The Planners #2 - Transportation Planning

  • Published on
    10-Mar-2016

  • View
    216

  • Download
    0

DESCRIPTION

This edition is discussing about Transportation Planning. It includes issue about Trans Metro Bandung, Jakarta-Bandung Travel phenomenon, and so on.. The Planners is an electronic portfolio consisted of assignments, paperworks, final project, etc, by the students of Urban and Regional Planning Bandung Institute of Technology, Indonesia

Transcript

  • #2 agustus/2010

    Transportation Planning

  • Pelindung: Tizar M.K. Bijaksana

    Pemimpin Redaksi: Ramanditya W.

    Penaggung JawabRazak Radityo

    Ferdinand Patrick P.

    Rera Ayudiani

    Desain:Ramanditya Wimbardana

    Redaksi dan Editor:Ramanditya W., M. Yunus

    Karim, Fitria Ayu Vidayani

    Hyra Annisa, Juliandru Yuska C.

    Tizar M.K. Bijaksana

    dari redaksi

    courtesy :

    kaskus.us-posted by

    kuda hitam

    cover depan

    powered by:

    divisi keprofesian

    HMP Pangripta Loka ITB

    Labtek XA Gedung Perencanaan Wilayah dan

    Kota

    Jalan Ganesha No 10 Bandung

    Indonesia

    Email: majalahtheplanners@ymail.com

    Website:

    www. theplannersmagazine.co.cc

    Salam sejahtera, puji syukur kita ucapkan kepada Tuhan YME karena telah

    diberikan kesempatan atas terbitnya salah satu Maha Karya dari Divisi

    keprofesian kepengurusan HMP periode 2010/2011 The Planners vol.2 ini.

    Di edisi ke-2 ini, core materi yang dibahas adalah transportasi. Alasan kenapa

    transportasi dipilih menjadi core materi pada edisikedua ini karena transportasi

    merupakan salah satu permasalahan strategis dari Kota Bandung maupun

    Negara kita. Pada The Planners edisi ke-2 ini memuat tugas-tugas dari putra-

    putri terbaik perencanaan wilayah dan kota ITB yang membahas

    permasalahan-permasalahan transportasi. Selain itu, kami juga mencoba

    memberikan solusi terhadap permasalahan tersebut. Besar harapan kami, The

    Planners dapat menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat Indonesia

    Namun, yang lebih utama adalah The Planners dapat memacu semangat

    berkarya dari mahasiswa Indonesia untuk berkontribusi dan mengabdi kepada

    masyarakat demi kehidupan berbangsa yang lebih baik.

    Ki-Ka: Ferdi, Julian, Yunus, Vidya, Dityo, Rera, Tizar, Tyo

    Ferdinand Patrick

    Kepala Divisi Keprofesian

    HMP Pangripta Loka

    2010-2011

    courtesy :

    ramanditya

    cover belakang

  • 3daftar konten

    Transportation Planning

    14

    Potret26

    dari redaksi2 3 daftar konten maroon think4

    kata kita

    Kriteria Penetapan

    Lokasi Shelter TMB

    6kata kita

    Telecommuting10

    kata kita

    Infrastruktur Transportasi Kota

    Bandung

    Profil Wilayah & Kota

    Geliat Perkembangan Moda Travel

    di Kota Bandung

    21

  • lintas yang kurang efektif. Peraturan-peraturan lalu lintas

    seperti kurang dipahami kegunaan dan keberadaannya.

    Sebagai contoh permasalahan yang sering timbul adalah

    kendaraan parkir di tepi jalan utama yang mengganggu aliran

    kendaraan-kendaraan yang melintas. Tidak ada tindakan tegas

    yang dilakukan oleh para penegak hukum terkait hal ini. Yang

    ada justru mereka lebih memilih menunggu dan mencari

    kesalahan para pengguna jalan agar ditilang.

    Kemudian masalah infrastruktur yang tidak cepat ditanggapi

    oleh Pemerintah Kota Bandung sendiri. Jalan berlubang dan

    rusak, seharusnya tidak layak untuk dilalui oleh sarana

    transportasi. Lalu lampu lalu lintas yang sering rusak, seperti

    yang terjadi beberapa waktu lalu. Tiap pukul 19.00 WIB,

    Lampu lalu-lintas berubah menjadi kuning, padahal pengguna

    jalan masih padat. Belum lagi posisi lampu lalu lintas yang

    berjauhan dan jalurnya yang semrawut. Tentu saja kita

    sudahbisa menduga apa yang terjadi di sana. Luas jalan yang

    tidak sesuai dengan kuantitas kendaraan bermotor, serta

    kualitas jalan yang cukup memprihatinkan tidak lantas

    ditanggapi secara cepat oleh pihak-pihak yang berwenang.

    Seperti yang kita ketahui bahwa di Bandung sendiri banyak ahli

    yang mengerti bagaimana memberikan solusi pada

    permasalahan ini. Namun, ternyata hal itu tak mengurangi

    kemacetan di kota Bandung. Sebuah produk perencanaan

    yang ideal harus terbatasi dan tak mampu diimplementasikan

    dengan baik karena ternyata permasalahan ini bukan hanya

    permasalahan di satu bagian, yaitu transportasi semata.

    Tetapi terkait juga di dalamnya permasalahan multiaspek,

    multiego, serta multisektor. Ya, intinya sampai kapanpun

    permasalahan ini tak akan pernah selesai jika tidak ada

    ketegasan dan keterbukaan dalam menerima masukkan, serta

    realisasi solusi yang nyata untuk menanggulanginya.

    andung merupakan salah satu kota yang sangat atraktif

    di Indonesia saat ini. Hal ini terlihat dari banyaknya Bmasyarakat, baik dari dalam maupun luar negeri yang rela berkunjung dan menetap di kota ini entah untuk

    berbelanja, menikmati keindahan alam disini, atau hanya

    sekedar mengisi akhir pekan mereka. Keberadaankota

    Bandung sebagai ibukota provinsi Jawa Barat dan besarnya

    peluang serta harapan dalam memperbaiki kualitas hidup

    menjadi faktor penting dalam mendorong masyarakat untuk

    tinggal disini. Selain itu, keberadaan institusi pendidikan yang

    terkenal, mall, factory outlet dan distro merupakan faktor

    pendukung terjadinya fenomena tersebut. Hal ini tentu

    membawa dampak yang sangat baik bagi kota Bandung,

    terutama dari segi ekonomi.

    Namun, disamping dampak positif yang ada, muncul pula

    dampak negatif.Yang paling utama adalah permasalahan lalu

    lintas. Dampak utama yang paling sering bersentuhan

    dengankehidupan sehari-hari kita tentu saja adalah

    kemacetan. Macet seringkali menjadi hal yang sangat

    menjengkelkan. Selain waktu dan tenaga kita terbuang, serta

    tingkat stres meningkat,muncul pula dampak-dampak

    psikologis lainnya yang akan sangat mengganggu

    produktivitas kita dalam menjalani aktivitas kehidupan.

    Permasalahan ini memang sering dihadapi kota Bandung

    terutama di jam-jam berangkat dan pulang kerja, serta di akhir

    pekan, ketika banyak pelancong-pelancong domestik

    terutama dari Jakarta dan sekitarnya.

    Ada beberapa hal yang patut dicermati tentang bagaimana

    masalah kemacetan ini bisa timbul. Yang utama sebetulnya

    adalah kesadaran para pengguna jalan yang kurang.Hal ini

    didukung pula dengan keberadaan peraturan-peraturan lalu

    maroon think

    Siapa yang Salah?

