa kerja tidak ditentukan dan hanya akan berakhir pada saat pekerja tersebut memasuki masa pensiun atau sebab-sebab lainnya sedangkan PKWT masa perjanjian kerja ditentukan dalam kontrak kerja untuk jangka waktu yang telah ditetapkan misalnya setahun.Pada saat penyusunan pedoman akuntansi istilah tenaga kerja yang dipergunakan masih menganggap pekerja tetap ke dalam kelompok tersendiri yang terpisah dari PKWTT sehingga pengertian Tunjangan Akhir Masa Bakti (TAMB) menggunakan istilah pekerja karena diperuntukkan bagi pekerja tetap sedangkan Pesangon menggunakan istilah PKWTT dan PKWT karena diperuntukkan bagi pekerja tidak tetap. Sekarang ini perusahaan mulai mengubah persepsi untuk penggunaan istilah tersebut karena menurut Undang-undang ketenagakerjaan hanyadikenal istilah PKWTT dan PKWT dimana pekerja tetap termasuk ke dalam</p> <p>Universitas Indonesia</p> <p>kelompok PKWTT karena jangka waktu perjanjian kerja tidak ditentukan. Pengertian pesangon dalam perusahaan berbeda dengan pengertian Pesangon menurut UU No.13 tentang ketenagakerjaan. Untuk pembahasan selanjutnya istilah pesangon yang dimaksud adalah pesangon menurut UU tenaga kerja yang diistilahkan oleh perusahaan sebagai Penghargaan Purna Bakti (PPB) dan dicatat dalam laporan keuangan sebagai Tunjangan Akhir Masa Bakti (TAMB).Perhitungan kewajiban imbalan kerja sesuai pedoman akuntansi yang berlaku di perusahaan, ditentukan bahwa Biaya jasa kini diakui sebagai beban pada periode berjalan. Biaya jasa lalu dan dampak perubahan asumsi bagi peserta pensiun yang masih aktif diamortisasi selama estimasi sisa masa kerja rata-rata pekerja sebagaimana ditentukan oleh aktuaris. Menurut PSAK 24, beban jasa masa lalu yang berkaitan dengan manfaat pensiun bagi para pensiunan harus langsung dibebankan ke biaya pada saat terjadinya.Pembebanan imbalan pasca kerja sesuai PSAK 24 (revisi 2004) dilakukan setiap tahun dengan jurnal sebagai berikut :Biaya Tunjangan Akhir Masa Bakti (TAMB) XXX</p> <p>Biaya Yang Masih Harus Dibayar XXX</p> <p>Tunjangan Akhir Masa Bakti (TAMB) tersebut merupakan salah satu elemen beban pekerja dengan kode elemen biaya 116 yang akan muncul dalam laporan laba rugi perusahaan sedangkan Akun Biaya yang Masih Harus Dibayar memiliki kode akun 40401 yang akan termasuk ke dalam neraca di kelompok hutang. Penambahan biaya dalam akun biaya TAMB tentunya akan mengurangi laba atau menambah rugi dalam laporan keuangan komersial. Adapun elemen-elemen Biaya Pekerja di PT.Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk adalah sebagai berikut :</p> <p>Universitas Indonesia</p> <p>Tabel. 