Suara Parau

  • View
    57

  • Download
    1

Embed Size (px)

Transcript

SUARA PARAU

I.

Pendahuluan Suara merupakan produk akhir akustik dari suatu sistem yang lancar,

seimbang, dinamis dan saling terkait, melibatkan respirasi, fonasi, dan resonansi. Tekanan udara subglotis dari paru, yang diperkuat oleh otot-otot perut dan dada, dihadapkan pada plika vokalis. Suara dihasilkan oleh pembukaan dan penutupan yang cepat dari pita suara, yang dibuat bergetar oleh gabungan kerja antara tegangan otot dan perubahan tekanan udara yang cepat. Tinggi nada terutama ditentukan oleh frekuensi getaran pita suara1. Bunyi yang dihasilkan glotis diperbesar dan dilengkapi dengan kualitas yang khas (resonansi) saat melalui jalur supraglotis, khususnya faring. Gangguan pada sistem ini dapat menimbulkan gangguan suara1. Di Negara-negara barat, sekitar 1/3 pekerja memerlukan suara untuk pekerjaan mereka2. Gangguan suara diperkirakan terjadi pada satu persen rakyat Amerika Serikat1. Di Inggris, sekitar 50.000 pasien THT (Telinga Hidung Tenggorok) per tahunnya datang dengan masalah suara2. Setiap keadaan yang menimbulkan gangguan dalam getaran, ketegangan serta gangguan dalam pendekatan kedua pita suara kiri dan kanan akan menimbulkan suara parau.3 II. Definisi Suara parau adalah suatu istilah umum untuk setiap gangguan yang menyebabkan perubahan suara. Ketika parau, suara dapat terdengar serak, kasar dengan nada lebih rendah daripada biasanya, suara lemah, hilang suara, suara tegang dan susah keluar, suara terdiri dari beberapa nada, nyeri saat bersuara, atau ketidakmampuan mencapai nada atau intensitas tertentu. Suara parau bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan gejala penyakit. Perubahan suara ini seringkali berkaitan dengan kelainan pita suara yang merupakan bagian dari kotak suara (laring)3,4.

1

III. Anatomi dan Fisiologi Proses fonasi merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan banyak organ di tubuh. Terdapat tiga komponen dalam pembentukan suara yaitu produksi dan aliran udara, getaran pita suara dan resonansi dari getaran suara oleh mulut dan hidung5. a. Paru Paru berperan sangat penting pada proses fonasi karena merupakan organ pengaktif proses pembentukan suara. Udara yang dihembuskan pada saat ekspirasi akan melewati celah glotis dan menghasilkan tekanan positif untuk menggetarkan pita suara. Fungsi paru yang baik sangat diperlukan agar dapat dihasilkan suara yang berkualitas6. b. Saraf Susunan saraf pusat dan saraf tepi akan mengontrol dan mengkoordinasikan semua otot dan organ yang berperan dalam proses fonasi. Kerusakan pada saraf ini akan mengacaukan proses pembentukan suara. 6 c. Rongga mulut dan faring Perubahan ukuran dan bentuk rongga-rongga ini akan memperkuat intensitas suara yang dihasilkan melalui resonansi6.d. Pita suara

Pita suara merupakan generator pada proses fonasi. Pita suara digerakkan oleh otot-otot intrinsik laring. Gerakan dan getaran otot-otot pita suara merupakan gerakan terkendali (volunter), sehingga dapat dilatih untuk dapat menghasilkan suara yang diinginkan6. Anatomi dan fisiologi Laring

Laring ( voice box) merupakan bagian yang terbawah dari saluran napas bagian atas. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung, dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Batas atas laring adalah aditus laring, sedangkan batas bawahnya ialah batas kaudal kartilago krikoid3. Laring terdiri dari empat komponen dasar anatomi yaitu tulang rawan, otot intrinsik dan ekstrinsik, dan mukosa5. Bangunan kerangka laring tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hioid yang berbentuk seperti huruf U, yang permukaan

2

atasnya dihubungkan dengan lidah, mandibula dan tengkorak oleh tendon dan otot-otot. Saat menelan, kontraksi otot-otot ini akan mengangkat laring. Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglotis, kartilago krikoid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, kartilago kuneiformis, kartilago tiroid (gambar 1) 1,3

Gambar 1. Tulang rawan Laring 5 Otot-otot laring dapat dibagi dalam dua kelompok yaitu otot ekstrinsik dan intrinsik. Otot ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan, sedangkan otot intrinsik menyebabkan gerak bagian-bagian laring sendiri. Otot ekstrinsik laring yang suprahioid ialah m. digastrikus, m. stilohioid, dan m. milohiodid. Otot yang infrahioid ialah m.sternohioid, m.omohioid, dan m.tirohioid. sedangkan otot intrinsik laring ialah m.krikoaritenoid lateral, m.tiroepiglotika, m.vokalis, m.tiroaritenoid, m.ariepiglotika, m.krikotiroid. Otototot ini terletak di bagian lateral laring. Otot intrinsik laring yang terletak di bagian posterior ialah m.aritenoid transversal, m.aritenoid oblik dan m.krikoaritenoid posterior3. Terdapat tiga kelompok otot laring yaitu aduktor, abduktor dan tensor. Kelompok otot aduktor terdiri dari m.tiroaritenoid, m.krikoaritenoid lateral, dan m.interaritenoid. Otot tiroaritenoid merupakan otot aduktor dari laring. Persarafan dari otot-otot aduktor oleh n. laringeus rekuren. Otot-otot tensor terutama oleh m.krikotiroid didukung m.tiroaritenoid. otot krikotiroid disarafi oleh cabang eksterna n. laringeus superior. Otot abduktor adalah m.krikoaritenoid posterior

3

yang disarafi cabang n.laringeus rekuren4. Perdarahan untuk laring terdiri dari dua cabang yaitu a. laringeus superior dan a.laringeus inferior3.