    4Transportation Planning

    courtesy:2.bp.blogspot.com

    Adityo Sumaryadi (15408032)

    Oleh:

  • Call for Papers

    planosphere6

    trans erationgreen

    Seminar Planosphere 6

    Tema:

    Transportasi Publik Sebagai Solusi Kemacetan Kota Bandung

    Seminar merupakan salah satu rangkaian acara Planosphere VI yang

    akan membawa suatu tema kajian mengenai pentingnya public

    transportation di Kota Bandung sebagai solusi dari permasalahan

    kemacetan. Seminar ini akan dihadiri oleh Menteri Perhubungan, mantan

    Menteri Lingkungan Hidup dan stakeholders yang ahli di bidang

    transportasi. Seminar dilaksanakan dengan target pelajar SMA,

    mahasiswa di Kota Bandung, dan seluruh masyarakat umum Kota

    Bandung.

    Dalam seminar ini, mahasiswa di Kota Bandung sebagai insan akademis

    diharapkan dapat menuangkan ilmu pengetahuannya dan menjadi salah

    satu pembicara dalam seminar ini beserta Menteri Perhubungan dan

    seluruh stakeholder terkait. Keterlibatan mahasiswa yang kaya akan ilmu

    pengetahuan dan idealisme diharapkan dapat membuka mata

    masyarakat Kota Bandung dan pemerintah setempat bagaimana

    keadaan transportasi publik dan kecetan yang ada di Bandung.

    Dalam mengirimkan essay, terdapat beberapa kriteria sebagai berikut

    yang harus dipenuhi:

    1. Mahasiswa atau pernah menjadi mahasiswa di salah satu

    universitas di Indonesia dengan latar belakang jurusan sesuai

    topik seminar

    2. Berusia 18-25 tahun

    3. Mengirimkan essay sepanjang 3000 kata

    4. Topik essay:

    a. bagaimana mengoptimalkan public transportation di Kota

    Bandung dalam upaya mengurangi kemacetan

    b. dampak kerusakan lingkungan yang terjadi akibat

    kemacetan di Kota Bandung dan bagaimana transportasi

    publik dapa meminimalisir kerusakan lingkungan

    tersebut

    5. Merupakan pemikiran sendiri dan tidak mengutip dari karya

    orang lain

    6. Dikirim via email ke transgreeneration@ymail.com paling

    lambat tanggal 10 September 2010

    7. Apabila essay lolos dalam tahap seleksi yang telah dilakukan

    oleh panitia, maka akan dihubungi paling lambat setelah 5

    hari kerja untuk kemudian memberikan slide yang akan

    dipresentasikan pada saat seminar kepada panitia

    Contcat Person:

    Heni Herawati (085624142300)

    DINAS PERHUBUNGAN

    JAWA BARAT

  • 6Transportation Planning

    sistem kerja berbasis bus yang

    berhenti di shelter-shelter tertentu

    u n t u k m e n a i k - t u r u n k a n

    penumpangnya. Sehingga dalam

    operasi TMB tidak dikenal istilah

    ngetem yang biasanya menjadi salah

    satu sumber penyebab timbulnya

    kemacetan di jalanan.

    TMB yang merupakan salah satu

    program Pemerintah Kota Bandung ini,

    sangat diharapkan dapat mereformasi

    sistem angkutan umum perkotaan

    menjadi lebih baik lagi, melalui

    manajemen pengelolaan maupun

    penyediaan sarana angkutan masalnya

    yang sesuai dengan keinginan

    masyarakat yaitu aman, nyaman,

    mudah, tepat waktu serta bertarif

    terjangkau dengan standar pelayanan

    yang prima. Akan tetapi, dalam kondisi

    e k s i s t i n g n y a , m a s i h t e r d a p a t

    kekurangan dari TMB ini baik dari segi

    p r a s a r a n a , s a r a n a m a u p u n

    inf rast rukturnya . Kekurangan

    tersebut mengakibatkan harapan-

    harapan yang telah disebutkan tadi

    belum dapat terwujud 100%.

    Meskipun belum dapat terealisasi

    sesuai dengan harapan secara

    sempurna, TMB sebenarnya sudah

    lebih baik dari pada angkutan umum

    lainnya. Adapun kelebihan TMB ini

    adalah lebih aman, nyaman, cepat,

    bertarif terjangkau, serta memiliki

    standar pelayanan yang prima. Hal

    tersebut terlihat dari sarana bus yang

    digunakan TMB berkondisi baik serta

    m e m i l i k i f a s i l i t a s f i s i k d a n

    kelengkapan keamanan yang cukup

    baik, TMB tidak mengenal adanya

    istilah ngetem untuk menunggu

    penumpang, dan juga TMB memiliki

    tarif yang terjangkau yakni Rp

    3.000,00 untuk umum dan Rp

    1.500,00 untuk pelajar/mahasiswa.

    rans Metro Bandung (TMB)

    merupakan sebuah upaya TPemerintah Kota Bandung d a l a m m e m p e r b a i k i s i s te m

    p e l aya n a n a n g ku ta n u m u m

    p e r k o t a a n y a n g s e m a k i n

    semerawut. Pada awalnya, TMB ini

    direncanakan Pemerintah Kota

    Bandung untuk melayani lima

    koridor. Akan tetapi, sampai saat ini,

    baru satu koridor yang bisa

    terealisasi, yaitu koridor Selatan

    (Cibiru-Cimindi) yang meliputi Jl.

    Raya Cibiru, Jl. Soekarno Hatta, Jl.

    Holis, Jl. Jend. Soedirman, dan Jl.

    Rajawali Barat.

    Perbedaan yang mencolok antara

    TMB dengan pelayanan angkutan

    umum perkotaan lain adalah pada

    sistem kerjanya yang menggunakan

    courtesy:rockerzgalau.wordpress.com

  • 7Menurut pemerintah, shelter tersebut

    masih berupa shelter sementara.

    Shelter sementara itu tersebar di 13

    titik sepanjang rute TMB. Shelter-

    shelter tersebut nantinya akan diubah

    menjadi shelter permanen yang

    dilengkapi dengan sistem ticketing,

    sesuai dengan standar yang ada.

    Dalam menentukan lokasi shelter tidak

    bisa ditentukan seenaknya, melainkan

    d i b u t u h k a n k a j i a n u n t u k

    mengidentifikasi lokasi mana sajakah

    yang tepat untuk dijadikan shelter.

    Tepat dalam hal ini berarti lokasi shelter

    harus disesuaikan dengan dengan

    kebutuhan/demand penumpangnya.

    Oleh karena itu, dalam menentukan

    lokasi shelter tersebut, sebaiknya

    di lakukan anal is is karakterist ik

    pergerakkan penumpang dan juga

    analisis pola tata guna lahan sepanjang

    rute yang dilalui. Selain kedua hal

    diatas, kita juga harus memperhatikan

    kriteria perencanaan dari shelter nya itu

    sendiri.

    Analisis pola tata guna lahan berguna

    untuk mengetahui jumlah aktivitas

    atau bangkitan perjalanan dari tiap-

    tiap peruntukkan tata guna lahannya.

    Biasanya kondisi tata guna lahan di

    s u a t u j a l a n i t u t e r d i r i d a r i

    p e r s a w a h a n , p e r m u k i m a n ,

    perkantoran, perdagangan, ataupun

    lahan kosong. Dari jenis kondisi

    tersebut, kita dapat mengetahui

    bangkitan dan tarikan perjalanan

    pada saat ini dan juga dapat

    meramalkan kondisinya pada masa

    yang akan datang.

    Sedangkan dari analisis karakteristik

    pergerakan penumpang, informasi

    yang dapat diambil adalah mengenai

    a lasan/keper luan penumpang

    menggunakan sisem transportasi

    public tersebut. Apakah alasan

    tersebut untuk keperluan sekolah,

    bekerja, berkunjung kerumah kerabat

    Sedangkan untuk kekurangannya, TMB

    b e l u m d i d u k u n g o l e h s i s t e m

    infrastruktur yang memadai. Hal ini

    terlihat dari tidak adanya jalur khusus

    TMB. Sampai sekarang, TMB masih

    menggunakan sistem roadsharing.

