The Paradox of Choice

  • Published on
    29-Jun-2015

  • View
    15

  • Download
    0

Transcript

The Paradox of Choice Hidup ini penuh dengan pilihan. Dan di tengah-tengah kehidupan yang menawarkan lebih banyak pilihan, kita menginginkan kebahagiaan. Apakah dengan bertambahnya pilihan kita menjadi lebih bahagia? Atau sebaliknya kita justru tambah merana? Seperti sebelum aku menulis tulisan ini. Aku memilih di antara belasan hingga puluhan topik yang hendak kutulis. Ada daftar tertulis dan tak tertulis yang seakan bisa tumpah dari pikiranku. Namun kertas hanya tersedia selembar dan layar di depanku ini hanya ada satu dan waktuku terbatas. Aku harus memilih. Seperti saat kita berhadapan dengan rak dipenuhi berbagai merek produk makanan atau sepatu. Ada label harga, corak warna, kemasan berbeda, dan masing-masing menawarkan hal yang tidak sama. Kita harus memilih. Seperti saat kita Googling mencari sebuah halaman yang tepat dengan mengetikkan keyword tertentu. Akan muncul berbagai hasil pencarian. Lagi-lagi, kita harus memilih. Bahkan sebelumnya kita sudah harus memilih keyword apa yang akan kita ketikkan. Barry Schwartz, dalam bukunya The Paradox of Choice, telah mengupasbanyak hal mengenai pilihan dan memilih. Dia menulis kapan dan bagaimana kita memilih dan mengapa kita bisa menderita karena pilihan yang kita ambil dari sudut pandang psikologi. Ditambah satu bab mengenai secarik solusi mengenai apa yang dapat kita lakukan dalam memilih. Seperti saat aku berhenti kemudian berpikir untuk meneruskan atau tidak meneruskan menulis tentang ini. Aku harus memilih. Dan aku memilih untuk tetap menuliskannya. Meskipun ini akan terlihat buruk dan tak layak baca. Tapi menghabiskan waktu sia-sia untuk menulis dan membacanya? Ah kuharap tidak. Karena menuliskannya akan lebih baik bagi diriku daripada tidak menuliskannya. Kuharap ini tidak sia-sia. Ide ini bisa saja terlupakan sebentar lagi saat aku memasuki semester akhir yang penuh dengan perjuangan merangkum catatan perjuangan masa kuliah dalam sebuah buku Tugas Akhir. Dan aku bukan seseorang yang suka kehilangan ide yang bagus. Jadi aku harus menuliskannya. Sebenarnya ide ini bukanlah ide yang baru. Setiap kita pasti pernah mengalami kebingungan dalam memilih. Namun yang baru dalam ide ini adalah mengapa kita bingung (baca: menderita, merana) dalam memilih? Seperti yang baru kubaca di blognya masku, mengenai apa yang seharusnya dilakukannya setelah lulus kuliah?. Membacanya, aku mendapat ide bagus bahwa menghabiskan lebih banyak waktu untuk menganalisis pilihan-pilihan tidak terlalu baik untuk masa depan. Jika nanti terjadi suatu kegagalan dalam pilihan yang kita ambil, orang yang lebih banyak menganalisis akanlebih desperate daripada orang yang lebih mengandalkan insting. Bukan berarti saya menganjurkan untuk lebih mengandalkan insting. Namun kita harus menyeimbangkan batasan analisis yang kita lakukan dengan bumbu spontanitas insting yang membuat pilihan kita menjadi lebih intuitif, unik, dan juga mungkin spesial bagi diri kita sendiri. Itu pasti akan membuat kita lebih puas atas pilihan yang kita ambil.

