Stop Loss Dan Target Profit

  • Published on
    26-Jul-2015

  • View
    74

  • Download
    12

Embed Size (px)

Transcript

Stop Loss dan Target Profit Selalu memasang Stop Loss dan Target Profit secara disiplin. Yaitu merencanakan sedari awal dimana tempat Stop Loss dan Target Profit. Kemudian menahan posisi trading kita hingga mengenai salah satunya (SL atau TP ). Terkadang begitu posisi kita berjalan, emosi membuat kita untuk menggeser Stop Loss dan Target Profit kita sehingga menjadi berubah dari rencana awal. Salah satunya yang harus kita hindari adalah menggeser Stop Loss lebih besar dari rencana semula begitu harga berbalik kearah yang berlawanan dari posisi kita, hal ini dapat mengakibatkan kerugian yang lebih besar. Lalu menggeser Target Profit lebih besar dari rencana semula begitu harga bergerak kencang sesuai dengan arah posisi kita. Emosi karena begitu senangnya melihat posisi kita mendapat untung yang demikian cepat dan besar. Karena Target digeser tidak berdasarkan pertimbangan rational melainkan emosinal belaka dapat berakibat Target terlalu jauh untuk dicapai. Sehingga begitu harga mulai kembali jenuh akhirnya kemudian dapat berbalik kearah yang berlawanan dari posisi kita sehingga menghasilkan loss posisi.

RISK REWARD RATIO = 1:2 Prinsip Kedua dalam Risk Management kita adalah Reward dalam posisi trading kita minimal harus selalu 2 kali lipat jumlahnya dari yang kita resikokan. Atau bisa 3 kali atau 4 kali lipat dari jumlah yang kita resikokan. Inilah yang biasa disebut Risk Reward R : R = 1 : 2. Yang disebut dengan Risk adalah jarak dari posisi entry kita dengan Stop Loss Yang dimaksud dengan Reward adalah jarak dari posisi entry kita dengan Target Profit. Jadi contohnya misalnya kita memasang jarak antara entry level dengan stop loss adalah 30 pips. Maka jarak antara entry level dengan Target Profit harus 60 pips (minimal ) Lalu kemudian kita harus menentukan berapa % dari jumlah acc trading kita yang hendak kita resikokan. Saya tidak pernah merisikokan lebih dari 3% dari jumlah acc saya setiap kali membuka posisi dan saya berencana untuk disiplin dalam hal ini. Namun pilihan resiko ini tergantung dari selera masing- masing trader terhadap resiko, bisa 3%, bisa 4%, atau bahkan 6%. Namun hal yang terpenting adalah kita harus nyaman dengan jumlah resiko yang kita tentukan sendiri dan konsisten dalam menerapkannya. Contoh : Misalnya bila kita mempunya acc Balance sebesar $10,000 maka jumlah uang yang kita resikokan setiap kali membuka posisi adalah 10,000 x 3% = $300. Lalu misalnya kita harus mengambil 90 pips untuk memasang Stop Loss kita, maka kita harus merubah volume kita agar jumlah resiko kita tetap berjumlah $300 untuk setiap kali membuka posisi. Jadi perhitungannya adalah : Dengan Margin 1: 100 rata- rata untuk nilai 1 pips adalah 10 USD. Sehingga :

300 USD/ (90 X 10USD) = 0,33 . Maka kita harus memasang volume trading kita menjadi 0,33 dalam entry posisi tersebut. Dengan jarak Target Profit selalu 2 kali lipat dari Stop Loss nya yaitu 180 pips, maka Resiko kita adalah selalu Fix 300 USD dan Reward kita adalah selalu Fix 600 USD untuk setiap kali entry position. *)Harap dicatat bahwa setiap pair memiliki nilai pips yang berbeda- beda. Saya hanya mengambil rata- ratanya saja bila 1 pips = 10 USD.

