TUGAS MAKALAH Baterai Timbal Di Afrika

  • Published on
    30-Nov-2015

  • View
    396

  • Download
    30

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah tentang pengelolaan limbah b3 dari baterai sekunder berbahan timbal

Transcript

<p>I. Latar BelakangUpaya pengelolaan lingkungan telah menjadi isu yang banyak dibicarakan pada saat ini. Hal ini dikarenakan semakin meningkatnya jumlah dan jenis industri sehingga berakibat pada semakin meningkatnya jumlah dan jenis limbah yang dihasilkannya, termasuk limbah berbahaya dan beracun yang dapat menimbulkan dampak pada kesehatan manusia, dan lingkungan. Oleh karena itu dilakukan upaya pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) baik dari industri maupun pada tingkat komunitas masyarakat dengan penetapan peraturan yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 jo Nomor 85 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. Berdasarkan PP 18 Tahun 1999 jo 85 Tahun 1999, limbah B3 merupakan sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat, dan/atau konsentrasinya, dan/atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau dapat menbahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta mahluk hidup lainnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya pengelolaan limbah B3 mulai dari sumber sampai pengolahan terakhir (penimbunan) dikenal dengan konsep cradle to grave, yang dapat dilakukan pada langkah reduksi, penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan, dan penimbunan limbah B3. Berdasarkan Lampiran I Tabel 2. PP 85 Tahun 1999, limbah baterai merupakan limbah dari sumber spesifik yang dibedakan menjadi baterai sel kering dan sel basah, dimana pencemar utamanya adalah Kadmium (Cd), Timbal (Pb), Nikel (Ni), Seng (Zn), Merkuri (Hg) dan Antimon/Stibium (Sb), asam/alkali dan sel yang mengandung lithium. Baterai yang telah habis masa pakainya tersebut diklasifikasikan sebagai limbah b3 dalam konvensi Basel, yang harus dilakukan penanganan yang baik untuk mencegah dampak berbahaya bagi manusia dan lingkungan.Pengelolaan limbah B3 harus dilakukan dengan optimal untuk menghindari terjadinya bencana akibat senyawa berbahaya dan beracun yang terkandung dalam limbah B3 tersebut, seperti halnya dalam kasus kematian anak-anak akibat penyakit sistem syaraf pusat dalam area fasilitas daur ulang secara informal dari baterai bekas yang mengandung asam timbal (Lead-Acid)/ULAB (Used Lead Acid Batteries) di sub urban Dakar, Senegal. Fasilitas ini merupakan suatu bentuk pemanfaatan limbah b3 yang bertujuan untuk mengubah limbah b3 menjadi suatu produk yang dapat digunakan dan harus aman bagi lingkungan dan manusia. (Haefliger, et. al., 2009).II. Limbah Baterai II.1 Definisi Limbah Baterai</p> <p>Limbah baterai bekas termasuk dalam jenis limbah B3. Baterai yang diproduksi dan beredar di masyarakat beraneka ragam, yaitu baterai sel kering dan baterai sel basah (aki). Baterai sel kering berdasarkan bahan elektrolitnya terdiri dari baterai timah hitam dari larutan asam belerang dan baterai alkali dari larutan alkali, sedangkan berdasarkan kemampuan diisi ulang (rechargeable) yaitu baterai primer dan sekunder. Baterai primer merupakan baterai yang sekali pakai, tidak dapat didaur ulang yang mengandung jenis bahan diantaranya karbon-seng, alkaline-Mn, Lithium, dan lain-lain. Baterai sekunder merupakan baterai yang dapat diisi ulang sehingga lebih hemat, jenisnya Nikel-Kadmium, Ni-MH, Lithium ion, Lead-Acid, dan lain-lain. Baterai primer atau baterai sekali pakai biasanya tersusun dari tiga komponen penting, antara lain batang karbon, seng dan pasta elektrolit. Batang karbon sebagai anoda (kutub positif baterai), seng (Zn) sebagai katoda (kutub negatif baterai), pasta sebagai elektrolit (penghantar) (Gambar 1). Karena pada prinsip baterai merubah energi kimia menjadi energi listrik, maka komponen-komponen pentig penyusun baterai tersebut, merupakan unsur kimia yang bisa membahayakan dan mencemari lingkungan.