TRANSFER PRICING

  • Published on
    01-Jul-2015

  • View
    571

  • Download
    9

Embed Size (px)

Transcript

<p>Oleh Kelompok 2 : 1. Agus Rosidi 2. Sri Purwaningsih 3. Suparmo 4. Yuniarsih 5. Sri Sukartika 6. Endang Peni Sejati 7. Zumri</p> <p>PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN UNIVERSITAS SEMARANG 2010</p> <p>a.Definisi harga tranfer : Arti Sempit: adalah harga perpindahan barang atau jasa antara dua pusat laba atau lebih. Arti Luas: adalah harga perpindahan barang atau jasa yang dipertukarkan antar unit-unit atau antar pusat pertanggungnjawaban dalam suatu organisasi. sourcing decision transfer price decision.</p> <p>b. Pusat laba adalah pusat pertanggungjawaban yang prestasi manajernya diukur berdasarkan laba (selisih antara pendapatan dan beban) yang diperoleh. Manfaat Pusat Laba Kualitas keputusan manajer lebih meningkat. Kecepatan pengambilan keputusan operasional lebih cepat. Manajer kantor pusat dapat lebih berkonsentrasi pada hal-hal yang lebih luas. Manajer lebih bebas menunjukkan imajinasi dan inisiatifnya. Memberikan tempat pelatihan sempurna bagi kemampuan manajerial secara umum. Kesadaran terhadap laba semakin meningkat. Memberikan informasi siap pakai kepada manajemen puncak tentang profitabilitas komponen-komponen individual perusahaan. Output yg siap pakai membuat pusat laba sangat responsif terhadap tekanan utk meningkatkan kinerja kompetitif.</p> <p>Kinerja manajer pusat laba dapat dievaluasi berdasarkan lima ukuran profitabilitas sebagai berikut: Margin kontribusi. Laba langsung. Laba yang dapat dikendalikan. Laba sebelum pajak. Laba bersih.</p> <p> c. Margin Kontribusi. Merupakan selisih antara pendapatan dengan beban variabel. Alasan penggunaan karena beban tetap berada diluar kendali manajer. d.Laba Langsung. Merupakan kontribusi pusat laba terhadap overhead umum dan laba perusahaan. Alasan penggunaan karena pengeluaran pusat laba merupakan tanggung jawab manajer pusat laba, baik pengeluaran yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan. e.Laba yang Dapat Dikendalikan. Mempertimbangkan pengeluaran-pengeluaran pada tingkat tertentu. f. Laba Sebelum Pajak. Mempertimbangkan pembebanan relatif dari biaya overhead korporat ke pusat laba. g. Laba Bersih. Mempertimbangkan jumlah laba bersih setelah pajak.</p> <p>g. Akuntansi pertanggungjawaban menurut definisi Hansen dan Mowen adalah sebagai berikut: Responsibility Accounting is a system that measures the results of each responsibility center according to the information managers need to operate their centers (Hansen dan Mowen 2003:530). Akuntansi pertanggungjawaban adalah sebuah sistem yang mengukur perencanaan (dengan anggaran) dan pelaksanaan (dengan hasil aktual) dari tiap-tiap pusat pertanggungjawaban.</p> <p>h. Pusat Pertanggungjawaban Pusat pertanggungjawaban menurut Charles T. Horngren, Gary L. Sundem dan William O. Stratton adalah sebagai berikut: A Responsibility Center is a set of activities assigned to a manager, a group of managers, or other employees (Horngern et. Al 1999:331). Pusat pertanggungjawaban merupakan suatu tingkatan bisnis dimana manajer mempunyai pertanggungjawaban untuk melaporkan aktivitasnya dan mempertanggungjawabkan aktivitas yang telah dilakukannya, dan dalam pelaksanaannya manajer pusat pertanggungjawaban dibantu oleh manajer lain dan pekerja-pekerja.</p> <p>i. Pusat Pertanggungjawaban Pusat pertanggungjawaban menurut Charles T. Horngren, Gary L. Sundem dan William O. Stratton adalah sebagai berikut: A Responsibility Center is a set of activities assigned to a manager, a group of managers, or other employees (Horngern et. Al 1999:331). Pusat pertanggungjawaban merupakan suatu tingkatan bisnis dimana manajer mempunyai pertanggungjawaban untuk melaporkan aktivitasnya dan mempertanggungjawabkan aktivitas yang telah dilakukannya, dan dalam pelaksanaannya manajer pusat pertanggungjawaban dibantu oleh manajer lain dan pekerja-pekerja.