Somatoform Disorder

  • Published on
    03-Aug-2015

  • View
    173

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

<p>REFERAT</p> <p>GANGGUAN SOMATOFORM</p> <p>PEMBIMBING: dr. Soehendro, Sp.KJ</p> <p>Disusun Oleh: Andi Diyanti Y.S. [07120070050]</p> <p>KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA RUMAH SAKIT BHAYANGKARA I KRAMAT JATI JAKARTA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPANMaret 2011</p> <p>Referat Gangguan Somatoform 2011KATA PENGANTAR</p> <p>Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Gangguan Somatoform. Referat ini disusun untuk memenuhi syarat dalam kepaniteraan di bagian Ilmu Kedokteran Kesehatan Jiwa RS Bhayangkara. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih sebesarbesarnya kepada: 1) dr. Soehendro, Sp.KJ selaku pembimbing dalam penulisan referat ini sehingga dapat diselesaikan dengan baik. 2) dr. Henny Riana, Sp.KJ sebagai dosen pembimbing. 3) Rekan-rekan Co Assisten yang turut memberikan saran dan kritik dalam penyelesaian makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan referat ini ada banyak kekurangan, karena itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan dan memperluas wawasan penulis. Semoga referat ini dapat member tambahan pengetahuan bagi penulis khususnya, dan manfaat bagi pembaca umumnya.</p> <p>Jakarta, Maret 2011</p> <p>Penulis</p> <p>i</p> <p>Referat Gangguan Somatoform 2011DAFTAR ISI</p> <p>KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. i DAFTAR ISI............................................................................................................................................... ii BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................................................................ 1 1.1. Latar Belakang.............................................................................................................................. 1 1.2. Tujuan .......................................................................................................................................... 1 1.2.1. Tujuan Umum: ...................................................................................................................... 1 1.2.2. Tujuan Khusus: ...................................................................................................................... 2 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................................................... 3 2.1. Definisi ......................................................................................................................................... 3 2.2. Epidemiologi ................................................................................................................................ 3 2.3. Etiologi ......................................................................................................................................... 4 2.4. Patofisiologi.................................................................................................................................. 5 2.5. Klasifikasi ..................................................................................................................................... 5 2.5.1. Gangguan Somatisasi ............................................................................................................ 8 2.5.2. Gangguan Konversi ............................................................................................................. 12 2.5.3. Hipokondriasis..................................................................................................................... 16 2.5.4. Gangguan Tubuh Dismorfik ................................................................................................ 18 2.5.5. Gangguan Nyeri................................................................................................................... 20 2.5.6. Gangguan Somatoform yang tidak terdiferensiasi ............................................................. 22 2.5.7. Gangguan Somatoform yang tidak terperinci..................................................................... 23 BAB 3 KESIMPULAN............................................................................................................................... 