</p> <p>Gambar 1. Baterai Sel Kering (Sumber: www.pantonanews.com)Baterai sekunder (yang dapat diisi ulang/rechargeable) banyak dipakai untuk telephone cordless, handy cleaner, headphone stereo, atau camcorder, maupun pada kendaraan bermotor. Berikut ini merupakan baterai sekunder sel basah (aki) (Gambar 2). Gambar 2. Baterai Sekunder (Sumber: http://primeproduct.in)II.2 Timbal (Lead)</p> <p>II.2.1 Definisi Timbal</p> <p>Timbal merupakan sebuah zat kimia dengan kode Pb, yang berarti Plumbum (timah hitam). Timbal atau yang kita kenal sehari-hari dengan timah hitam dan dalam bahasa ilmiahnya dikenal dengan kata Plumbum dan logam ini disimpulkan dengan timbal (Pb). Logam ini termasuk kedalam kelompok logam-logam golongan IVA pada tabel periodik unsur kimia. Mempunyai nomor atom (NA) 82 dengan bobot atau berat (BA) 207,2 adalah suatu logam berat berwarna kelabu kebiruan dan lunak dengan titik leleh 327C dan titik didih 1.620C.Timbal (Pb) menguap dan membentuk oksigen dalam udara membentuk timbal oksida. Bentuk oksidasi yang paling umum adalah timbal (II). Walaupun bersifat lunak dan lentur, timbal (Pb) sangat rapuh dan mengkerut pada pendinginan, sulit larut dalam air dingin, air panas dan air asam. Timbal (Pb) dapat larut dalam asam nitrit, asam asetat dan asam sulfat pekat (Palar, 1994). </p> <p>Timbal (Pb) banyak digunakan untuk berbagai keperluan karena sifatnya sebagai berikut (Fardiaz, 1992):</p> <p>1. Timbal mempunyai titik cair rendah sehingga jika digunakan dalam bentuk cair dibutuhkan teknik yang cukup sederhana dan tidak mahal. 2. Timbal merupakan logam yang lunak sehingga mudah diubah menjadi berbagai bentuk. 3. Sifat kimia timbal (Pb) menyebabkan logam ini dapat berfungsi sebagai lapisan pelindung jika kontak dengan udara lembab. 4. Timbal dapat membentuk alloy dengan logam lainnya, dan alloy yang terbentuk mempunyai sifat berbeda dengan timbal (Pb) yang murni. 5. Densitas timbal (Pb) lebih tinggi dibandingkan dengan logam lainnya kecuali emas dan merkuri.</p> <p>II.2.2 Lead Acid Battery (Baterai Asam Timbal)Baterai asam timbal yang digunakan menimbulkan ancaman bagi lingkungan dan harus dikelola dengan baik untuk pembuangan. Bahan berbahaya membuat sebagian besar bahan-bahan dari produk ini dapat keluar ke saluran air, mengkontaminasi sumber daya air. Beberapa lembaga lokal di luar negeri saat ini telah memberlakukan peraturan untuk mengelola bahan ini dengan daur ulang baterai asam timbal. Baterai asam timbal dianggap korosif, serta beracun (sel baterai Gel, adalah subset dari baterai asam timbal, dan harus diperlakukan sama). Baterai asam timbal terdiri dari spon timbal, dan timbal dioksida. Terdiri dari 35% asam sulfat dan 65% larutan air elektrolit. Baterai asam timbal mewakili hampir 60% dari semua baterai yang dijual di seluruh dunia. Baterai ini digunakan untuk pencahayaan, dan pengapian (SLI) pada mobil dan truk, serta menyediakan listrik untuk mobil, forklift, kapal selam, dan hampir semua kendaraan lainnya. Baterai asam timbal terkenal akan kemampuan mereka untuk menahan beragam bentuk kerusakan dan sering digunakan sebagai back-up sumber daya baterai primer dan daya listrik yang kecil. Baterai asam timbal menggunakan seperangkat reaksi sederhana untuk menghasilkan energi. Semua gaya baterai ini menggunakan bahan aktif yang sama. Elektroda positif adalah timbal dioksida (PbO2), yang diubah menjadi timbal sulfat (PbSO4), sedangkan elektroda negatif adalah logam timbal spons (Pb), yang juga dikonversi ke timbal sulfat (PbSO4). Elektrolit adalah campuran asam sulfat encer yang memberikan ion sulfat untuk reaksi debit. Baterai asam timbal bekas berbahaya apabila