Kenyataan bahwa beberapa pilihan itu baik tidaklah serta-merta berarti lebih banyak pilihan itu lebih baik. Baiklah, sepertinya saya terlalu banyak menulis kata memilih. Mari kita menggunakan kata yang akrab dengannya: memutuskan. Keputusan membutuhkan sebuah jawaban segera atasunderlying question dalam setiap pilihan: apa tujuan Anda? Apa tujuan Anda membeli biskuit itu? Mengapa harus memilih sepatu sporty atau sepatu futsal? Setelah lulus kuliah, apa saja tujuan yang ingin Anda capai? Setelah tujuan itu didefinisikan secara sadar atau tidak sadar, maka otak kita akan berputar untuk menimbang berbagai faktor yang bisa mendukung pencapaian tujuan-tujuan tersebut. Kegiatan memilih biskuit mungkin menghasilkan faktor: gizi, rasa, kuantitas, kemasan, brand image, dan tentunya harga. Untuk gizi biskuit, mungkin tidak ada yang begitu peduli kecuali orang-orang yang mengidap diabetes. Mengenai rasa, tidak mungkin dibuka di dalam toko karena itu berarti membelinya, kecuali itu adalah biskuit yang dibeli kiloan atau biskuit yang sebelumnya telah dirasakan nikmat sesuai selera. Kuantitas biskuit mungkin berhubungan dengan tujuan nanti akan dibagi kepada temanteman atau dimakan sendiri. Kemasan mempengaruhi timbangan emosional, karena membeli biskuit yang dikemas dengan rapat dan baik akan lebih menarik daripada biskuit yang dikemas asal asalan, membosankan, bahkan berlubang udara (em angnya punya ventilasi? hehe). Dan brand, adalah 60% dari keseluruhan faktor. Biskuit yang mereknya terkenal dengan iklan macannya di televisi akan lebih banyak dipilih daripada biskuit tak bermerek di pojok yang dibungkus dengan kertas dan sebagiannya terlihat transparan karena menyerap minyak. Kemudian faktor harga akan relatif terhadap subjek pembeli: orang kaya atau tidak kaya. Itulah proses memilih. Ada proses menimbang berbagai faktor dan membandingkannya satu sama lain. Memutuskan akan menjadi lebih sulit saat jumlah pilihan bertambah. Misalnya produk biskuit ada 49 jenis produk, sepatu ada 13 merek, hasil pencarian Google ada 21 juta halaman. Belum lagi masalah pilihan yang lebih serius seperti kriteria pendamping hidup, pekerjaan yang diinginkan setelah kuliah, dan lain-lain. Dalam memilih ada proses anchoring atau pembanding dasar. Ini bisa dilakukan setelah kita menyempitkan pilihan. Misalnya membandingkan sepatu Nike 450rb dengan sepatu Reebok 445rb, dengan mengabaikan sepatu Precise, Eagle, dan merek lainnya. Dalam hal ini, sepatu Reebok 445rb yang kita lihat pertama kali di rak atau melalui website adalah anchor yang kita gunakan untuk membandingkan sepatu Nike. (Hal 75) Saat kita makan di restoran atau membaca buku, mungkin kita akan menyukai pengalaman itu atau mungkin juga tidak. Perasaan baik atau buruk berkenaan dengan makanan atau membaca buku dapat disebut kegunaan yang dialami (experienced utility). Namun, sebelum kita benar-benar mengalaminya, kita harus memilihnya. Dan pemilihan itu berdasarkan apa yang kita harapkan untuk kita alami seperti sebelumnya (expected utility). Dan pengalaman-pengalaman tersebut akan diingat (remembered utility). (Hal 57) Setiap saat, kita juga memilih untuk menjadi siapa. Berbagai identitas bisa menjelaskan kita: mahasiswa, dosen, agama, bermobil atau tidak bermobil, ras, suku, dan sebagainya. Namun untuk

menunjukkannya secara utuh adalah sebuah perjuangan mengumpulkan seluruh identitas itu. Atau memilih tingkat kepentingan identitas itu bagi diri kita. Misalnya identitas kita sebagai seorang muslim lebih penting daripada identitas kita sebagai keturunan ras ini atau termasuk suku itu. Orang yang hanya memilih yang maksimalisasi dalam setiap pilihannya akan mengalami kelelahan karena ada begitu banyaknya pilihan. Memilih hanya yang terbaik bisa menyebabkan kita terperangkap dalam proses memilih tanpa akhir. Kita menjadi memiliki perasaan indecisive yang tidak menyenangkan. Belum lagi penyesalan yang mungkin datang setelah keputusan diambil karena ternyata pilihan yang kita abaikan sebelumnya tidak terlalu buruk atau malah bisa lebih baik. Padahal kita tidak pernah tahu sebelum terjadinya. Jadi, hilangkanlah kata seandainya untuk masa lalu, dan bertindaklah lebih proaktif menghadapi segala yang terjadi. Kebahagiaan adalah pilihan... Setelah memilih, ada konsekuensi dan nilai kenikmatan yang berubah yang harus kita terima. Kita akan beradaptasi terhadap nilai kenikmatan yang diberikan oleh hasil pilihan tersebut. Kenikmatan tersebut akan berkurang seiring dengan waktu. Misalnya nilai dari handphone ya baru saja kita ng beli akan berkurang banyak dua atau tiga bulan lagi karena kita semakin terbiasa memakainya. Kita jangan terjebak dalam treadmill kesenangan atau treadmill kepuasan. Handphone itu juga bisa menjadi tidak dapat dinikmati apabila kita selalu membanding-bandingkannya dengan handphone high-end keluaran terbaru atau memperhitungkan biaya peluang (biaya yang harus dikeluarkan untuk menikmati produk atau layanan lain yang menawarkan alternatif yang berbeda) Atau kita . menghancurkan kenikmatan kita sendiri atas handphone itu degnan membandingkan dengan milik teman sebelah yang ternyata lebih canggih. Kita juga harus mengevaluasi segala hal dengan menambahkan sikap realistis agar harapan kita tidak membuat kita terjatuh terlalu keras menjadi depresi berkepanjangan. Beberapa lembar terakhir buku ini menawarkan beberapa solusi yang harus kita lakukan dengan banyaknya pilihan. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Memilih saat harus memilih Jadilah pemilih, bukan asal pilih Lebih merasa puas dan lebih sedikit maksimalisasi Perhitungkan biaya peluang untuk memikirkan biaya peluang Buatlah pilihan kita menjadi tidak dapat diperbarui kembali Menerapkan sikap bersyukur Jangan terlalu sering menyesal Mengantisipasi adaptasi Mengendalikan harapan Kurangi perbandingan sosial Belajar menyukai batasan