</p> <p>j. Tipe Pusat Pertanggungjawaban Menurut Atkinson dan kawan-kawan membagi pusat pertanggungjawaban menjadi empat tipe, yaitu (2001:522): Cost Center (Pusat Biaya) Revenue Center (Pusat Pendapatan) Profit Center (Pusat Laba) Investment Center (Pusat Investasi).</p> <p>k.Sourcing decision Adalah penentuan dimana produk akan di produksi, apakah dibuat sendiri atau dibeli dari pemasok luar l.Tranfer price decision Jika produk dibuat sendiri, pada hatga tranfer berapa produk tersebut ditransfer dari divisi penjual ke divisi pembeli m.Divisi penjual Divisi yang mentransfer barang/jasa n.Divisi pembeli Divisi yang menerima transfer barang/jasa</p> <p>Konsep Transfer pricing (Harga Transfer) Harga Transfer merupakan harga produk atau jasa yang ditransfer antar pusat pertanggungjawaban dalam perusahaan, meliputi semua alokasi biaya dan departemen pembantu dan departemen produksi dan harga jual barang/jasa yang ditransfer antar pusat laba dalam perusahaan yang sama.</p> <p>Tujuan Harga Transfer : Penentuan harga transfer antar pusat laba sangat penting jika : Transaksi transfer barang atau jasa antar pusat laba cukup signifikan, Biaya barang atau jasa yang ditransfer merupakan komponen penting produk akhir, Profitabilitas merupakan pertimbangan penting di dalam penilaian prestasi divisi.</p> <p>Sistem Harga Transfer Bertujuan: 1. Untuk memberikan informasi relevan pada setiap pusat laba dalam menentukan harga transfer. 2. Untuk memmotivasi manajer pusat laba pengirim, pusat laba penerima, dan kantor pusat dalam membuat keputusan yang tepat. 3. Untuk menyajikan laporan laba setiap divisi yang secara layak mengukur prestasi divisi.</p> <p>Sistem Harga Transfer Bertujuan: 1. Memberikan informasi yang relevan kepada masingmasing unit usaha untuk menentukan penyesuaian yang optimum antara biaya dan pendapatan perusahaan. 2. Menghasilkan keputusan yang bertujuan samamaksudnya, sistem harus dirancang agar keputusan yang meningkatkan laba unit usaha juga akan meningkatkan laba perusahaan. 3. Membantu pengukuran kinerja ekonomi dari tiap unit usaha. 4. Sistem harus mudah dimengerti dan dikelola.</p> <p>Metode Penentuan Harga Transfer Istilah harga transfer yang digunakan disini adalah nilai yang diberikan kepada suatu transfer barang dan jasa dalam suatu transaksi dimana setidaknya ada satu pusat laba yang terlibat didalamnya. Harga semacam ini biasanya melibatkan suatu elemen laba karena sebuah perusahaan yang independent tidak akan mentransfer barang dan jasa ke perusahaan independent yang lain sebesar biaya produksi atau lebih rendah dari itu.</p> <p>Prinsip Dasar Prinsip dasarnya adalah bahwa harga transfer harus sama dengan harga yang dipatok seandainya produk tersebut terjual kepada konsumen luar atau dibeli dari pemasok luar. Ketika suatu pusat laba pada sebuah perusahaan membeli produk, dan menjualnya kepada, satu sama lain, maka dua keputusan yang harus diambil untuk setiap produk adalah :1. Apakah perusahaan harus memproduksi sendiri produk tersebut atau membelinya dari pemasok luar ? Hal ini memrupakan sourcing decision. 2. Jika diproduksi sendiri, pada tingkat harga berapakah produk tersebut ditransfer diantara pusat-pusat laba ? Hal ini merupakan transfer price decision.</p> <p>Situasi Ideal Idealnya, harga transfer harus mengestimasikan harga normal pasar di luar, dengan penyesuaian untuk biaya yang tidak terjadi di dalam perusahaan. Bahkan ketika sourcing decision mengalami hambatan, harga pasar merupakan harga transfer yang paling baik. Harga transfer yang berdasarkan harga pasar akan menghasilkan kesamaan tujuan, dan tidak membutuhkan administrasi pusat jika kondisi-kondisi dibawah ini terpenuhi :x x x x x x Orang-orang kompeten Atmosfer yang baik. Suatu harga pasar. Kebebasan memperoleh sumber daya. Informasi penuh. Negosiasi.