Teori Krisis Dan Teori Globalisasi Pembangunan

  • Published on
    28-Sep-2015

  • View
    21

  • Download
    8

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Ekonomi Pembangunan

Transcript

<p>TEORI KRISIS DAN TEORI GLOBALISASI PEMBANGUNAN</p> <p>BAB I</p> <p>PENDAHULUAN</p> <p>1. Latar Belakang</p> <p>Dalam makalah ini akan dibahas mengenai krisis yang terjadi dalam perkembangan teori pembangunan dan teori globalisasi pembangunan. Terdapat tiga bentuk krisis yang perlu diperhatikan dalam teori pembangunan, yaitu krisis teori pembangunan, dalam arti krisis status dari konsep pembangunan itu sendiri; krisis pembangunan di dunia nyata, dan krisis institusi kenegaraan yang banyak terjadi di negara-negara di dunia. </p> <p>Krisis dalam teori pembangunan merupakan suatu kritik yang terhadap teori pembangunan dan relevansinya dengan dunia nyata. Kegagalan suatu teori pembangunan yang diterapkan sebagai strategi pembangunan suatu negara merupakan krisis dari teori itu sendiri. Krisis yang terjadi dalam pembangunan di dunia nyata, pada dasarnya menunjukkan bahwa krisis pembangunan yang terjadi bersifat global.</p> <p>Globalisasi ekonomi telah menyebabkan sulitnya perekonomian suatu negara lepas dari pengaruh interaksi dari negara-negara lain. Globalisasi krisis menunjukkan fenomena homogen yang memperlihatkan adanya satu sistem tunggal di dunia. Krisis pembangunan di negara sedang berkembang tidak terlepas dari strategi pembangunan yang digunakan, dan kondisi intern yang kurang sesuai dengan penerapan teori tersebut. </p> <p>Krisis institusi kenegaraan sebagai agen yang menerapkan strategi pembangunan nampaknya juga terjadi secara global. Dalam ilmu ekonomi dikenal adanya kegagalan pasar, dan bahwa kegagalan pasar tersebut dapat ditanggulangi dengan campur tangan pemerintah dalam perekonomian. Krisis institusi terjadi karena campur tangan pemerintah, yang diharapkan mampu mengefesienkan pasar, ternyata justru semakin mendistorsikan pasar itu sendiri.</p> <p>2. Rumusan Masalah</p> <p> Apa maksud dari krisis teori?</p> <p> Bagaimana terjadinya krisis pembangunan?</p> <p> Bagaimana terjadinya krisis institusional dan krisis akibat pembangunan aspasial?</p> <p> Bagaimana konsep ketergantungan menjadi konsep interdependensi?</p> <p> Bagaimana pendekatan dalam konsep interdependensi?</p> <p> Bagaimana perkembangan strategi pembangunan?</p> <p>3. Tujuan</p> <p> Mengetahui perkembangan krisis teori</p> <p> Mendiskripsikan krisis pembangunan</p> <p> Mendiskripsikan krisis institusional dan krisis akibat pembangunan aspasial</p> <p> Mengetahui konsep ketergantungan menjadi konsep interdependensi</p> <p> Mengetahui pendekatan dalam konsep interdependensi</p> <p> Mengetahui perkembangan dari strategi pembangunan</p> <p>BAB II</p> <p>PEMBAHASAN</p> <p>KRISIS TEORI PEMBANGUNAN</p> <p>1. Krisis teori</p> <p>Pada awal era demam teori pembangunan tahun 1950-1960-an, negara-negara sedang berkembang (NSB) banyak mengadopsi dan mengadaptasi teori-teori pembangunan yang dikemukakan oleh para ekonomi Barat dalam system perekonomiannya. Negara-negara tesebut langsung menerapkan berbagai teori yang ada, yang mereka anggap cocok sebagai model pembangunan di negara mereka. Proses ini dipercepat oleh para cendekiawan negara sedang berkembang yang telah menimba ilmu di negara-negara maju yang mempelajari teori-teori pembangunan tersebut di universitas-universitas terkenal. Gambaran keberhasilan dan kegemerlapan negara-negara maju segera memenuhi benak mereka sebagai mimpi indah yang harus segera terwujud di negara mereka. </p> <p>Era 1980-an merupakan era refleksi dan kritik dari para ahli, baik di negara sedang berkembang maupun di negara maju, terhadap konsep dan teori pembangunan yang selama ini diyakini kebenaranya. Teori pembangunan yang didasarkan pada pengalaman pembangunan dan paradigma berfikir