    Sistem roadsharing ini biasanya akan

    berpengaruh pada kecepatan dari TMB

    dan juga kemacetan.

    Apalagi jika mengingat jalanan yang

    dilalui TMB adalah jalanan yang rawan

    macet. Selain itu, kekurangan dari TMB

    yang lain adalah kondisi dari shelter nya

    yang belum sesuai dengan standar.

    Sampai saat ini, shelter yang ada masih

    berupa tenda yang dilengkapi dengan

    tempat duduk seadanya. Jika situasi

    sedang hujan, halte menjadi becek dan

    kondisinya semakin semerawut dengan

    banyaknya masyarakat dan pengguna

    motor yang berteduh serta angkot-

    angkot yang ngetem di sekitar halte.

    Sehingga pada saat bus akan berlabuh,

    menjadi kesulitan.

    courtesy:bandung.detik.com

    Transportation Planning

  • maupun untuk sekedar bermain.

    Sebenarnya selain karakteristik

    pergerakkan penumpang dan pola tata

    guna lahan, masih ada satu aspek lagi

    yang harus diperhatikan dalam

    menentukan lokasi shelter yaitu

    kriteria perencanaan dari shelter nya

    i t u s e n d i r i . M e n u r u t G . A .

    Goiannopoulos dalam bukunya yaitu

    Bus Planning and Operation in Urban

    Areas: A Practical Guide, salah satu

    kriteria penempatan shelter jarak

    antara bus stop dari arah yang

    berlawanan minimum 20 meter untuk

    jalan yang tidak terpisah antara kedua

    arahnya. Syarat yang kedua adalah

    sebainya lokasi shelter berada pada

    tata guna lahan sekolah atau rumah

    s a k i t . D e n g a n b e g i t u d a p a t

    diasumsikan pada setiap tempat yang

    memiliki interest point disarankan

    memiliki sebuah shelter bus.

    Setiap tata guna lahan yang memiliki

    karakter komersil yang sangat padat

    seperti pasar dan pertokoan, sebaiknya

    jarak tempat henti bus berdekatan,

    yaitu diantara 200-300 m. Hal ini

    diperlukan untuk melayani tingginya

    demand penumpang dan tingginya

    mobilitas di daerah tersebut. Begitu

    pula pada tata guna lahan lainnya yang

    memiliki tingkat aktivitas dan mobilitas

    yang tinggi seperti perkantoran,

    permukiman, dan sekolah di kota

    diperlukan jarak yang relatif masih

    berdekatan, yaitu 300-500 m. Namun

    pada kawasan pinggiran perkotaan

    dimana aktivitas dan mobilitas

    manusia tidak setinggi di pusat kota,

    jarak shelter t idak lagi harus

    berdekatan. Cukup dengan jarak 500-

    1000 m antara shelter mampu

    mencukupi pelayanan mobilitas di

    kawasan pinggiran.

    Dengan demikian, melihat ketentuan

    yang ada di atas, dapat dibuat

    beberapa kriteria lokasi shelter. Kriteria

    yang terpenting adalah memudahkan

    penumpang da lam melakukan

    perpindahan moda angkutan umum

    atau bus serta tidak mengganggu

    kelancaran lalu lintas. Penyediaan

    lokasi shelter diarahkan dekat dengan

    pusat kegiatan dan permukiman

    karena jumlah penumpang pada tata

    g u n a l a h a n y a n g b e r p o t e n s i

    membangkitkan jumlah penumpang

    yang cukup tinggi.

    Dari hasil analisis tersebut, pada intinya

    diharapkan dapat berfungsi untuk

    memberikan informasi dimana sajakah

    lokasi yang tepat untuk didirikan

    shelter. Informasi-informasi dari

    berbagai input itulah yang akan

    dielaborasikan dan dioverlaykan.

    Sehingga pada akhirnya dapat

    diketahui beberapa alternatif lokasi

    yang sesuai untuk didirikan shelter

    b e r d a s a r k a n k a r a k t e r i s t i k

    pergerakkan penumpang, fungsi tata

    guna lahan, dan criteria perencanaan

    shelter.

    Penentuan lokasi shelter ini menjadi

    sangat penting karena lokasi shelter

    dapat mempengaruhi pendapatan

    pemerintah. Dengan perencanaan

    lokasi shelter yang tepat, maka

    diharapkan pendapatan pemerintah

    pun akan meningkat. Hal tersebut

    dikarenakan, dengan merencanakan

    lokasi shelter yang sesuai dengan

    demand penumpangnya maka

    diharapkan penumpang dari TMB

    pun dapat meningkat. (Dityo)

    8Transportation Planning

    courtesy:bandung.detik.com

    Diana Adriyana (15408032)

    Courtesy:

    Diambil dari tugas kuliah

    PL 4201 Sistem Informasi Perencanaan

  • t ep anners

    Land Use Planning

    9

    DIVISI KEPROFESIAN

    HMP PANGRIPTA LOKA

    PELAYANAN SURVEI

    KUESIONER MENGGUNUNG?

    KAMI SIAP MEMBANTU

    Fanni Harlanni (PL 08)

    08562154887

    POWERED BY:

  • courtesy:upload.wikimedia.org

    diambil dari Tugas Akhir karya:

    Fauzan Ahmad (15404061) dengan judul:

    Studi Estimasi Penghematan Biaya Transportasi

    dari Pelaksanaan Telecommuting

    (Studi Kasus Koridor Jalan Asia Afrika, Bandung)

    kata kita

    Hal yang akan dicari tahu dalam studi

    ini adalah apakah ada penghematan

    yang didapatkan oleh individu pekerja

    di wilayah studi dengan melaksanakan

    telecommuting jika dibandingkan

    dengan biaya transportasi yang

    dikeluarkan.

    Penulis mengambil wilayah studinya

    yaitu di koridor jalan Asia Afrika

    Bandung. Beberapa alasan yang

    menyebabkan koridor ini dipilih

    sebagai wilayah studiantara lain

    karena Jalan Asia Afrika merupakan

    k o r i d o r d e n g a n g u n a l a h a n

    perkantoran dan perusahaan yang

    berpotensi untuk pengembangan

    telecommuting; Bandung. Beberapa

    alasan yang menyebabkan koridor ini

    dipilih sebagai wilayah studi antara

    la in karena Jalan Asia Afr ika

    merupakan koridor dengan guna

    lahan perkantoran dan perusahaan

    y a n g b e r p o t e n s i u n t u k

    pengembangan telecommuting;

    Yang kedua dekat dengan alun-alun

    kota Bandung yang merupakan

    kawasan pusat kota Bandung yang

    m e m i l i k i f u n g s i k o m e r s i a l ,

    perdagangan, dan sosial budaya

    (RTRW Kota Bandung 2013), yang

    merupakan kawasan dengan tingkat

    intensitas pergerakan yang tinggi.

    Yang ketiga memiliki nilai Level Of

    S e r v i c e j a l a n y a n g r e n d a h ,

    menggambarkan bahwa jalan ini

    merupakan salah satu lokasi yang

    alah satu permasalahan

    transportasi yang terjadi di Sp e r k o t a a n a d a l a h p e r m a s a l a h a n k e m a c e t a n .

    Kemacetan sendiri pada dasarnya

    disebabkan oleh aglomerasi

    pergerakan pada waktu dan lokasi

    yang sama. Tamin (dalam Utami,

    2 0 0 6 ) m e n y a t a k a n b a h w a

    pergerakan bekerja yang mencakup

    5 0 - 7 0 % d a r i to ta l j u m l a h

    pergerakan harian di perkotaan ini

    m e n i m b u l k a n b e r b a g a i

    p e r m a s a l a h a n t ra n s p o r t a s i

    perkotaan.