Bila kita memerlukan jumlah stop loss yang lebih besar misalnya 150 pips, maka perhitungannya adalah : 300 USD/(150 X 10 USD) = 0,2. Maka volume yang harus kita ambil adalah 0,2. Dengan jarak Target Profit selalu 2 kali lipat dari Stop Loss nya yaitu 300 pips, maka Resiko kita adalah selalu Fix 300 USD dan Reward kita adalah selalu Fix 600 USD untuk setiap kali entry position. Walaupun jumlah pips dalam stop loss yang kita ambil bisa berubah- ubah. Jadi apabila dengan Risk VS Reward (1:2) = 300 USD : 600 USD saya andaikan melakukan 10 kali transaksi dan 50% dari 10 transaksi tersebut saya mengalami Loss positions. Maka perhitungannya adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. LOSS LOSS LOSS LOSS LOSS PROFIT PROFIT PROFIT PROFIT = = = = = = = = = -300 -300 -300 -300 -300 600 600 600 600

10. PROFIT = 600 TOTAL LOSS : -1500 TOTAL PROFIT : 3000 TOTAL ROI : 1500 or 15% from USD 10,000 Balance Dari perhitungan diatas kita dapat melihat bahwa walaupun setengah dari total transaksi saya mengalami kekalahan saya masih tetap mendapatkan keuntungan. Hal ini juga berarti adalah saya tidak mesti selalu benar dalam melakukan prediksi dan analysis, saya dapat memanage probabilitas saya untuk terus mendapatkan kemenangan walaupun setengah dari total posisi yang saya ambil mengalami kekalahan. Sebagaimana layaknya manusia normal yang tidak bisa meramal maka trading tidak mesti membuat forecasting (meramal ) yang selalu jitu tetapi bagaimana cara kita memanage probabilitas.

Bahkan walaupun 60% dari total transaksi saya mengalami kekalahan atau Loss positions saya masih tetap bisa mendapatkan keuntungan. Dengan demikian saya mengetahui bahwa dengan manajemen resiko ini probabilitas saya untuk mendapatkan kemenangan begitu besar dari seluruh total transaksi saya. Strategy ini juga membuat saya merasa nyaman untuk berlama- lama menahan posisi saya. Karena saya tahu berapa probabilitas peluang saya. Trading pun menjadi sebuah aktivitas yang nyaman dan terkontrol.

Move Stop Loss into Break Even

Apabila harga bergerak searah dengan posisi kita dan mulai menghasilkan keuntungan maka ada saatnya untuk menaruh Stop Loss pada posisi entry kita. Sehingga apabila harga berbalik berlawanan dari posisi kita kerugian kita bisa menjadi 0. Contoh : Semisal kita membuka posisi buy di EUR/USD di 1.3050 dengan SL 30 pips dan TP berjarak 60 pips. Apabila harga sudah bergerak searah dengan posisi kita dan sudah mencapai +30 pips, maka pindahkan Stop Loss kita menjadi 1.3050 hingga transaksi kita menjadi zero risk.

Meningkatkan Risk Reward Ratio dengan Teknik Stop Loss Break Even

Sebagaimana yang sudah saya singgung sebelumnya, meresikokan 3% capital untuk setiap kali transaksi adalah juga berarti menahan diri untuk tidak menambah posisi berikutnya walaupun kita melihat ada Signal lain yang timbul dalam Pair lain. Apabila kita melihat signal untuk membuka posisi baru timbul, Kita hanya akan mengambil posisi baru tersebut apabila kita sudah berhasil memindahkan stop loss kita menjadi break even. Dengan begitu secara probabilitas kita sudah menambah Risk Reward kita menjadi berlipat ganda. Sebagaimana contoh berikut : Posisi 1 Risk 300 USD Reward 600 USD ( Risk Reward Ratio 1 : 2 ) -----Berhasil memindahkan Stop Loss menjadi Break Even ----Posisi 1 Risk 0 Reward 600 USD ( Risk Reward Ratio 0 : 2) -----Timbul signal baru, ambil Posisi 2---Posisi 2 Risk 300 USD Reward 600 USD ( Risk Reward Ratio 1 : 2) Total Risk 300 USD Reward 1200 USD (Risk Reward Ratio 1: 4)