</p> <p>Hambatan-hambatan Dalam Perolehan Sumber Daya (Sourcing) Idealnya seorang manajer pembelian bebas mengambil keputusan sourcing. Demikian halnya dengan manajer penjualan, ia harus bebas untuk menjual produknya ke pasar yang paling menguntungkan. Akibat-akibat yang terjadi jika para manajer pusat laba tidak memiliki kebebasan dalam mengambil keputusan sourcing : x Pasar yang terbatas x Kelebihan atau Kekurangan Kapasitas Industri.</p> <p>Harga Transfer Berdasarkan Biaya Jika harga kompetitif tidak tersedia, maka suatu harga transfer dapat ditentukan berdasarkan biaya ditambah laba, meskipun harga transfer semacam ini sangat sulit dihitung dan hasilnya kurang memuaskan dibandingkan dengan harga yang berbasis pasar (marked-based price). Dua keputusan yang harus dibuat dalam system harga transfer berdasarkan biaya :1) bagaimana menentukan besarnya biaya, dan 2) bagaimana menghitung markup laba.</p> <p>Masalah-masalah yang dirundingkan dalam penentuan harga transfer</p> <p> Dasar penentuan harga transferHarga pasar Biaya terdiri dari 2 macam biaya (biaya penuh sesungguhnya, biaya penuh standar</p> <p> Besarnya laba yang diperhitungkan dalam harga transfer Mempertimbangkan : dasar penentuan laba dan besarnya laba</p> <p>Metode penentuan harga transferMetode harga transfer yang dikemukakan oleh Anthony dan Govindarajan (2002:208) adalah sebagai berikut : Transfer based Market (Transfer berdasarkan Harga Pasar) Transfer based Cost: Full cost and Variable cost (Transfer berdasarkan Biaya: Biaya Penuh dan Biaya Variabel) Transfer based Negotiation (Transfer berdasarkan Negosiasi). Transfer based Arbitrase (Transfer berdasarkan Arbitrasi). Transfer based Dual Transfer Pricing (Transfer berdasarkan Dual Transfer Pricing).</p> <p>A. Atas Dasar Biaya (Cost-Based Transfer Pricing)Manajemen perlu mempertimbangkan 3 hal berikut :1. Metode penentuan harga transfer harus mendorong divisi penjual senantiasa melakukan perbaikan efisiensi dan produktivitasnya. 2. Metode penentuan harga transfer harus memisahkan tanggung awab masing-masing divisi yang terlibat.Ketidak efisienan yang terjadi di divisi penjual tidak boleh dialihkan ke devisi pembeli melalui harga transfer 3. Diperlukan aturan yang baik dalam penentuan harga transfer jika biaya dipakai sebagai dasar, karena divisi yang terlibat harus melakukan negosiasi atas dasar kondisi intern perusahaan</p> <p>Pendekatan Full CostingBiaya Penuh sesungguhnya : memiliki kelemahan, divisi pembeli akan dibebani oleh ketidakefisienan divisi penjual. Harga transfer = Biaya Penuh + Laba Unsur biaya penuh : Biaya produksi : By. Bhn Baku By. Tenaga kerja BOP Biaya non produksi : By.adm &amp; Umum By Pemasaran Unsur laba Y% x Aktiva Penuh (Aktiva lancar &amp; Aktiva Tidak Lancar)</p> <p>Pendekatan Full CostingContoh : PT MAJU TERUS memiliki 2 divisi (A dan B) sebagai pusat laba Divisi A menghasilkan sparepart Q yang dijual di pasar luar sebanyak 10%, 90%nya ditranfer ke devisi B. Manajer divisi A &amp; B sedang mempertimbangkan harga transfer sparepart Q. Menurut anggaran Devisi A berencana akan beroperasi pada kapasitas normal 1000 unit dengan estimasi biaya produksi p 200 juta, biaya adm &amp; umum Rp 50 Juta dan biaya pemasaranRp 50 juta. Estimasi total aktiva Rp 1 milyar, ROI 20% Berapa Harga Transfer sparepart Q?