    Di sisi lain, perkembangan teknologi

    telekomunikasi begitu dirasakan

    dalam beberapa tahun terakhir ini.

    Dengan adanya perkembangan

    teknologi ini, pada beberapa

    kegiatan masyarakat keberadaan

    perjalanan bisa digantikan dengan

    i n t e r a k s i m e l a l u i m e d i a

    telekomunikasi yang tersedia.

    Fenomena yang kemudian muncul

    d a r i p e n g g u n a a n m e d i a

    telekomunikasi sebagai pengganti

    perjalanan adalah telecommuting,

    yaitu pekerjaan yang dirancang

    sehingga pekerja menikmati

    fleksibilitas dalam lokasi dan waktu

    kerja. Perjalanan pulang pergi

    antara rumah dan tempat kerja

    pegawai yang berjarak cukup jauh

    dapat digantikan dengan jaringan

    telekomunikasi.

    11Transportation PlanningTransportation Planning

  • pendapatan dan juga waktu

    perjalanan.

    Karena kedua komponen tidak bisa

    digabung dalam perhitungan, maka

    komponen BOK dan PTW akan

    dipisahkan dalam perhitungannya

    dan kemudian dijumlahkan sebagai

    estimasi biaya gabungan.

    Perkiraan Biaya Transportasi

    Masing-masing Moda

    c. i= X t s N 1

    Di mana :

    c. i = confidential interval, yang

    merupakan nilai rentang pada

    keseluruhan pekerja bidang jasa di

    koridor Asia Afrika untuk pengguna

    moda mobil/motor/kendaraan

    umum

    X = nilai rata-rata sampel

    t = nilai student t (karena sampel

    kecil), dipengaruhi oleh jumlah

    sampel

    s = standar deviasi sampel

    N = jumlah sampel

    Berdasarkan perhitungan dengan

    menggunakan rumus tersebut,

    perkiraan untuk biaya gabungan

    transportasi untuk pengguna moda

    mobil pada pekerja jasa di koridor

    Jalan Asia Afrika yang berpotensi

    untuk melakukan telecommuting

    berkisar antara Rp. 34.158 hingga

    Rp.46.853.

    Untuk pengguna moda sepeda

    motor, maka perkiraan biaya

    gabungannya berkisar antara Rp.

    22.779,560 hingga Rp.32.106,980.

    Sedangkan perkiraan untuk biaya

    gabungan transportasi untuk

    pengguna moda kendaraan umum

    berkisar antara Rp. 21.592,250 Rp

    33.493,910.biaya gabungannya

    berkisar antara Rp 22.799,560

    hingga Rp.32.106,980. Sedangkan

    perkiraan untuk biaya gabungan

    transportasi untuk pengguna moda

    kendaraan umum berkisar antara

    Rp. 21.592,250 Rp 33.493,910.

    memiliki permasalahan kemacetan

    di Kota Bandung.

    Perkiraan Biaya Transportasi

    Perhitungan biaya transportasi

    didasarkan kepada perbedaan moda

    yang digunakan, sehingga kita bisa

    membandingkan nilai perkiraan biaya

    untuk telecommuting dengan

    pengeluaran biaya transportasi per

    moda membandingkan n i la i

    p e r k i r a a n b i a y a u n t u k

    t e l e c o m m u t i n g d e n g a n

    pengeluaran biaya transportasi per

    m o d a p e n g e l u a r a n b i a y a

    transportasi per moda

    U n t u k p e r h i t u n g a n b i a y a

    t r a n s p o r t a s i , y a k n i b i a y a

    transportasi gabungan, akan

    dipengaruhi oleh dua komponen

    yakni Komponen Biaya Operasional

    Kendaraan (BOK) dan Komponen

    Penilaian Terhadap Waktu (PTW).

    Komponen BOK dipengaruhi oleh

    jenis moda kendaraan, sementara

    komponen PTW dipengaruhi oleh

    Biaya Operasional Kendaraan

    (BOK: dibagi berdasarkan moda)

    Estimasi Biaya Gabungan pada Populasi

    Estimasi PTW pada PopulasiEstimasi BOK pada Populasi

    Penilaian terhadap Waktu (PTW)

    SKEMA PERHITUNGAN ESTIMASI BIAYA GABUNGAN UNTUK TRANSPORTASI

    courtesy:fauzan ahmad,2010

    12Transportation Planning

  • Perkiraan Biaya Untuk Pelaksanaan

    Telecommuting

    Untuk memperkirakan biaya

    pelaksanaan telecommuting maka

    terlebih dahulu harus diketahui

    komponen biaya pelaksanaan

    telecommuting. Komponen biaya

    pelaksanaan telecommuting, tahap

    yang pertama adalah tahap awal

    (Start Up), diantaranya pemasangan

    perangkat komputer dan koneksi

    internet. Tahap kedua adalah

    keberjalanan telecommuting (on-

    g o i n g ) , d i a n t a r a n y a b i a y a

    berlangganan internet, biaya listrik,

    dan biaya tempat.

    Untuk moda mobi l , dengan

    m e l a k u k a n t e l e c o m m u t i n g

    diperkirakan ter jadi reduksi

    pengeluaran biaya transportasi

    harian sebesar Rp 20. 228 hingga Rp

    32.923 per hari telecommuting

    dilaksanakan. Sementara untuk

    moda sepeda motor, dengan

    m e l a k u k a n t e l e c o m m u t i n g

    diperkirakan ter jadi reduksi

    pengeluaran biaya transportasi

    har ian ind iv idu sebesar Rp

    9.389,560 hingga Rp 18.716,980 per

    hari telecommuting dilaksanakan.

    Untuk moda kendaraan umum,

    dengan melakukan telecommuting

    diperkirakan ter jadi reduksi

    pengeluaran biaya transportasi

    harian individu sebesar Rp.

    8.202,250 hingga Rp. 20.103,910

    p e r h a r i t e l e c o m m u t i n g

    dilaksanakan. (Hyra-Juliandru)

    13Transportation PlanningTransportation Planning

    Tahapan Telecommuting Biaya yang dikeluarkan

    individu (cost)

    Nilai biaya/hari

    Tahap awal

    Pemasangan komputer

    Rp 685

    Pemasangan internet

    Rp 5.104

    Tahap keberjalanan telecommuting

    Biaya berlangganan internet

    Rp 6.500

    Biaya listrik

    Rp 1.641

    Biaya tempat

    Dianggap nol (0),

    karena dilakukan dari

    rumah

    Perkiraan total biaya pengeluaran telecommuting/ hari

    Rp 13.930

    No Jenis Moda Perkiraan Biaya

    Gabungan Transportasi

    (Rp)

    Perkiraan Biaya

    Pelaksanaan

    Telecommuting (Rp)

    Selisih Perbandingan

    (Rp)

    1

    Mobil

    34.158-46.853

    13.930

    20.228

    32.923

    2

    Sepeda Motor

    22.779,560

    32.106,980

    9.289,560

    18.716,980

    3

    Kendaraan Umum

    21.592,250

    33.493,910

    8.202,250

    20.103,910

    SKENARIO PEMBIAYAAN PENYELENGGARAAN TELECOMMUTING

    courtesy:fauzan ahmad,2010

    PERBANDINGAN BIAYA TRANSPORTASI DENGAN PERKIRAAN

    BIAYA PELAKSANAAN TELECOMMUTING

    courtesy:fauzan ahmad,2010

    courtesy:yahoo.com

  • INFRASTRUKTUR

    TRANSPORTASI

    KOTA BANDUNG

    courtesy:panoramio.com

  • 15Transportation PlanningTransportation Planning

    optimal. Perubahan rencana dalam

    sistem infrastruktur transportasi di

    sebuah kota akan mempengaruhi aspek

    sosial dan ekonomi masyarakat. Oleh

    karena itu, diperlukan suatu pengkajian

    terhadap sistem infrastruktur Terminal

    Cicaheum dan Terminal Leuwipanjang

    dalam perannya sebagai terminal tipe A

    di Kota Bandung.

    Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

    Kota Bandung 2010, sistem hirarki

    terminal terdiri dari 16 terminal yang

    meliputi 2 terminal tipe A, 3 terminal

    tipe B, dan 11 terminal tipe C.

    Berdasarkan tabel Tipe dan Luas

    Terminal di Kota Bandung yang

    bersumber dari Dinas Perhubungan

    Kota Bandung, 2009, luas seluruh

    terminal tipe A dan tipe B tidak

    memenuhi standar luas lahan dari hasil

    tinjauan regulasi. Dalam tinjauan

    regulasi, standar luas lahan terminal

    nfrastruktur adalah suatu sistem

    fasilitas umum, baik yang didanai Ioleh pemerintah, maupun swasta yang menyediakan pelayanan yang

    penting dan mendukung pencapaian

    standar kehidupan (Hudson, et al,

    1997). Infrastruktur terbagi menjadi

    tiga, yaitu infrastruktur sumber daya

    manusia (personal infrastructure),

    infrastruktur organisasi (institutional

    infrastructure) dan infrasturktur fisik (

    physical infrastructure). Infrastruktur

    fisik melingkup berbagai macam

    fas i l i tas , termasuk sa lah satu

    d i a n t a r a n y a a d a l a h f a s i l i t a s

    transportasi, baik darat, laut maupun

    udara. Ber ikut in i merupakan

    pembahasan fasilitas transportasi di

    kota bandung.

    Terminal Cicaheum dan Leuwipanjang

    Pembangunan terminal di suatu kota

    b e r t u j u a n u n t u k m e n u n j a n g

    kelancaran mobilitas orang maupun

    arus barang dan untuk terlaksananya

    keterpaduan intra dan antar moda

    secara lancar dan tertib. Terminal

    sendiri, dalam menjalankan perannya

    dibagi menjadi tiga tipe, yaitu tipe A,

    tipe B, dan tipe C yang memiliki wilayah

    cakupan pelayanan yang berbeda-

    beda.

    Kota Bandung memiliki dua buah

    terminal tipe A, yaitu Terminal

    Cicaheum, dan Terminal Leuwipanjang.

    Saat ini Terminal Cicaheum melayani

    pergerakan regional ke arah Timur

    sedangkan Terminal Leuwipanjang

    melayani pergerakan ke arah Barat.

    Dalam Rencana Tata Ruang Wilayah

    Kota Bandung 2013, pembangunan

    terminal tipe A akan diselenggarakan di

    WP Gedebage untuk melayani

    pergerakan regional ke arah Barat dan

    Timur serta pergerakan antar propinsi.

    Sistem infrastruktur transportasi yang

    memadai sangat diperlukan untuk

    mendukung pembangunan kota yang

    kata kita

    TIPE TERMINAL

    KONDISI TERMINAL KOTA BANDUNG

    courtesy: observarsi lapangan

    courtesy:kuliah perencanaan transportasi dan infrastruktur

  • Dalam RTRW Kota Bandung tahun

    2013, Terminal Cicaheum tidak lagi

    menjadi terminal yang melayani jasa

    angkutan umum masyarakat Bandung.

    Pergerakan intra-regional ke arah timur,

    antar kota dalam propinsi (AKDP), akan

    dipindahkan dari Terminal Cicaheum ke

    Terminal Terpadu Gedebage. Hal ini

    merupakan peluang bagi pemerintah

    untuk mengatasi kemacetan di daerah

    tersebut. Cicaheum adalah salah satu

    kawasan yang sering mengalami

    kemacetan terutama pada jam pulang

    kerja. Dengan dipindahkannya Terminal

    Cicaheum, kemacetan dapat lebih

    m u d a h d i a t a s i k a r e n a d a p a t

    mengurangi volume kendaraan di jalan

    tersebut.

    Begitu pula Terminal Leuwipanjang

    yang tidak lagi menjadi terminal tipe A

    di Kota Bandung. Terminal ini menjadi

    terminal tipe B yang melayani

    pergerakan intra-regional, antar kota

    dalam proponsi (AKDP), ke arah barat

    dan selatan. Hal ini merupakan peluang

    bagi pihak pengelola terminal karena

    dapat mengoptimalkan peran dan

    fungsinya sebagai terminal tipe B di

    Kota Bandung. Luas lahan Terminal 2

    Leuwipanjang sebesar 40.000 m

    memenuhi standar terminal tipe B yaitu 2

    sekurang-kurangnya adalah 30.000 m .

    Bandara Hussein Sastranegara

    B a n d a r U d a ra a ta u B a n d a ra

    merupakan sebuah infrastruktur

    untuk pesawat terbang, seperti

    pesawat udara dan helikopter, agar

    dapat lepas landas dan mendarat

    pada suatu lindasan pacu. Suatu

    bandara minimal memiliki sebuah

    landasan pacu atau helipad (untuk

    pendaratan helikopter), sedangkan

    untuk bandara-bandara besar

    biasanya dilengkapi dengan berbagai

    fasilitas lain, baik untuk operator

    layanan maupun bagi penggunanya,

    seperti bangunan terminal dan

    hanggar pesawat.

    Prasarana bandara di Indonesia

    diklasifikasikan dalam enam kelas

    HIngga akhir tahun 2002, Indonesia

    te l a h m e m i l i k i 1 8 7 b a n d a ra

    umum.Default Paragraph Font;Dari

    187 bandara yang dimiliki Indonesia,

    23 diantaranya dikelola oleh BUMN,

    .

    tipe A adalah 5 ha dan standar terminal

    tipe B adalah 3 ha sedangkan luas lahan

    terminal tipe C disesuaikan dengan

    permintaan angkutan. Selain itu, ada

    dua terminal tipe C yang tidak memiliki

    lahan sehingga harus menggunakan

    b a d a n j a l a n u n t u k m e l a y a n i

    penumpang. Hal ini menunjukkan

    adanya permintaan penumpang

    terhadap angkutan kota yang tidak

    diimbangi dengan pelayanan angkutan

    umum yang optimal.

    Luas lahan Terminal Cicaheum sebesar 2

    11.500 m dan Terminal Leuwipanjang 2

    sebesar 40.000 m tidak memenuhi

    persyaratan luas terminal tipe A

    menurut Keputusan Menteri No 31

    Tahun 1995 yang menyebutkan bahwa

    luas lahan terminal tipe A di Pulau Jawa

    sekurang-kurangnya sebesar 50.000 2

    m . Dengan luas lahan yang tidak

    memenuhi persyaratan membuat

    kedua terminal ini tidak dapat

    menampung jumlah bus-bus secara

    keseluruhan. Dengan luas lahan yang

    terbatas juga menyebabkan tidak

    terpenuhinya sarana dan prasarana di

    terminal ini. Akibatnya pelayanan

    kebutuhan penumpang di Terminal

    Cicaheum dan Terminal Leuwipanjang

    sebagai terminal tipe A masih dianggap

    kurang baik.

    courtesy: observarsi lapangan

    16Transportation Planning

  • Bandara Husein Sastranegara memiliki

    fasilitas pelayanan yang cukup optimal

    untuk digolongkan sebagai sebuah

    bandara internasional. Fasilitas pada

    bandara seperti tempat parkir

    ke n d a ra a n b e r m o t o r, g e d u n g

    perkantoran/administrasi, pengolahan

    limbah cair, pengadaan transportasi

    darat (taksi, rental mobil), pengadaan

    telepon umum, restoran dan kafetaria,

    serta toko souvenir dan oleh-oleh telah

    t e r s e d i a d i B a n d a r a H u s e i n

    Sastranegara ini.