Ini tulisan sobat baikku di FB: Retno Lestari dr Jogjakarta Simak baik baik ya sobat... PADA UMUMNYA kita menyimpan uang di bank, Almari, brangkas, bawah kasur dan lain2nya , tetapi kali ini kita menyimpan uang kita pada BROKER baik broker LOKAL maupun INTERNATIONAL, Uang yang kita simpan di BANK tentu saja ada buku tabungan, rekening Koran, deposito, sedangkan pada Broker kita mendapatkan balance sesuai dengan nominal yang kita depositkan ditambah dengan iming2 bonus 15% 20% bahkan ada yg 35%.. namanya INVESTASI, entah apa namanya kalo disimpan dalm bentuk saham, obligasi, atau surat berharga lainnya Menurut saya NEWBIE RETNO LESTARI uang yang kita simpan pada broker tadi bisa kita lihat sewaktu2 dan kita bisa menjual nya atau membeli dengan mudah segampang kita bisa klik muose pada PC atau lap top kita & kotak katik sekehendak kita saya menyebutnya dengan bermain bukan main-main Hendaklah di mengerti kalau uang yang kita simpan pada broker tadi sama statusnya seperti uang yang kita simpan di bank. Maka wajib dan harus diperlakukan dengan sangat hati2 . tidak dengan EMOSI, kita dalam memperlakukannya.. Broker telah menyediakan seperangkat peralatan software yang memungkinkan kita untuk melakukan penjualan dan pembelian VALAS sebesar jumlah balance yang kita depositkan.. broker akan mendapatkan komisi dari setiap kita bertransaksi menjual atau membeli berupa Spread, komisi, dan swap. (semua dah tau itu) Nah kali ini saya akan share pengalaman saya dalam mengkotak katik uang yang kita depositkan pada broker. Saya memilih broker INTERNATIONAL karena pendapat & pandangan saya jauh lebih aman (save). sebagai contoh : deposit sebesar Rp 11 juta , tertulis dalam balance $ cent 110.000 (mungkin sekarang berubah2). Istilah menjual dan membeli saya sebut PASANG estimasi $ 1 = Rp 10.000 setiap $ cent 100 = $ 1 modal = 110.000 Asumsi pasang aman adalah 3% dari modal bukan 10% Jadi 110.000 x 3% = 3.300 OP (open posisi) Yang saya gunakan adalah zise lot = 1 artinya setiap 1pip = $ cent 10 = Rp 1.000 Berarti saya bisa OP = 3.300/10 = 330 pip ( bisa 330 OP kerepotan sekali ) Kalau menggunakan LOT zise = 10 artinya setiap 1 pip = $ cent 100 = 10.000 Berarti bisa OP = 3.300/100 = 33 Pip atau 33 x OP Untuk lebih aman lagi kita patok max 10 x OP dalam 3 jam Salah Open posisi max 3 jam cut loss kecuali kondisi berbalik arah, atau dipasang SL

Biasanya kedisiplinan dilanggar dalam kondisi tertentu. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mempengaruhi siapapun, atau menggurui mudah2an tidak membuat semakin bingung TERIMAKASIH semoga bermanfaat Link ke posting ini

Manajemen ModalMay 30, 2011 by Cucue Om sigit 0 komentar Label: money management Bagian ini akan membahas:

Konsep dasar manajemen modal Martingale Anti Martingale Averaging Pyramiding Fixed Fraction

Manajemen Modal (money management) dalam artian finansial adalah sebuah proses penempatan modal di masa kini dan perencanaan modal di masa datang. Proses penempatan manajemen modal tersebut, lama-kelamaan mengalami evolusi dan terus menyesuaikan diri dengan wadahnya sehingga akhirnya memiliki banyak keragaman persepsi. Para penasehat manajemen modal keuangan biasanya akan berfikir keras untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berapa yang harus dialokasikan, apa saja resikonya dan berapa besar peluangnya? Hal yang sama juga berlaku dalam dunia trading. Manajemen Modal juga harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Sehingga dari sini, maka banyaklah istilah-istilah yang disandarkan kepada Manajemen Modal bermunculan, diantaranya adalah alokasi aset, pengukuran posisi, alokasi portofolio, manajemen posisi atau bahkan manajemen modal perdagangan (terj. bebas dari trade management). Keseluruhan istilah tersebut pada dasarnya memiliki perbedaan di ciri khas masing-masing, namun memiliki banyak persamaan. Sehingga manajemen modal tidak ada salahnya jika demi kepentingan praktis istilah-istilah tersebut disejajarkan.

Tipe-tipe Manajemen ModalMetode Manajemen Modal memiliki banyak variasi, namun umumnya metode yang ada paling tidak masuk dalam dua katagori, yakni add winning or add loosing.