cara pembuangannya salah, akan tetapi memiliki nilai ekonomis tinggi. Tingkat daur ulang baterai sangat tinggi, jadi secara ekonomis perlu untuk dilakukan mekanisme reverse logistics atau daur ulang. Daur ulang baterai telah menjadi topik yang hangat diantara peneliti dan praktisi dalam beberapa tahun terakhir akibat peningkatan kendaraan dan juga adanya logam berat seperti timbal, merkuri, dan kadmium pada baterai. Dibandingkan dengan 55% dari kaleng aluminium minuman ringan dan bir, 45% dari surat kabar, 26% dari botol kaca, dan 26% dari ban, baterai timbal-asam (97% timah) menempati urutan atas daftar produk konsumen yang memiliki tingkat daur ulang tinggi (survei dari Battery Council International). Tujuan dari daur ulang baterai asam timbal ini adalah untuk mengambil timbal yang hampir 90% terdapat di dalam box baterai dan juga pengambilan box plastic baterai untuk digunakan kembali. Apabila daur ulang yang dilakukan tidak sesuai dengan ketentuan dan tidak dilakukan disebuah laboratorium atau area khusus pengambilan timbal, maka berbagai senyawa timbal yang tersusun di dalam baterai asam timbal akan masuk ke lingkungan, bereaksi dan menghasilkan efek negatif terhadap kesehatan.</p> <p>Gambar 3. Tingkat Daur Ulang Baterai Asam TimbalII.2 Efek Timbal Terhadap Kesehatan</p> <p>Efek utama timbal pada kesehatan terjadi pada tiga organ sistem tubuh manusia yaitu sistem peredaran darah, sistem syaraf pusat dan sistem ginjal. Berikut ini adalah beberapa jenis efek atau penyakit yang terdapat dalam sistem tersebut yang disebabkan karena paparan timbal di lingkungan.Tabel 1. Efek Timbal terhadap Kesehatan</p> <p>OrganRentang Efek</p> <p>Sistem DarahPada level yang lebih tinggi dapat menyebabkan mengurangi pembelahan sel darah dan anemia</p> <p>Sistem SyarafTerjadi kebanyakan pada anak-anak. Menyerang syaraf pusat dan otak. Pada saat terpapar atau terdapat akumulasi timbal yang terus menerus menyebabkan berkurangnya kecepatan merespon pada sistem syaraf otak.</p> <p>Sistem GinjalTerjadinya penyakit nephropathy yaitu penyakit gangguan ginjal, berupa terjadinya ruam atau imflam pada ginjal.</p> <p>(Sumber: Hutton. M, 1987)Efek timbal yang menyerang anak-anak khususnya dapat berasal dari kerakteristik wilayah dan kondisi tempat mereka tinggal, berikut ini adalah wilayah-wilayah yang berpotensi mendatangkan efek timbal pada anak-anak:</p> <p>1. Balita atau anak-anak pre-school yang tinggal di sebuah populasi umum di daerah perkotaan dimana negara tersebut menggunakan bahan bakar yang dicampur dengan timbal.2. Anak-anak yang tinggal disekitar sumber timbal seperti daerah peleburan dan tempat penimbunan besi-besi tua.3. Anak-anak yang tinggal di area perpipaan dan terdapat sumber air yang sedikit asam yang dapat melarutkan logam-logam salah satunya timbal.4. Anak-anak yang tinggal di pemukiman dengan menggunakan cat berkandungan timbal tinggi. Biasanya pada daerah-daerah miskin. III. Deskripsi KasusKasus di Dakar, Senegal merupakan contoh kasus tentang pemanfaatan limbah B3 yaitu daur ulang yang kurang optimal. Dimana dimungkinkan limbah yang didaur ulang kebanyakan merupakan jenis baterai sekunder yang memiliki komponen zat kimia berupa timbal ataupun asam timbal seperti aki dan baterai-baterai isi ulang. Pada Bulan November 2007 dan Maret 2008 terjadi kasus kematian 18 anak-anak karena penyakit sistem syaraf pusat yang progresif/cepat pada lokasi dimana fasilitas daur ulang tersebut berada. Kandungan timbal dalam darah anak-anak terjadi karena proses inhalasi dan melalui pencernaan. Dalam penelitian yang dilakukan, kandungan timbal dalam darah dari 50 anak-anak terdeteksi sebesar 39,8 613,9 g/dL dengan rata-rata 129,5 g/dL. Kandungan timbal dalam darah anak-anak mempunyai batasan tertentu dan penanganan tertentu yaitu dengan kandungan timbal