    C a l o n p e n u m p a n g p u n d a p a t

    menikmati fasilitas dua eksekutif

    lounge, Parahyangan dan Sangkuriang

    dengan hanya membayar Rp. 30.000

    per orang. Fasilitas yang didapat

    berupa internet gratis, TV, Musholla,

    makanan dan minuman, serta ruang

    tunggu yang nyaman. Jika para

    pengguna bandara membutuhkan

    transaksi cepat, disediakan pula dua

    mesin ATM.

    Sepert i yang telah disebutkan

    sebelumnya , di Bandara Husein

    Sastranegara terdapat wilayah yang

    dimiliki oleh TNI AURI. Oleh karena itu,

    tidak hanya penerbangan yang

    diperuntukkan untuk kebutuhan

    publik yang tersedia, tetapi terdapat

    pula aktivitas penerbangan militer

    yang dimil ik i o leh TNI AURI.

    Pe n e r b a n ga n m i l i t e r k h u s u s

    diperuntukkan pada aktivitas militer.

    Sistem yang digunakan tentunya

    berbeda dengan bandara umum yang

    diperuntukkan bagi publik. Jenis-jenis

    penerbangan yang dilakukan oleh

    militer adalah penerbangan test

    flight, penerbangan dukungan terjun

    dan penerbangan umum. Kemudian

    jenis pesawat yang dimiliki militer

    pada pangkalan udara ini, antara lain

    CN-235, F-27, C-130, T-34 C, AS-202,

    dan B-737.

    Bandara Husein Sastranegara

    melayani penerbangan domestik dan

    internasional. Pada penerbangan

    d o m e s t i k , b a n d a r a H u s e i n

    Sastranegara memiliki tiga buah

    maskapai, antara lain Merpati

    yaitu PT Angkasa Pura I dan PT Angkasa

    Pura II. Sedangkan 164 bandara lainnya

    dikelola oleh pemerintah melalui unit

    pelaksana teknis (UPT) Departemen

    Perhubungan dan Otorita Batam.

    Selain bandara umum, terdapat pula 32

    bandara khusus yang dimiliki dan

    dikelola oleh perusahaan yang

    bergerak dibidang pertambangan dan

    perhutanan untuk keperluan internal

    perusahaan. Di samping itu, masih

    terdapat fasilitas pendaratan bagi

    helikopter, antara lain 57 helipad, 50

    heliport, dan 69 helideck yang

    semuanya dimiliki dan dioperasikan

    oleh perusahaan swasta.

    Kota Bandung memiliki sebuah bandar

    udara internasional, yaitu Bandar

    Udara Hussein Sastranegara. Bandara

    ini terletak 5 km dari pusat kota di

    Bandung dan dapat ditempuh dengan

    menggunakan taksi ataupun angkutan

    umum. Bandara Husein Sastranegara

    menempati area lahan 145 hektar

    dengan luas gedung operasional 5000

    2

    m dan luar terminal penumpang

    2

    2.411,85 m .

    Pada bagian utara Bandara terdapat

    landasan pacu dan hangar milik PT

    Dirgantara Indonesia, dan bagian barat

    laut bandara merupakan wilayah milik

    TNI Angkatan Udara Republ ik

    Indonesia (AURI). Landasan pacu

    bandara ini telah diperpanjang dari

    1.960 m menjadi 2.220 m sehingga

    mampu didarati pesawat sekelas

    Boeing 737-200. Selain itu Bandara

    juga dilengkapi dengan PAPI (Pecision

    Approach Path Indocator) dan VOR

    (VHF Omnidirectional Radio Range),

    yaitu piranti yang membantu pesawat

    mendarat di malam hari serta

    perangkat bantu navigasi lainnya.

    courtesy: observarsi lapangan

    17Transportation PlanningTransportation Planning

  • mengantisipasi kejadian-kejadian yang

    tidak diharapkan oleh setiap aspek.

    P e m b e r l a k u a n s i s t e m

    keamanan berbeda bagi kedatangan

    p e n u m p a n g d o m e s t i k d a n

    internasional. Para penumpang

    internasional yang mendarat harus

    melalui beberapa tahap keamanan,

    antara lain pengecekan visa dan paspor,

    kemudian pengecekan barang-barang

    yang dibawa oleh penumpang, dan

    pengecekan uang tunai yang dibawa

    o l e h p e n u m p a n g . U nt u k p a ra

    p e n u m p a n g d o m e s t i k , s i s t e m

    keamanan yang diberlakukan hanya

    difokuskan pada barang-barang yang

    dibawa dan penumpang itu sendiri.

    Tidak diberlakukan pengecekan surat-

    surat tertentu. Pada bagian kargo

    barang, terdapat sistem tersendiri yang

    digunakan oleh pihak bandara yang

    bekerja sama dengan Bea-Cukai dalam

    pengecekan cargo yang ada.

    Stasiun Kota Bandung

    Stasiun Bandung atau Stasiun Hall

    adalah stasiun utama kereta api di

    Kota Bandung. Stasiun berketinggian

    +709 m dpl ini menjadi batas antara

    Kelurahan Pasirkaliki dan Kebonjeruk.

    Stasiun Hall sebelumnya hanya

    memiliki satu buah stasiun, tetapi

    setelah ada renovasi oleh pemerintah

    kota Bandung maka Stasiun Hall

    sekarang terbagi menjadi dua bagian

    walaupun tetap bersatu. Kondisi fisik

    stasiun Bandung ini memiliki fasilitas

    yang cukup untuk stasiun pusat yang

    ada di Bandung. Aksesibilitas stasiun

    ini juga baik dan dilalui banyak

    kendaraan umum seperti angkutan

    kota dan taksi. Keadaan di stasiun

    Bandung ini sangat nyaman dengan

    fasilitas peron yang banyak dan bersih

    serta tersedianya kebutuhan-

    ke b u t u h a n b a g i p a r a c a l o n

    penumpang, kondisi tersebut sangat

    Airlines, Sriwijaya Airlines dan

    Indonesia Air Asia. Adapun yang

    menjadi kota-kota tujuan penerbangan

    tersebut adalah Bandung-Surabaya-

    Bandung, Bandung-Batam-Bandung

    dan Bandung-Denpasar-Bandung.

    Pada penerbangan internasional,

    Bandara Husein Sastranegara hanya

    menyediakan dua kota tujuan, yaitu

    Singapura dan Kuala Lumpur. Penyedia

    penerbangan internasional tersebut

    adalah maskapai Indonesia Air Asia.

    Tipe pesawat yang digunakan dalam

    kedua penerbangan ini adalah pesawat

    dengan tipe Boeing 737-300 dan

    Boeing 737-200 hanya digunakan pada

    penerbangan domestik. Rencananya

    pesawat besar dengan tipe AirBus A320

    akan menjadi pesawat tambahan

    setelah perbaikan-perbaikan pada

    Bandara Husein Sastranegara ini selesai

    dilaksanakan.

    Sistem keamanan bandara Husein

    Sastranegara telah memenuhi hampir

    setiap aspek pada setiap standar

    penerbangan yang telah ditetapkan.

    Dimulai dari setiap kedatangan dan

    keberangkatan penumpang akan

    diperiksa dengan alat-alat X-Ray untuk

    setiap barang yang dibawa oleh

    penumpang, Walk through pada saat

    penumpang memasuki bandara, dan

    Metal Detector untuk barang-barang

    dengan jenis metal. Setelah itu,

    disetiap sudut bandara sudah terdapat

    security CCTV yang berguna untuk

    mengawasi set iap k inerja dan

    pergerakan yang terjadi di bandara.