Barat, ternyata banyak menemui kegagalan dalam daratan implementasinya di negara sedang berkembang. Asumsi-asumsi dasar yang dipergunakan dalam teori pembangunan, merupakan asumsi yang hanya tepat berlaku di negara-negara Barat. Sementara itu kondisi di negara sedang berkembang yang demikian kompleks, memerlukan strategi pembangunan yang jauh lebih canggih. Kondisi dasar negara sedang berkembang jauh lebih rumit dibandingkan dengan Negara maju, dan pada banyak hal asumsi yang digunakan dalam teori pembangunan hanya mengacu pada kondisi yang ada di Negara maju. Kondisi tersebut diperparah oleh penerapan teori pembangunan tesebut secara mentah-mentah, tanpa melalui proses penyesuaian dengan asumsi dasar yang terdapat di suatu Negara. Yang terlihat kemudian adalah penggunaan suatu alat yang tidak sesuai dan sepadan dengan apa yang hendak diperbaiki. Akhir dari penerapan teori yang dipaksakan adalah timbulnya suatu kondisi di Negara sedang berkembang yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan kondisi semula.</p> <p>Pada dasarnya permasalahan pembangunan di NSB justru semakin kompleks dengan penerapan teori-teori barat secara mentah-mentah. Peningkatan permasalahan yang timbul akibat penerapan teori barat yang kapitalistik, menyebabkan bermunculannya reaksi dari para ekonom NSB. Mereka memunculkan teori baru dan mengkritik teori-teori yang mapan. Istilah krisis sebenarnya lebih banyak digunakan oleh ekonom kiri sebagai reaksi terhadap kegagalan teori barat yang kapitalistik diterapkan di NSB.</p> <p>Di dunia nyata istilah krisis lebih merujuk pada suatu permasalahan tertentu. Pandangan lain mengenai krisis dalam konteks teori lebih mengarah pada tahap kritis dari suatugelombang konjungtur yang tidak dapat dibalik prosesnya, kecualiharys ditemukan alternative teori untuk mengubahnyasecara radikal. Dalam kerangka teori kapitalis, suatu perekonomian akan tumbuh dan pada akhirnya bermuara pada suatu kondisi stasioner ,akibat keterbatasan sumberdaya pendukung yang ada. Pada tahap tersebut perekonomian tidak dapat kembali dinamis, karena stuktur yang ada demikian kokoh membangun sistem tersebut. Namun demikian Marx mengingatkan bahwa ekploitasi dari sistem produksi kapitalisme tidak dapat berlangsung terus. Timbulnya kelas dan ekploitasi pekerja, akan menyebabkan kapitalisme menjadi rentan dalam jangka panjang, dan kemudian akan digantikan oleh sosialisme. Pada tahap ini krisis merupakan periode transisi yang terjadi tersebut selalu membawa akibat yang menyakitkan dari yang diharapkan semula.</p> <p>Bahasan mengenai krisis saat ini lebih banyak merujuk pada fenomena krisis secara global. Hal ini didasarkan pada alasan bahwa system adalah suatu hal yang sangat sulit untuk menganalisis perekonomian suatu Negara tanpa melibatkan interaksi Negara tersebut dalam kancah perekonomian dunia. Jika ini yang terjadi maka konsepsi dependensia yang akhirnya muncul, bahwa globalisasi ekonomi justru memperparah ketergantungan Negara miskin terhadap negar maju. Tingkat ketergantungan ini semakin diperparah dengan ekploitasi perekonomian Negara miskin oleh Negara maju. </p> <p>Pemikiran ini banyak diwarnai oleh pemikiran penganut ajaran Marx tradisional, dan pada hakekatnya merupakan reaksi dan eksploitasi system kapitalisme, yang secara sadar atau tidak dilakukan Negara-negara maju terhadap Negara sedang berkembang. Didasarkan pada teori Marx, krisis yang terjadi dalam perekonomian kapitalis berdasar dari system produksinya eksploitatif. Penganut teori Marx memandang system produksi kapitalis hanya dapat dilaksanakan dalam jangka pendek, namun akan gagal dalam jangka panjang. Dalam kerangka berpikir marx, system produksi jangka panjang akan menghasilkan kelas-kelas ekonomi dimana distribusi hasil pembangunan tidak didistribusikan secara merata, bahkan mungkin terjadi eksploitasi antara