25 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 27</p> <p>ii</p> <p>Referat Gangguan Somatoform 2011BAB 1 PENDAHULUAN1.1. Latar BelakangGangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan1. Seandainya pun ada gangguan fisik, maka gangguan tersebut tidak menjelaskan gejala atau distress dan preokupasi yang dikemukakan oleh pasien. Selain itu, walaupun diketahui bahwa terdapat asosiasi antara gejala-gejala yang dimiliki pasien dengan periwtiwa kehidupan yang tidak menyenangkan ataupun konflik, pasien biasanya menolak upaya-upaya untuk membahas kemungkinan adanya penyebab psikologis. Gangguan somatoform sering kali berkomorbid dengan gejala-gejala kecemasan (anxietas) dan depresi yang nnyata. Taraf penegtian, baik fisik maupun psikologis, yang dapat dicapai perihal kemungkinan penyebab gejala-gejalanya sering kali mengecewakan dan menimbulkan frustasi pada kedua belah pihak, pasien dan dokter. Sering kali, pasien dengan gangguan ini juga memiliki perilaku mencari perhatian atau histrionik. Hal ini umumnya terjadi pada pasien yang kesal karena tidak berhasil membujuk dokternya untuk menerima bahwa keluhan yang diutarakannya adalah benar penyakit fisik2.</p> <p>1.2. Tujuan1.2.1. Tujuan Umum:</p> <p>Untuk memenuhi salah satu syarat dalam mengikuti program studi kepaniteraan klinik kesehatan jiwa di RS Bhayangkara I Kramat Jati Jakarta.</p> <p>1</p> <p>Andi Diyanti Y.S. (FK UPH) Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RS Bhayangkara I Kramat Jati Jakarta</p> <p>Referat Gangguan Somatoform 20111.2.2. Tujuan Khusus:</p> <p>Untuk mengetahui dan memahami dengan baik penjelasan mengenai gangguan somatoform berikut dengan subtipenya.</p> <p>2</p> <p>Andi Diyanti Y.S. (FK UPH) Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RS Bhayangkara I Kramat Jati Jakarta</p> <p>Referat Gangguan Somatoform 2011BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>2.1. DefinisiGangguan somatoform (somatoform disorder) adalah suatu kelompok gangguan yang ditandai oleh keluhan tentang masalah atau simptom fisik yang tidak dapat dijelaskan oleh penyebab kerusakan fisik (Nevid, dkk, 2005). Gangguan somatoform berasal dari kata soma yang berarti tubuh dalam bahasa Yunani. Pada gangguan somatoform, penderita hadir dengan berbagai gejala yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan sebagai penyebab gangguan tersebut1. Gejala-gejala fisik pada gangguan somatoform ini cukup serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala3. Gangguan somatoform berbeda dengan gangguan-gangguan lain yang disebabkan oleh kepura-puraan yang disadari ataupun gangguan buatan. Sebagai contoh, gangguan somatoform berbeda dengan malingering, atau kepura-puraan simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang jelas. Gangguan ini juga berbeda dengan gangguan factitious yaitu suatu gangguan yang ditandai oleh pemalsuan simtom psikologis atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan yang jelas. Selain itu gangguan ini juga berbeda dengan sindrom Muchausen yaitu suatu tipe gangguan factitious yang ditandai oleh kepura-puraan mengenai keluhan-keluhan medis1.</p> <p>2.2. EpidemiologiEpidemiologi dari gangguan somatoform bervariasi menurut jenis gangguannya. Prevalensi gangguan somatisasi sepanjang hidup adalah 0.2-2% pada perempuan dan 0.2% pada laki-laki. Perempuan lebih banyak menderita gangguan somatisasi dibandingkan lakilaki dengan rasio 5 berbanding 1. Onset dari gangguan somatisasi adalah sebelum usia 30</p> <p>3</p> <p>Andi Diyanti Y.S. (FK UPH) Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RS Bhayangkara I Kramat Jati Jakarta</p> <p>Referat Gangguan Somatoform 2011tahun dan berawal mula pada masa remaja. Sementara itu, pada gangguan konversi, rasio perempuan dibanding laki-laki adalah 2 berbanding 1, dengan onset yang dapat terjadi kapan pun, baik pada usia kanak-kanak hingga usia tua. Hingga saat ini, belum banyak terdapat data bagi pasien dengan gangguan dismorfik tubuh karena minimnya jumlah pasien yang mengunjungi psikiater dalam menangani gangguan ini. Para pasien umumnya lebih cenderung mengunjungi dermatologis, internis, ataupun ahli bedah plastik. Walaupun demikian, suatu penelitian menyatakan 90&amp; pasien dengan gangguan ini pernah mengalami satu episode depresi berat dalam hidupnya, 70% mengalami gangguan cemas, dan 30% mengalami gangguan psikotik4.</p> <p>2.3. EtiologiEtiologi dari gangguan somatoform melibatkan faktor-faktor psikososial berupa konflik psikis di bawah sadar yang mempunyai tujuan tertentu. Faktor genetik juga dapat ditemukan pada transmisi gangguan ini. Selain itu, gangguan somatoform juga dapat</p> <p>dihubungkan dengan adanya penurunan metabolisme (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer non-dominan dari otak manusia5. Secara umum, faktor-faktor penyebab gangguan somatoform dapat dikelompokkan sebagai berikut (Nevid, dkk, 2005): 1. Faktor-faktor Biologis Faktor ini berhubungan dengan kemungkinan adanya pengaruh genetik (biasanya pada gangguan somatisasi) 2. Faktor Lingkungan Sosial Sosialisasi terhadap wanita pada peran yang lebih bergantung, seperti peran sakit yang dapat diekspresikan dalam bentuk gangguan somatoform. 