Menambah pada posisi untung, jika tidak menggunakan asumsi penggandaan naik (doubling up) maka pilihan jatuh pada Pyramiding. Dan jika manajemen modal menggunakan prinsip tersebut, maka pilihan jatuh pada metode Anti Martingale. Dan Menambah pada posisi rugi, akan masuk dalam dua katagori manajemen modal. Menggunakan prinsip penggandaan menurun (doubling down) maka jatuh pada katagori Martingale, dan jika tidak menggunakan prinsip tersebut, maka pilihan manajemen modal jatuh pada Averaging. 1. Martingale

Martingale merupakan teori manajemen modal probabilitas yang memungkinkan kesamaan nilai sesuatu dimasa tertentu dengan masa sebelumnya dengan menggunakan prinsip penggandaan. Metode ini dipopulerkan pada abad ke 18, oleh Paul P. Levy dan pertama kali digunakan sebagai salah satu metode tebak-tebakan (betting) di Francis. Dalam dunia manajemen modal trading, Martingale dapat diartikan sebagai proses mendapatkan keuntungan sekaligus menutup kerugian dari transaksi sebelumnya dengan keuntungan pertama dari transaksi selanjutnya, melalui penggandaan modal. Sehingga, setiap kali nilai manajemen modal menurun, ukuran transaksi selanjutnya meningkat. Dengan kata lain, manajemen modal Martingale memilki karakter dasar; resiko meningkat sesuai dengan meningkatnya kerugian. Jika seorang trader mengalami kerugian dalam satu kali perdagangan, maka ukuran lot dalam perdagangan kedua harus meningkat, dalam hal ini menjadi 2 lot. {break} Sebagai contoh manajemen modal, dalam satu hari, seorang trader merencanakan 5 kali transaksi EUR/USD, stoplloss dan target profit 50 poin,dan Equity awal =$50,000, Lot berganda. Dengan kondisi perdagangan ternyata 4 kali transaksi loss terjadi berurutan, dan hanya satu transaksi yang menghasilkan keuntungan. Cara

kerja

manajemen

modal

Martingale

akan

menjadi

seperti

ini:

1 lot transaksi loss x 50 points = -$500 2 lot transaksi loss x 50 points = -$1,000 4 lot transaksi loss x 50 points = -$2,000 8 lot transaksi loss x 50 points = -$4,000 16 lot transaksi profit x 50 points = +$8,000 Total lot = 31 Total Loss = -$7,500 Total Profit = +$8,000 Net Profit/ Loss = $500 Total Equity = $50,500

Metode manajemen modal Martingale hanya membutuhkan sekali kemenangan dalam sekian (n) kali perdagangan, untuk menutupi seluruh kerugian akibat perdagangan sebelumnya dan sekaligus meraup keuntungan. Contoh manajemen modal diatas membahas bahwa pada transaksi kelima, anda memperoleh keuntungan sebesar $8,000 untuk 8 lot yang berarti profit bersih sebesar $500 setelah 4 kerugian berurut. Table 1 adalah contoh dimana anda membeli 1 lot EUR/USD pada harga 1.2960 dan menggandakan jumlah lot setipa penurunan 30 pip (2 lot pada level 1.2930, 4 lot pada 1.2900 dls). Sehingga manajemen modal jumlah lot menambah dan harga menurun pada waktu yang sama, Pada transaksi keenam, jumlah total lot akan 63 lot dengan harga rata2 1.2839. Seorang trader harus selalu berhati-hati dalam strategi tersebut karena market tren dapat menghabiskan equity sehingga perlu ada batasan jumlah transaksi.

Table 1 Martingale {break} Daripada menutup kerugian perdagangan, manajemen modal Martingale yang populer sekarang lebih memilih likuidasi posisi pada saat harga perdagangan mencapai average tertentu plus keuntungan sekian poin. Disini, seorang trader tidak perlu melakukan likuidasi posisi walau dalam keadaan rugi, bahkan harus menggandakan lot setiap kali kerugian mencapai titik tertentu, sampai akhirnya seluruh kerugian tersebut tertutupi ketika harga mencapai titik average. Sistem Martingale seperti ini adalah yang paling populer dan telah diadopsi oleh banyak Automatic Trading Sytem (robot). Ancaman akan muncul ketika harga bergerak satu arah, seperti uptrend dan downtrend. 2. Anti Martingale

Dari namanya, metode manajemen modal ini sudah menjelaskan posisinya. Secara kontras dengan Martingale, Anti Martingale tidak akan menggandakan posisi ketika mengalami kerugian. Penambahan hanya terjadi jika posisi dalam keadaan untung. Jadi, resiko manajemen modal akan ditingkatkan sesuai dengan peningkatan keuntungan, tujuannya adalah agar keuntungan yang dicapai semakin tinggi. Keunggulan yang bisa kita ambil dari mana...