Gambar 2. Potongan midsagital leher, tampak anatomi laring 5

Gambar 3. Anatomi laring, tampak otot-otot dan kartilago laring. (A) laring dari posterior, (B) laring dari atas. 5 Lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum ventrikulare membentuk plika vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikularis (pita suara palsu). Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan disebut rima glotis, sedangkan antara kedua plika ventrikularis disebut rima vestibuli. Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi rongga laring dalam 3 bagian yaitu vestibulum laring (supraglotik), glotik dan subglotik3 Laring mempunyai tiga fungsi utama yaitu proteksi jalan napas, respirasi dan fonasi. Laring membuat suara serta menentukan tinggi rendahnya nada. Saat 4

bernapas pita suara membuka (gambar 4), sedangkan saat berbicara atau bernyanyi akan menutup (gambar 5) sehingga udara meninggalkan paru-paru, bergetar dan menghasilkan suara7.

Gambar 4. Posisi pita suara saat bernapas7

Gambar 5. Pita suara saat berbicara7

Tinggi rendahnya nada diatur oleh peregangan plika vokalis. Bila plika vokalis aduksi, maka m.krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid ke bawah dan ke depan, menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat itu m.krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartiago aritenoid ke belakang. Plika vokalis saat ini dalam kontraksi. Sebaliknya kontraksi m.krikoaritenoid akan mendorong kartilago aritenoid ke depan, sehingga plika vokalis akan mengendor. 3IV. Etiologi dan Patofisiologi

Faktor resiko terjadinya masalah pada suara adalah2:

-

Merokok (faktor resiko karsinoma laring) Konsumsi alkohol berlebihan Refluks gastroesofageal Profesi seperti guru, aktor, penyanyi Usia Lingkungan

Suara parau dapat terjadi secara akut atau kronik. Onset akut lebih sering terjadi dan biasanya karena peradangan lokal pada laring (laringitis akut). Laringitis akut bisa disebabkan oleh infeksi viral, infeksi sekunder bakterial. 5

Apabila tidak ada bukti adanya infeksi, laringitis akut bisa terjadi karena bahan kimia atau iritan dari lingkungan, atau akibat penggunaan suara berlebih (voice overuse) pada penyanyi, pengajar, orator, dsb. Onset kronis (laringitis kronis), dapat disebabkan refluks faringeal, polip jinak, nodul pita suara, papilomatosis laring, tumor, defisit neurologis, ataupun peradangan kronis sekunder karena asap rokok atau voice abuse3,4. Suara parau memiliki banyak penyebab yang prinsipnya menimpa laring dan sekitarnya mulai dari yang sederhana infeksi saluran pernafasan atas hingga dengan patologi serius seperti kanker leher dan kepala seperti yang dijelaskan di bawah ini5 1. Infeksi Laringitis merupakan penyebab tersering suara parau yang dapat diakibatkan infeksi virus atau bakteri dan biasanya terjadi bersamaan dengan common cold. Inflamasi menyebabkan pembengkakan jaringan-jaringan laring. Pembengkakan korda vokalis terjadi pada infeksi saluran napas atas, common cold, atau pemakaian suara berlebihan. Radang laring dapat akut atau kronik8. a. Laringitis akut Laringitis akut merupakan radang mukosa pita suara dan laring kurang dari tiga minggu. Virus influenza, adenovirus, dan streptokokus merupakan organisme penyebab tersering. Pada radang ini terdapat gejala radang umum seperti demam, malaise, dan gejala lokal seperti suara parau sampai tidak bersuara sama sekali (afoni), nyeri menelan atau berbicara serta gejala sumbatan laring. Pada pemeriksaan tampak mukosa laring hiperemis, membengkak, terutama di atas dan bawah pita suara. Terapi yang diberikan berupa istirahat berbicara dan bersuara selama 2-3 hari., menghirup udara lembab, menghindari iritasi pada laring dan faring9,10. Selama penyebab laringitis oleh karena virus, pemberian antibiotik tidak efektif.11b. Laringitis kronik

6

Penyakit ini ditemukan pada orang dewasa. Sebagai faktor yang mempermudah terjadinya radang kronis ini ialah intoksikasi alkohol atau tembakau, inhalasi uap atau debu yang toksik, radang saluran napas dan penyalahgunaan suara (vocal abuse). Pada laringitis kronis terdapat perubahan pada selaput lendir, terutama selaput lendir pita suara. Pada mikrolaringoskopi tampak bermacam-macam bentuk, tetapi umumnya yang kelihatan ialah edema, pembengkakan serta hipertrofi selaput lendir pita suara atau sekitarnya12. Terdapat juga kelainan vaskular, yaitu dilatasi dan proliferasi, sehingga selaput lendir itu tampak hiperemis. Bila peradangan sudah sangat kronis, terbentuklah jaringan fibrotik sehingga pita suara tampak kaku dan tebal, disebut laringitis kronis hiperplastik. Kadang-kadang terjadi keratinisasi dari epitel, sehingga tam