3. Faktor Perilaku Pada faktor perilaku ini, penyebab ganda yang terlibat adalah: Terbebas dari tanggung jawab yang biasa atau lari atau menghindar dari situasi yang tidak nyaman atau menyebabkan kecemasan (keuntungan sekunder). Adanya perhatian untuk menampilkan peran sakit</p> <p>4</p> <p>Andi Diyanti Y.S. (FK UPH) Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RS Bhayangkara I Kramat Jati Jakarta</p> <p>Referat Gangguan Somatoform 2011 Perilaku kompulsif yang diasosiasikan dengan hipokondriasis atau gangguan dismorfik tubuh dapat secara sebagian membebaskan kecemasan yang diasosiasikan dengan keterpakuan pada kekhawatiran akan kesehatanatau kerusakan fisik yang dipersepsikan. 4. Faktor Emosi dan Kognitif Pada faktor penyebab yang berhubungan dengan emosi dan kognitif, penyebab ganda yang terlibat adalah sebagai berikut: Salah interpretasi dari perubahan tubuh atau gejala fisik sebagai tanda dari adanya penyakit serius (hipokondriasis). Dalam teori Freudian tradisional, energi psikis yang terpotong dari impulsimpuls yang tidak dapat diterima dikonversikan ke dalam simtom fisik (gangguan konversi). Menyalahkan kinerja buruk dari kesehatan yang menurun mungkin merupakan suatu strategi self-handicaping (hipokondriasis).</p> <p>2.4. PatofisiologiSebenarnya, patofisiologi dari gangguan somatoform masih belum diketahui dengan jelas hingga saat ini. Namun, gangguan somatoform primer dapat diasosiasikan dengan peningkatan rasa awas terhadap sensasi-sensasi tubuh yang normal. Peningkatan ini dapat diikuti dengan bias kognitif dalam menginterpretasikan berbagai gejala fisik sebagai indikasi penyakit medis. Pada penderita gangguan somatoform biasanya ditemukan juga gejala-gejala otonom yang meningkat seperti takikardia dan hipermotilitas gaster. Peningkatan gejala otonom tersebut adalah sebagai efek-efek fisiologis dari komponen-komponen noradrenergik endogen. Sebagai tambahan, peningkatan gejala otonom dapat pula berujung pada rasa nyeri akibat hiperaktivitas otot dan ketegangan otot seperti pada pasien dengan muscle tension headache6.</p> <p>2.5. KlasifikasiDalam membedakan keluhan-keluhan pasien, secara garis besar gangguan somatoform diklasifikasikan menjadi lima subtipe sebagai berikut:</p> <p>5</p> <p>Andi Diyanti Y.S. (FK UPH) Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RS Bhayangkara I Kramat Jati Jakarta</p> <p>Referat Gangguan Somatoform 20111) Gangguan somatisasi; ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem organ. 2) Gangguan konversi; ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis. 3) Hipokondriasis; ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu. 4) Gangguan dismorfik tubuh; ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat. 5) Gangguan nyeri; ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis. Selain itu, DSM IV juga memiliki dua kategori residual untuk diagnostik gangguan somatoform, yaitu: 6) Undiferrentiated somatoform; gangguan somatoform yang tidak tidak termasuk pada salah satu penggolongan diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih. 7) Golongan somatoform yang tidak terperinci (NOS : not otherwise specified) adalah kategori untuk gejala somatoform yang tidak memenuhi diagnosis gangguan somatoform yang disebutkan salah satu diatas3.</p> <p>6</p> <p>Andi Diyanti Y.S. (FK UPH) Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RS Bhayangkara I Kramat Jati Jakarta</p> <p>Referat Gangguan Somatoform 2011</p> <p>3</p> <p>7</p> <p>Andi Diyanti Y.S. (FK UPH) Kepaniteraan Klinik Ilmu Kesehatan Jiwa RS Bhayangkara I Kramat Jati Jakarta</p> <p>Referat Gangguan Somatoform 20112.5.1. Gangguan Somatisasi</p> <p>Gangguan somatisasi atau yang juga dikenal sebagai Briquets Syndrome dicirikan dengan berbagai gejala somatik yang bermacam-macam (multipel), berulang dan sering berubah-ubah yang tidak dapat dijelaskan dengan pemeriksaan fisik maupun laboratorium. Gejala-gejala fisik tersebut umumnya telah berlangsung beberapa tahun sebelum pasien datang ke psikiater. Keluhan yang diutarakan pasien dapat meliputi berbagai sistem organ seperti gastrointestinal, seksual, saraf, dan bercampur dengan keluhan nyeri4. Gangguan ini bersifat kronis dan berkaitan dengan stressor psikologis yang bermakna, sehingga menimbulkan hendaya di bidang sosial dan okupasi serta adanya perilaku mencari pertolongan medis yang berlebihan.2.5.1.1. Etiologi </p> <p>Faktor Psikososial Secara psikososial, gejala-gejala pada gangguan somatisasi adalah bentuk komunikasi sosial yang bertujuan menghindarkan diri dari kewajiban, m...</p>