    Adanya pintu darurat disetiap lantai

    pada gedung operasional untuk

    18Transportation Planning

    courtesy: th1979.wordpress.com

  • Stasiun Kiaracondong adalah salah

    satu stasiun kecil yang ada di Kota

    Bandung. Stasiun berketinggian + 681

    m dpl ini terdapat di kecamatan

    Kiaracondong. Stasiun yang menjadi

    tempat pemberhentian setiap kereta

    api jurusan Jawa Tengah dan Jawa

    Timur ini memiliki infrastruktur yang

    mendukung kegiatan perkeretaapian.

    Stasiun ini juga menjadi tempat

    pemberangkatan kereta api kelas

    ekonomi antar wilayah se-Bandung dan

    keluar wilayah Bandung. Stasiun

    Kiaracondong ini diberi fasilitas yang

    hanya cukup untuk keperluan stasiun

    itu sendiri. Tidak lebih banyak daripada

    stasiun besar untuk menunjang

    kenyamanan penumpang dan calon

    penumpang kereta api. Fasilitas seperti

    ruang tunggu (untuk ruang VIP

    dilengkapi AC), restoran, toilet,

    mushola, area parkir, sarana keamanan

    (polisi khusus kereta api), sarana

    komunikasi, dan dipo lokomotif (sangat

    jarang).

    Pengoperasian sarana dan prasarana

    kereta api perlu dilakukan oleh tenaga

    -tenaga yang telah memiliki kualifikasi

    keahlian sesuai bidangnya. Penyediaan

    dan perawatan prasarana kereta api

    pada prinsipnya dilakukan oleh

    Pemerintah dan dapat dilimpahkan

    kepada badan penye leng gara .

    P e n g u s a h a a n p r a s a r a n a d a n

    saranakereta api, penyediaan, dan

    perawatan sarana kereta api dilakukan

    oleh badan penyelenggar. .

    Dalam Peraturan Pemerintah nomor

    69 tahun 1998 tentang prasarana dan

    sarana kereta api, diatur ketentuan

    mengenai prasarana kereta api, sarana

    kereta api, penyediaan, perawatan,

    pengusahaan, pemeriksaan dan

    pengujian prasarana dan sarana kereta

    a p i , k e r j a s a m a d a l a m

    penyelenggaraan perkeretaapian serta

    penyediaan fasilitas untuk penyandang

    cacat dan/atau orang sakit. Dari

    keterangan-keterangan di atas, sangat

    j e l a s b a h w a s t a s i u n s a n g a t

    d i p e r h a t i k a n a d a d i b a w a h

    pengawasan pemerintah. (Yunus-

    Vidya)

    dibutuhkan bagi stasiun pusat di kota

    Bandung ini.

    Fasilitas komunikasi juga sudah sangat

    baik. Hal ini terlihat dari sistem

    komunikasi kepada calon penumpang,

    komunikasi antar pos-pos yang

    tersedia, dan komunikasi antara stasiun

    dan kereta api yang akan datang.

    Komunikasi terhadap bagian pengatur

    lintasan kereta api merupakan hal yang

    sangat sangat penting karena menjadi

    bagian dari mekanisme stasiun.

    Pengatur perjalanan di stasiun ini

    menggunakan wesel sebagai alat

    otomatis pemindahan jalur.

    Kondisi fisik dari wesel tersebut baik

    d a n m e m i l i k i ke m a j u a n d a r i

    sebelumnya yang dilaksanakan secara

    manual oleh petugas pengaturan jalur.

    Jalur kereta api atau rel kereta api pun

    sangat diperhatikan kondisinya, mulai

    d a r i p e m a k a i a n y a h i n g g a

    perawatannya. Perawatan rel kereta

    api di stasiun Bandung ini dilaksanakan

    berdasarkan waktu yaitu setiap

    triwulan, semester atau per tahun.

    Artikel Stasiun

    Ki-Ka: Fernando S. (15408018), Sandra K. (15408054), Fanni H. (15408058), Hafis A. (1540874)

    Ki-Ka: Dian L. (15408046), Purwa C.L. (15408056), Afrizal R. (15408002),

    Hafis A. (1540874)

    t ep anners19

    Transportation Planning

    Artikel Bandara

    Artikel Terminal

    Ki-Ka: Adi F.. (15408060), Fandi P. (15408064), Fazil I. (15408068),

    Diambil dari tugas kuliah

    PL 2104 Infrastruktur Wilayah dan Kota

  • DIVISI KEPROFESIAN

    HMP PANGRIPTA LOKA

    Peduli Bandungdi

    Kajian ON AIR

    Pukul 10.00

    Setiap Hari Sabtu

    Setiap Dua Minggu Sekali

    Contact Person:

    Sandra Kurniawati (08562180353)

  • Profil Wilayah & KotaOleh Laporan Kelompok Studio B Semester Genap Tahun 2008-2009

    dalam Mata Kuliah PL 2290 Studio Proses Perencanaan dengan judul:

    IDENTIFIKASI PERKEMBANGAN MODA TRAVEL DI KOTA BANDUNG

    SEBELUM DAN SESUDAH ADANYA TOL PURBALEUNYI

    GELIAT PERKEMBANGAN

    MODA TRAVEL

    DI KOTA BANDUNG

    courtesy: cipaganti.co.id

  • di Kota Bandung. Premis ini yang

    mengantarkan mahasiswa PWK ITB yang

    tergabung dalam studio proses B

    a n g kata n 2 0 0 7 u nt u k m e n e l i t i

    perubahan-perubahan seperti apa yang

    sebenarnya terjadi di Kota Bandung

    akibat eksistensi, persebaran, dan

    aktivitas dari jasa travel di Kota Bandung.

    Penelitian ini diberi judul: Identifikasi

    Perkembangan Moda Travel di Kota

    Bandung Sebelum dan Sesudah adanya

    TOL Purbaleunyi.

    Secara spesifik, penelitian yang

    dilakukan bertujuan untuk memahami

    karakteristik kegiatan moda travel

    antarkota di Kota Bandung, yang

    m e l i p u t i : b a g a i m a n a p o l a

    persebarannya, siapa penggunanya, apa

    motivasi menggunakan travel, siapa

    p e n g u s a h a n y a , a p a a l a s a n

    menempatkan pool travel di wilayah

    tertentu, apa keterkaitannya dengan

    pola peruntukkan lahan kota, dan

    bagaimana kompetisinya dengan moda

    la in , apa sa ja kebutuhan yang

    menunjang perkembangan travel, dan

    apa dampak positif dan negatif dari

    perkembangan travel antarkota ini

    terhadap Kota Bandung secara

    keseluruhan.

    Untuk melangsungkan penelitian ini,

    studio B melakukan rangkaian

    pengumpulan dan analisis data secara

    komprehensif. Pengumpulan data

    d i l a k u k a n d e n g a n k u e s i o n e r,

    w a w a n c a r a , d a n o b s e r v a s i .

    Respondennya sendiri mencakup

    berbagai pihak termasuk konsumen

    travel, perusahaan penyedia jasa

    travel, pedagang, penyedia jasa

    transportasi selain travel, penduduk

    sekitar, dan instansi pemerintah yang

    terkait.

    Analisis yang dilakukan sebagian besar

    menggunakan metode analisis statistik

    deskriptif, dan asosiasi. Setelah hampir

    4 bulan melakukan penelitian, dengan

    1 pekan yang didedikasikan untuk

    melakukan survei data primer, studio B

    berhasi l menjawab pertanyaan

    penelitian ini dengan merumuskan

    berbagai kesimpulan terkait aktivitas

    travel dan perkembangannya di Kota

    Bandung. Sebagai teaser, ternyata ada

    64 penyedia jasa travel yang tersebar di

    seluruh Kota Bandung, terutama di 3

    spot aglomerasi.

    Kesimpulan pertama yang dapat

    diambil adalah mengenai pola

    persebaran dari travel di Kota Bandung.