sebesar &gt;10 g/dL membutuhkan pengamatan/monitoring, &gt;20 g/dL membutuhkan pengamatan, kontrol dan investigasi lingkungan, &gt;45 g/dL membutuhkan evaluasi klinis dan chelation therapy, &gt; 70 g/dL membutuhkan perawatan di rumah sakit dengan segera dan chelation therapy (CDC, 2002). Fasilitas informal pemanfaatan/daur ulang limbah baterai bekas (ULAB) ini berada di NGagne Diaw sejak 1995, lokasi tersebut berada di area terbuka dan pada daerah yang berpasir dengan luas area 40.000 m2. Baterai bekas dari truk, mobil dan dari penggunaan lain dikumpulkan dari kota di sekitar Dakar dan dibawa ke NGagne Diaw dalam keadaan rusak. Kebanyakan logam timbal akan direcovery (diperoleh kembali), dan komponen baterai yang lain akan dibuang. Senyawa timbal yang berbeda, termasuk elemental timbal, timbal oksida (lead oxide) dan residu yang lain terakumulasi dalam tanah berpasir dari waktu ke waktu. Sekitar bulan Agustus 2007, penduduk lokal menyadari bahwa tanah mereka mengandung timbal yang benilai komersial, dan mereka mulai mengumpulkan dan membawa tanah tersebut ke pemukiman/komunitas, dan juga dibawa ke rumah untuk di ayak dan dipisahkan partikel timbal yang berukuran besar. Anak-anak seringkali berdekatan dengan kegiatan ini, biasanya akan mengikuti ibu/orang tua mereka bekerja. Tanah yang mengandung partikel timbal akan dibungkus dalam karung dan dijual pada pengepul lokal. Semakin lama semakin banyak orang melakukan aktivitas yang menguntungkan ini. Pada akhir tahun 2007, pembeli berhenti datang ke NGagne Diaw, akan tetapi pemisahan baterai dan aktivitas ekstraksi timbal masih berlangsung, dan penduduk mulai menyimpan tanah yang terkontaminasi timbal di rumah mereka, kemungkinan sudah terkubur dalam pekarangan/halaman atau bahkan menjadi bagian dari rumah mereka. Proses pemisahan timbal di ULAB dan tanah telah dihentikan pada Maret 2008 setelah adanya kesadaran masyarakat tentang bahaya timbal. Pada waktu itu, tanah berpasir yang telah terkontaminasi telah tersebar pada pemukiman, termasuk di dalam sejumlah besar rumah. Pada Bulan Maret 2008, pemerintah Senegal, mengambil sebagian kontaminan dengan memindahkan 300 ton tanah terkontaminasi timbal dan beberapa karung batang timbal dari fasilitas pemisahan ULAB dan rumah penduduk dan menutup area tersebut dengan pasir yang bersih. Penelitian yang dilakukan pada bulan Juni 2008, pada 56 lokasi indoor (in situ) terdapat paparan kandungan konsentrasi timbal mencapai 14.000 mg/kg dalam rumah, di lantai dan tempat tidur. Pengukuran juga dilakukan pada 194 lokasi di outdoor pada pemukiman di NGagne Diaw, konsentrasi timbal mencapai 209.000 mg/kg pada area terbuka dan tanah berpasir pada fasilitas dimana aktivitas daur ulang ULAB terjadi sejak 1995. Konsentrasi mencapai 182.000 mg/kg terukur di area pemukiman penduduk, bahkan di area yang telah ditutup dengan pasir yang bersih pada Maret 2008. Kantung pasir mengandung 302.000 mg/kg ditemukan di pemukiman. Konsentrasi tanah yang mengandung timbal secara signifikan lebih rendah diluar area dimana kegiatan pemisahan timbal dari tanah dan ekstraksi timbal terjadi, mengindikasikan bahwa kontaminan timbal mempunyai batasan secara geografi (Gambar 4).</p> <p>Gambar 4. Peta Area Dampak Timbal di NGagne Diaw, Senegal(Sumber : Haefliger, et al., 2009)IV. Pembahasan</p> <p>IV.1. Kasus Fasilitas Daur Ulang Secara Informal ULAB di Dakar, Senegal Tidak Sesuai Dengan Peraturan</p> <p>IV.1.1 Tidak Sesuai dengan Peraturan Pemerintah PerancisKasus fasilitas daur ulang secara informal ULAB di Dakar, Senegal tidak sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Perancis yang merekomendasikan kandungan timbal di pemukiman penduduk sebesar 400 mg/kg dan area industri sebesar 2000 mg/kg. Fasilitas ini juga tidak didukung dengan perijinan dari pemerintah (unregula...</p>