Teori Dan Prinsip Belajar Dan Pembelajaran

  • Published on
    25-Jun-2015

  • View
    6.143

  • Download
    8

Embed Size (px)

Transcript

<p>BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teori ialah prinsip kasar yang menjadi dasar pembentukan sesuatu ilmu pengetahuan. Dasar teori ini yang akan di kembangkan pada ilmu pengetahuan agar dapat di ciptakan pengetahuan baru yang lebih lengkap dan detail sehingga dapat memperkuat pengetahuan tersebut.Teori juga merupakan satu rumusan daripada pengetahuan sedia ada yang memberi panduan untuk menjalankan penyelidikan dan mendapatkan maklumat baru. Sehingga ada ahli yang mengemukakan asumsinya terhadap kebutuhan adanya sebuah rumusan teori. Menurut Snelbecker (di situs www.teknologi-pembelajaran.com) menjelaskan sejumlah asumsi dijadikan dasar untuk menentukan gejala yang diamati dan atau teori yang dirumuskan. Asumsiasumsi itu adalah: 1. Pertambahan penduduk akan senantiasa terjadi meskipun dengan derajat perbandingan yang kian mengecil. Perkembangan penduduk ini membawa implikasi makin banyaknya mereka yang perlu memperoleh pendidikan. 2. Terjadinya perubaha-perubahan mendasar dan bersifat menetap di bidang sosial, politik, ekonomi, industri, atau secara luas kebudayaan, yang menghendaki reedukasi atau pendidikan terus-menerus bagi semua orang. 3. Penyebaran teknologi ke dalam kehidupan masyarakat yang makin meluas. Masyarakat mengandung budaya dan teknologi, yang memengaruhi segenap bidang kehidupan, termasuk di dalamnya bidang pendidikan. Makin terbatasnya sumber-sumber tradisional sehingga harus diciptakan sumbersumber baru dan sementara itu memanfaatkan sumber yang makin terbatas itu secara</p> <p>1</p> <p>lebih berdaya guna dan berhasil guna. Termasuk dalam sumber tradisional ini adalah sumber insani untuk keperluan pendidikan. Pendidikan senantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Mutu pendidikan kian hari kian dituntut untuk selalu meningkat. Meningkatkan mutu pendidikan tidak hanya merupakan tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab pendidik sebagai ujung tombak pendidikan. Pendidik berkewajiban menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis serta mempunyai komitmen secara professional untuk meningkatkan mutu pendidikan (Undang-Undang Pendidikan Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003). Hal itu dikarenakan selain harus menciptakan suasana pendidikan bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis juga harus mendesain materi, dan proses pembelajaran yang mengantarkan siswanya memiliki kompetensi seperti yang dirumuskan dalam kurikulum. Maka dari itu guru harus mengetahui dan memahami tentang teori-teori belajar dan hendaknya dapat mengaplikasikan teori-teori belajar dalam pembelajaran agar dapat tercapainya kompetensi yang telah ditargetkan. Secara empiris calon pendidik masih banyak yang belum menguasai prinsip dan teori belajar dan pembelajaran. Calon pendidik belum memahami berbagai teori dan prinsip belajar dan pembelajaran. Padahal untuk mengaplikasikannya para colon pendidik haruslah menguasai dan memahami terlebih dahulu teori-teori tersebut. Belum dikuasainya materi dasar tersebut disebabkan karena kurang banyak membaca buku teori, sumber-sumber belajar tentang teori belajar masih terbatas dan materi ini masih termasuk materi baru bagi calon pendidik. Jadi jika guru tidak menguasai kompetensi tersebut hal ini akan berdampak pada penjabaran kemampuan-kemampuan dalam standar kompetensi tersebut hal ini akan berdampak pada penjabaran kemampuan-kemampuan dalam standar kompetensi dan</p> <p>2</p> <p>kompetensi dasar yang harus dikuasai. Untuk itu, di dalam amkalah ini akan dijabarkan tentang berbagai teori belajar dan pembelajaran. B. Rumusan Masalah 1. Apakah teori belajar itu? 2. Apakah prinsip belajar itu? 3. Apakah teori pembelajaran itu? 4. Apakah prinsip pembelajaran itu? C. Tujuan 1. Untuk memberikan pengetahuan kepada calon guru tentang teori-teori belajar. 2. Untuk memberikan pengetahuan kepada calon guru tentang prinsipprinsip belajar. 3. Untuk memberikan pengetahuan kepada calon guru tentang teori-teori pembelajaran. 4. Untuk memberikan pengetahuan kepada calon guru tentang prinsipprinsip pembelajaran. D. Maanfaat1. Memberikan pengetahuan kepada calon guru tentang teori-teori</p> <p>belajar.2. Memberikan pengetahuan kepada calon guru tentang prinsip-prinsip</p> <p>belajar.3. Memberikan pengetahuan kepada calon guru tentang teori-teori</p> <p>pembelajaran.</p> <p>3</p> <p>4. Memberikan pengetahuan kepada calon guru tentang prinsip-prinsip</p> <p>pembelajaran. BAB II PEMBAHASAN A. TEORI BELAJAR 1. Teori Behavioristik Teori belajar behavioristik adalah sebuah teori yang dicetuskan oleh Gage dan Berliner tentang perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman. Aliran ini menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata. Munculnya perilaku akan semakin kuat bila diberikan penguatan dan akan menghilang bila dikenai hukuman. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.</p> <p>4</p> <p>Faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka respon juga semakin kuat. Tokoh-tokoh aliran behavioristik di antaranya:a)</p> <p>Teori Belajar Menurut Edward Lee Thorndike</p> <p>Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus adalah apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera. Sedangkan respon adalah reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang dapat pula berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori trial and error atau selecting and conecting, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi, demikian selanjutnya. Teori Thorndike disebut pula dengan Teori Koneksionisme (Slavin, 2000). Ada tiga hukum belajar yang utama, menurut Thorndike yakni:(1)</p> <p>Hukum Kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu</p> <p>organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan</p> <p>5</p> <p>tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat. Prinsip pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk asosiasi (connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak.(2)</p> <p>Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku</p> <p>diulang/ dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.(3)</p> <p>Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon</p> <p>cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. b) Teori Belajar Menurut Watson</p> <p>Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui adanya perubahanperubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. c) Teori Belajar Menurut Clark Hull</p> <p>6</p> <p>Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respon untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respon yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. d) Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie</p> <p>Azas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti, yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama (Bell, Gredler, 1991). Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respon untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respon lain yang dapat terjadi. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang. Pebelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari.e)</p> <p>Teori Belajar Menurut Burrhus Frederic Skinner</p> <p>Menurut Skinner hubungan antara stimulus dan respon yang terjadi melalui interaksi dengan lingkungannya, yang kemudian menimbulkan perubahan tingkah laku. Menurutnya respon yang diterima seseorang tidak sesederhana itu, karena stimulus-stimulus yang diberikan akan saling berinteraksi dan interaksi antar7</p> <p>stimulus itu akan mempengaruhi respon yang dihasilkan. Respon yang diberikan ini memiliki konsekuensi-konsekuensi yang nantinya mempengaruhi munculnya perilaku (Slavin, 2000). B.F. Skinner meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar. Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning klasik. Operant Conditioning adalah suatu proses perilaku operant (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan. Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Skinner membuat eksperimen sebagai berikut: Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut skinner box, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yanga dapat dialir listrik. Karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shapping.</p> <p>8</p> <p>Berdasarkan berbagai percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Bentuk-bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku, atau penghargaan. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku tidak senang. Beberapa prinsip Skinner antara lain:1.</p> <p>Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. Materi pelajaran, digunakan sistem modul. Dalam proses pembelajaran, tidak digunakan hukuman. Untuk itu Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya Dalam pembelajaran digunakan shaping. Ivan Petrovich Pavlov</p> <p>dibetulkan, jika beban diberi penguat. 2. 3.4.</p> <p>lingkungan perlu diubah, untuk menghindari adanya hukuman.5. 6.</p> <p>hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer.7.</p> <p>f)</p> <p>Classic conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.</p> <p>9</p> <p>Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker, 1985). Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsanganrangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang diinginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. N...</p>