    Persebaran pool travel sebelum adanya

    tol purbaleunyi sanagtlah beragam dan

    banyak. Pola persebaran travel di Kota

    B a n d u n g s e t e l a h a d a n y a t o l

    purbaleunyi mengalami fenomena

    aglomerasi di tiga kawasan dari

    d e l a p a n ka w a s a n y a n g t e l a h

    ditentukan sebelumnya yaitu kawasan

    cihampelas, pasteur, dan MTC.

    Ditemukan bahwa travel yang tidak

    beraglomerasi umumnya merupakan

    travel yang bersifat door to door.

    Seperti yang diketahui bahwa travel

    d o o r t o d o o r m e n j e m p u t

    pelanggannya sehingga letak pool

    travel t idak akan berpengaruh

    terhadap jalannya usaha tersebut.

    Meski demikian terdapat pula travel

    pool to pool yang tidak beraglomerasi,

    karena adanya keinginan perusahaan

    travel tersebut mencari pasar atau

    market yang berbeda dengan

    erkembangan moda travel di

    Kota Bandung cukup meningkat Psemenjak telah diresmikannya pembangunan infrastruktur jalan Tol

    Purbaleunyi yang membuat jarak

    antara Jakarta-Bandung semakin

    dekat. Hal ini tentunya disukai oleh

    masyarakat terutama pendatang kota

    Bandung yang berasal dari Jakarta

    karena waktu perjalanan antara

    J a k a r t a - B a n d u n g l e b i h c e p a t

    dibandingkan sebelumnya yang harus

    melewati jalur Puncak sebagai akses

    menuju dua kota tersebut.

    Kota Bandung sendiri memang

    merupakan salah satu tujuan wisata

    yang paling diminati terutama warga

    Jakarta yang menginginkan suasana

    yang lebih sejuk dan memiliki

    p a n o r a m a y a n g l e b i h i n d a h

    dibandingkan suasana kota Jakarta

    yang penuh sesak. Selain itu faktor-

    faktor lain yang menyebabkan

    perkembangan moda travel di kota

    Bandung cukup meningkat adalah

    karena kota Bandung dikenal akan

    pusat perbelanjaan, pendidikan,

    perdagangan, dan juga pariwisata.

    Perkembangan yang pesat ini tentunya

    membawa perubahan bagi kondisi

    transportasi dan aktivitas masyarakat

    22Transportation Planning

    courtesy: 2.bp.blogspot.com

  • 23Transportation PlanningTransportation Planning

    usaha travel sudah memadai, namun

    masih ada perusahaan travel yang

    beranggaapan bahwa sarana dan

    prasarana seperti jalan, penerangan dan

    lainnya masih perlu diperbaiki atau

    diperhatikan kelayakannya. Selain itu

    masih banyak perusahaan travel yang

    membutuhkan adanya kemudahan

    birokrasi karena kemudahan dalam

    birokrasi dapat meminimalkan biaya

    administrasi.

    Dalam melihat keterkaitan antar aktivitas

    travel dan guna lahan, ditemukan bahwa

    keberadaan pool travel di suatu lahan

    tertentu tidak mempengaruhi pola

    p e r u n t u ka n l a h a n ko t a s e c a ra

    keseluruhan akan tetapi, keberadaan

    pool travel yang mengikuti pola

    peruntukan lahan kota. Hal in i

    disebabkan, guna lahan Kota Bandung

    tidak mengalami perkembangan yang

    signifikan ketika pool-pool travel yang

    ada mulai berkembang. Dengan kata lain,

    perusahaan-perusahaan travel mencoba

    memanfaatkan guna lahan yang telah

    terbentuk untuk memperoleh market

    dari bisnis tersebut.

    Keberadaan travel di Kota Bandung

    membawa dampak terhadap moda

    trasportasi lainnya, seperti kereta api dan

    bus antarkota. Setelah berkembangnya

    moda travel antarkota, baik kereta api

    maupun bus antarkota mengalami

    penurunan penumpang sangat sangat

    signifikan. Masyarakat cenderung lebih

    memilih travel untuk melakukan

    perjalanan antarkota karena beberapa

    keunggulan travel antarkota.

    Selain kompetisi dengan moda

    transportasi lain, kompetisi antar

    perusahaan travel juga berlangsung

    sengit. Hal tersebut antara lain adanya

    perang tarif antar perusahaan travel,

    jenis pelayanan yang berbeda, dan juga

    kompetisi lokasi peletakan pool dan

    terminal. Selain itu, pool travel dapat

    dikatakan lebih strategis dan mudah

    dijangkau, sehingga jarak yang

    ditempuh antar kota pun menjadi lebih

    dekat. Sedangkan untuk kereta api

    letak stasiun hanya terdapat di

    beberapa tempat sehingga perjalanan

    yang harus ditempuh menjadi lebih

    jauh.

    Selain dari kesimpulan-kesimpulan

    sebelumnya, penelitian yang dilakukan

    juga menunjukkan bahwa adanya

    travel di Kota Bandung menimbulkan

    dampak negatif ataupun dampak

    positif dilihat dari berbagai aspek

    kehidupan Kota Bandung. (Tizar)

    perusahaan lainnya sehingga tidak

    perlu bersaing kuat dengan travel

    lainnya. Aglomerasi ini disebabkan oleh

    beberapa faktor diantaranya adalah

    guna lahan yang tepat, permintaan

    pasar yang tinggi, aksesibilitas yang

    mudah, dan fasilitas penunjang yang

    mendukung kegiatan usaha travel

    Adapun gejala aglomerasi yang

    ditunjukkan oleh pool travel antarkota

    di Kota Bandung tentu disebabkan oleh

    alasan-alasan tertentu dari pihak

    perusahaan travel bersangkutan. Hasil

    penelit ian menjelaskan, alasan

    penempatan pool suatu travel

    berdasarkan kuesioner yang diberikan

    ke beberapa perusahaan travel,

    disebabkan oleh beberapa faktor.

    Faktor dalam pemilihan lokasi tersebut

    diantaranya aksesibilitas yang mudah,

    tingginya kebutuhan pasar, dan

    mengikuti trend adanya aglomerasi.

    Kesimpulan kedua yang dapat diambil

    adalah mengenai pengguna travel.

    Responden pengguna travel yang di

    survei dominan berada pada rentang

    usia berusia 20-40 tahun. Rentang usia

    tersebut merupakan usia produktif

    dimana pada usia tersebut lebih

    banyak melakukan kegiatan apabila

    dibandingkan dengan yang tidak

    produktif. Lebih spesifik, responden

    yang disurvei ternyata paling banyak

    memiliki pekerjaan sebagai karyawan

    swasta.

    Ditemukan pula bahwa pengusaha

    travel didominasi oleh pengusaha dari

    pihak swasta. Dengan mayoritas usaha

    travel didirikan oleh perseorangan atau

    sendiri. Selain itu mayoritas pendirian

    travel diakibatkan oleh adanya tol

    purbaleunyi bagi travel pool to pool

    sedangkan untuk travel door to door

    motivasi pendirian travelnya adalah

    untuk membuat inovasi dalam

    penyediaan moda transportasi

    antarkota di Indonesia.

    Secara garis besar perusahaan travel

    yang disurvei beranggapan bahwa

    infrastruktur yang menunjang kegiatan

    courtesy: 2.bp.blogspot.com

    courtesy: studio B

    DAMPAK PERKEMBANGAN MODA TRAVEL DI KOTA BANDUNG

  • Potret

    courtesy:skyscrappercity.com/chris lyanto

    Wajah Transportasi Kita

    courtesy:rakyatmerdeka.co.id

  • courtesy:sosbud.kompasiana.com

    courtesy:fenz-capri.blogspot.com

  • coming soon

    in October

    t ep anners

    Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14Page 15Page 16Page 17Page 18Page 19Page 20Page 21Page 22Page 23Page 24Page 25Page 26

Recommended

View more >