suatu kelompok terhadap kelompok tertentu. System produksi kapitalisme hanya dapat berjalan dalam jangka panjang, jika kemudian menggunakan pendekatan sosialisme. Oleh karena itu, menurut marx, bentuk sosialisme merupakan kapitalisme dalam jangka panjang. Jika teori pemnangunan didasarkan pada suatu proses jangka panjang semacam ini, maka krisis yang terjadi adalah krisis transisi. </p> <p>Pendekatan lain dari krisis ini adalah dilihat dari peran Negara dalam perekonomian. Regulation school, atau yang lebih dikenal sebagai akibat dari kesalahan regulasi yang mengakibatkan akumulasi krisis yang ada. Pendekatan ini menjelaskan perubahan factor-faktor yang secara esensial mempengruhi keberhasilan ekonomi di amerika Utara dan Eropa Barat, yaitu: mekanisasi produk masal dengan konsumsi masal, produktivitas tenaga kerja yang tinggi bersama tingkat upah pekerja yang tinggi pula, faham kesejahteraan, dan bentuk lain dari intervensi pemerintah. Pada dasranya faham ini lebih mengacu pada teori neoklasik, dimana mekanisme pasar dipercayai sebagai proses terbaik dalam perekonomian. Dalam paham neoklasik, campur tangan pemerintah diusahakan seminimal mungkin, karena mereka beranggapan bahwa campur tangan pemerintah lebih banyak membawa distorsi pada perekonomian. Kaum fordonisme, menganggap bahwa kegagalan pembangunan justru dapat disebabkan oleh adanya campur tangan pemerintah yang tidak tepat.</p> <p>2. Krisis Pembangunan</p> <p>Disamping krisis yang terjadi pada dataran teori, tidak dipungkiri bahwa selama proses pembangunan dapat terjadi krisis dalam proses tersebut. Jikan kita sepakat membagi dunia dalam tiga kategori, yaitu Negara Dunia Pertama, Kedua, dan Ketiga, maka krisis pembangunan yang terjadi di negaranegara tersebut memiliki corak yang berlainan.</p> <p>a. Krisis Di Negara Dunia Pertama</p> <p>Di negara Dunia Pertama, yaitu negara-negara di Eropa Barat dan Amerika Utara, krisisyangterjadidisebabkankegagalanmerekadalammencapaiwelfarestate (negara kesejahteraan). Fakta bahwa negara Dunia Pertama teiah mencapai tahap pembangunanpaling maju relatif terhadap belahan dunia lain, adalah hal yang tidak dapatdipungkiri. Namundemikian,dariratusantahunpengalamanmelaksanakanpembangunan,negarakesejahteraanyangmerekadambakannampaknyamasihjauhdarikenyataan.Negara kesejahteraan merupakan tujuan pembangunan, di mana pembangunan yang berorientasi ke negara ini pada akhirnya diharapkan mampu menyejahterakan masyarakatsecara menyeluruh.Padatahun1970-1980konsepnegara kesejahteraansebagaitujuanpembangunanmulaidipertanyakan.Kinerjapembangunan yangdiwujudkandalampertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, ternyata tidak mampu menjawab tantangan disparitas distribusi pendapatan di antara mereka. Meski kinerja pembangunan di negara DuniaPertama sangatmengagumkan, namunpada saatyangbersamaanangkapengangguran justru semakin meningkat. ArusmigrasipendudukdariNSBkenegara-negaraDuniaPertama,akhirnya semakin meningkatkan problema sosial tersebut. Jenis pengangguran di negara DuniaPertama adalah pengangguran terbuka, yaitu orang menganggur karena secara sukarelamereka menganggur. Hal ini disebabkan upah yang akan mereka terima berada di bawah standar upah yang mereka inginkan, atau jenis pekerjaan yang ditawarkan tidak sesuai denganjenispekerjaanyangdiinginkan.Paraimigranmampumemenuhipasaryang ditinggalkan oleh para pekerja penduduk negara Dunia Pertama. Beranjak dari keuletan sebagai perantau inilah banyak diantara mereka meraih sukses di kemudian hari. Di sisi lain kelompok imigran yang tidak sukses tetap terpuruk dalam kemiskinan, dan semakin memperburuk problema sosial yang ada. Kemunculan gerakan neo-fasisme, rasisme dan peningkatan kriminalitas di negara-negara Dunia Pertama umumnya dilakukan oleh para generasi mudayang frustrasi dengankondisi tersebut. kemunculan gerakan ini justru semakin