</p> <p>Pendekatan Full Costing Jawab : Perhitungan mark up: By adm &amp; umum By Pemasaran Laba yang diharapkan : 20% x Rp 1 milyar Jumlah Dibagi by produksi Mark up Perhitungan harga transfer By Produksi Mark up : 135% x Rp 200 juta Jumlah harga jual Dibagi dengan vol produk yang ditransfer Harga transfer per unit Rp 50 juta Rp 20 juta Rp 200 juta Rp 270 juta Rp 70.juta Rp 135% Rp 200 juta Rp 270 juta Rp 470 juta Rp 1000 Rp 470 ribu =========</p> <p>Pendekatan Full CostingBiaya Penuh sesungguhnya : memiliki kelemahan, divisi pembeli akan dibebani oleh ketidakefisienan divisi penjual. Harga transfer = Biaya Penuh + Laba Unsur biaya penuh : Biaya produksi : By. Bhn Baku By. Tenaga kerja BOP Biaya non produksi : By.adm &amp; Umum By Pemasaran Unsur laba Y% x Aktiva Penuh (Aktiva lancar &amp; Aktiva Tidak Lancar)</p> <p>Pendekatan Full CostingContoh : PT MAJU TERUS memiliki 2 divisi (A dan B) sebagai pusat laba Divisi A menghasilkan sparepart Q yang dijual di pasar luar sebanyak 10%, 90%nya ditranfer ke devisi B. Manajer divisi A &amp; B sedang mempertimbangkan harga transfer sparepart Q. Menurut anggaran Devisi A berencana akan beroperasi pada kapasitas normal 1000 unit dengan estimasi biaya produksi p 200 juta, biaya adm &amp; umum Rp 50 Juta dan biaya pemasaranRp 50 juta. Estimasi total aktiva Rp 1 milyar, ROI 20% Berapa Harga Transfer sparepart Q?</p> <p>Pendekatan Full Costing Jawab : Perhitungan mark up: By adm &amp; umum By Pemasaran Laba yang diharapkan : 20% x Rp 1 milyar Jumlah Dibagi by produksi Mark up Perhitungan harga transfer By Produksi Mark up : 135% x Rp 200 juta Jumlah harga jual Dibagi dengan vol produk yang ditransfer Harga transfer per unit Rp 50 juta Rp 20 juta Rp 200 juta Rp 270 juta Rp 70.juta Rp 135% Rp 200 juta Rp 270 juta Rp 470 juta Rp 1000 Rp 470 ribu =========</p> <p>Pendekatan Variable CostingHarga transfer = Biaya Penuh + LabaUnsur biaya variabel : By. Bhn Baku By. Tenaga kerja BOP Variabel By Adm &amp; umum variable By pemasaran variabel Unsur biaya tetap : BOP tetap By.adm &amp; Umum tetap By Pemasaran tetap Unsur laba Y% x Aktiva Penuh (Aktiva lancar &amp; Aktiva Tidak Lancar)</p> <p>Pendekatan Variable CostingContoh : Kasus PT MAJU TERUS tersebut, kapasitas normal menurut anggaran sebanyak 1000 unit. Rincian biaya penuh sebesar Rp 270 juta adalah By produksi variabel Rp 150 juta, by adm &amp; umum variabel Rp 10 juta, by pemasaran variabel Rp 5 juta sedangkan by produksi tetap Rp 50 juta, by adm &amp; umum tetap Rp 40 juta dan by pemasaran tetap Pendekatan Variabel Costing Harga transfer = Biaya Penuh + Laba</p> <p>Pendekatan Variable CostingJawab : Perhitungan mark up: By tetap Laba yang diharapkan : 20% x Rp 1 milyar Jumlah Dibagi by biaya variabel Mark up Perhitungan harga transfer : By variabel Mark up : 179% x Rp 165 juta Jumlah harga transfer Dibagi dengan vol produk yang ditransfer Harga transfer per unit Rp 95 juta Rp 200 juta Rp 295 juta Rp 165 juta Rp 179%</p> <p>Rp 165,00 juta Rp 295,35 juta Rp 460,35 juta Rp 1 juta Rp 4.603,50 ===========</p> <p>Pendekatan Activity Based CostingHarga transfer = Biaya Penuh + Laba Unsur biaya penuh :</p> <p>Unit-level activity cost Batch-related activity cost Product-sustaining activity cost Facility-sustaining activity costUnsur laba Y% x Aktiva Penuh Tidak Lancar) (Aktiva lancar &amp; Aktiva</p> <p>Data-data biaya penuh adalah sebagai berikut :</p> <p>Pendekatan Activity Based CostingContoh : PT JAYA ABADI memiliki 2 divisi (A dan B) sebagai pusat laba. Divisi A menghasilkan sparepart Q dan R yang dijual di pasar luar sebanyak 10%,sedang sisanya ditranfer ke devisi B. Kapasitas normal produksi sebanyak 1juta unit produk Q dan 2 juta unit produk R.Data-data biaya penuh adalah sebagai berikut :Uraian Unit-level : by standar/unit Batch-level : by standar/unit Product-sustaining : by/unit Facility-sustaining : by/tahun Rp Rp Rp Rp Suku Cadang Q 1.500 200.000 500 200.000.000 Rp Rp Rp Rp Suku Cadang R 2.000 150.000 300 400.000.000</p> <p>Pendekatan Activity Based CostingPada bulan januari Divisi A mentransfer 100 ribu unit suku cadang Q ke divisi B yang diproduksi dalam 2 production run (batch) Total aktiva divisi A Rp 1 milyar dan ROI sebesar 22% Besarnya mark up : Laba yang diharapkan 22% x Rp 1 milyar Dibagi dengan unit-...</p>