4.4 Beban Pekerja dalam Laporan Keuangan Perusahaan</p> <p>KODE AKUNURAIAN AKUN</p> <p>100BEBAN PEKERJA</p> <p>101Upah Pokok</p> <p>102Upah</p> <p>103Lembur</p> <p>104PPh pasal 21 Beban Perusahaan</p> <p>105Jamsostek</p> <p>106Bonus</p> <p>107Tunjangan Jabatan</p> <p>108Tunjangan Umum</p> <p>109Tunjangan Cuti</p> <p>110Tunjangan Keagamaan</p> <p>111Bantuan Transport</p> <p>112Dana Pensiun Lembaga Keuangan</p> <p>113Tunjangan Insentif Prestasi</p> <p>114Perawatan Kesehatan</p> <p>115Tunjangan Kesetiaan Kerja</p> <p>116Tunjangan Akhir Masa Bakti</p> <p>117Ganti Rugi (Vergoeding) Rumah Dinas/Jabatan</p> <p>118Gaji Direksi dan Komisaris</p> <p>119Honorarium Komite Audit</p> <p>120Pesangon</p> <p>121Santunan Purna Jabatan Direksi</p> <p>122Tunjangan Purna Jabatan Komisaris</p> <p>123Tunjangan Kesukaran</p> <p>Sumber : Pedoman Akuntansi PT. Perusahaan Gas Negara Persero Tbk.</p> <p>Dalam tabel di atas terlihat bahwa Beban Tunjangan Akhir Masa Bakti (TAMB) Pekerja menjadi salah satu komponen dalam biaya pekerja yang akan mempengaruhi besarnya biaya operasi. Pada akhirnya beban operasi akan mempengaruhi laba rugi perusahaan pada tahun berjalan. Biaya TAMB pada tahun2008 adalah sebesar Rp. 69.920.408.657 yang sudah mencakup pencadangan biaya menurut perhitungan aktuaris maupun realisasi biaya yang terjadi pada tahunberjalan.</p> <p>Universitas Indonesia</p> <p>Menurut Manager akuntansi perusahaan, pembebanan dilakukan untuk setiap tahun dengan berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan oleh aktuaris. Bagian akuntansi sendiri tidak mengetahui secara pasti mengenai tata cara perhitungan yang dilakukan aktuaris akan tetapi mereka menganggap jumlah tersebut benar dan dapat dijadikan sebagai dasar pencatatan mengingat aktuaris adalah lembaga yang independent dan profesional dalam melakukan penilaian (Wawancara, tanggal 30 Mei2009). Nilai yang dicatat adalah sebesar selisih antara angka beban imbalan kerja tahun berjalan dengan pembayaran manfaat menurut perhitungan aktuaris....jumlah yang menjadi beban tahun berjalan sesuai hitungan aktuaris diselisihkan dengan jumlah pembayaran manfaat dan dicatat dalam elemen biaya Tunjangan Akhir Masa Bakti (TAMB). Jurnalnya TAMB pada Biaya yang masih harus dibayar (Wawancara dengan Staf Akuntansi, tanggal 11Mei 2009)</p> <p>Perhitungan jumlah biaya yang dilakukan aktuaris akan mempengaruhi jumlah laba atau rugi perusahaan karena perbedaan asumsi-asumsi yang dipakai oleh aktuaris akan mempengaruhi perhitungan. Perhatian yang kurang terhadap asumsi yang digunakan maupun hasil perhitungan aktuaris akan mempengaruhi kondisi laba rugi perusahaan.Bagian akuntansi perusahaan menggunakan data perhitungan aktuaris tersebut untuk melakukan penjurnalan. Jurnal yang dibuat adalah sebagai berikut :Biaya Tunjangan Akhir Masa Bakti (TAMB) Rp. 60.340.680.870,00</p> <p>Biaya yang Masih Harus Dibayar Rp. 60.340.680.870,00</p> <p>Nilai tersebut diperoleh dari beban imbalan kerja periode berjalan sebesar Rp.75.456.443.412,00 ditambahkan dengan penambahan kewajiban lainnnya pada akhir periode sebesar Rp.5.059.603.939,00 (RP .15.584.068.550,00 Rp.10.524.464.611,00) dikurangi dengan pembayaran manfaat dalam tahun berjalan sebesar Rp. 20.175.366.481,00. Penambahan imbalan kerja bersih yang terjadi pada tahun 2008 sesuai dengan perhitungan aktuaris yaitu Rp. 181.866.712.029,00 dikurangi dengan kewajiban tahun lalu...</p>