memperparah kondisi sosial dinegara-negaratersebut.KerusuhanrasialdiLos Angelesmerupakan hasilakhir dari akumulasikrisissosialdiAmerikaSerikat. Kasustersebuttidak terlepas darikrisispembangunan kapitalistik di negara Dunia Pertama. Jikadiamati lebihlanjut,praktishanyaSwediayangmampumendekatikondisi negara kesejahteraan. Satu hal yang ditempuh oleh Swedia dan tidak dilakukan oleh negaraBaratyanglainadalahbahwaSwediamenerapkansistemsosialismedalam perekonomiannya. Sistem sosialisme di Swedia sangat berbeda dengan sistem sosialisme dinegaranegara komunis. Sosialisme di Swedia tidak bersifat totaliter, dan kepemilikan individudihargaisebagaimanakepemilikankolektif melalui koperasi. Titiksentralperbedaan tersebut terletak pada cara pandang terhadap penguasaan sumberdaya dan tujuandari pembangunan itu sendir. Di negara komunis, tujuan pembangunan lebih ditekankanpada kesejahteraan negara. Individu dalam hal ini harus berproduksi dan berkorban demikesejahteraan negara. Diasumsikan bahwa masyarakat individu akan sejahtera jika negara sejahtera.Disisilainsosialisme diSwediadibangundariupayamenyejahterakanmasyarakat secara bersama dengan pengakuan terhadap kepemilikan individu. Keadilantidak dapat dipandang sebagai keadilan absolut, di mana semua orang, tanpa memandangpredikat dan sumbangan mereka,mendapatkanbagianyangsama.Keadilantetap dipandangsebagai suatu halyangrelatif,yaitukompensasidiberikansesuaidengansumbangan individual terhadap masyarakat.Hal di atas nampaknya sulit diterapkan di negara-negara Dunia Pertama yang lain. Permasalahan utama terletak pada ideologi dan sistem politik yang dianut oleh masing-masing negara yang tentunya akan berkaitan dengan sistem ekonomi yangdianut. Suatu sistem ekonomi tertentu hanya dapat dilakukan secara efektif pada satusistem politik/ideologi tertentu. Krisis lain adalah penurunan percepatan pembangunan yang terjadi di negara-negara Dunia Pertama relatif terhadap negara-negara industri baru. Perekonomian Barat yangdemikiankokoh danmaju ternyata tidak mampu membendung defisit neraca perdagangan mereka terhadap Jepang dan beberapa negara industri baru seperti Singapura, Taiwan, KoreaSelatan dan Hongkong fenomena ini menunjukkan bahwanampaknyaperekonomiandinegaraBarattelahsampaipadatitikjenuh,atautitikoptimaldari gelombangkonjungturyangmulaimenunjukkantrendmenurun.Diperlukan berbagai rekayasa dalam sistem perekonomian mereka untuk mampu menjawab tantangan berat dari negara-negara maju di Asia ini.</p> <p>b. Krisis Di Negara Dunia Kedua</p> <p>Di negara dunia kedua, yaitu negara-negara Amerika Latin dan negara-negara Eropa Timur,krisisyangterjadirelatifberbeda.Dinegara-negaraEropaTimur,krisis pembangunan terjadipadadataranideologis.Krisisideologis inilahyang membawa peralihansistempolitik darikomunisme/sosialisme menujukeperekonomianliberal. Ambruknya negara Uni Soviet menunujukkan bahwa masyarakat di negara tersebut tidakpercaya terhadap mekanisme ekonomi yang ada di negara komunis. Perubahan/revolusi sistem politik dan ekonomi di negara-negara komunis di Eropa lainnya. Pada dasarnya didasarkan pada ketidakpercayaan mereka terhadap mekanisme pemerataan kesejahteraan yang mereka anut. Kelemahan mendasar sistem komunisme terletak pada pada cara pandang terhadap keadilan.Disisilainorientasi pembangunan yangmenganggapbahwakesejahteraan individu merupakan derivasi dari kesejahteraan negara, ternyata tidak mampu berjalan dengan baik. Sistem keadilan absolut yang selalu digembor-gemborkan oleh para pemimpin komunis, ternyata justru menciptakan kelas-kelas baru borjuis yang dimotori oleh parapolitisiitusendiri.Revolusiterhadapkelas-kelasmasyarakatkapitalis,ternyatahanya menghilangkankelas-kelas tersebut sementara, namundalamjangkapanjangmuncul kelas-kelas baru yang tidak kalah eksploitatif dibanding kelas borjuis dalam kapitalisme. </p> <p>Dalam pro...</p>