Tujuan Dan Tanggung Jawab Audit

  • Published on
    17-Feb-2015

  • View
    61

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Tujuan Pelaksanaan Pengauditan Laporan Keuangan

Transcript

<p>Tujuan Pelaksanaan Pengauditan Laporan Keuangan PSA 02 (SA 110)Tujuan audit atas laporan keuangan oleh auditor independen pada umumnya adalah untuk menyatakan pendapat tentang kewajaran, dalam semua hal yang material, posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.</p> <p>Tanggung Jawab Manajemen menerapkan kebijakan akuntansi yang memadai Mendesaian dan mengaplikasikan pengendalian internal</p> <p> menyajikan laporan keuangan yang wajar.</p> <p>Tanggung Jawab Auditor PSA 1 (SA 110)auditor memiliki tanggung jawab untuk merencanakan dan menjalankan audit untuk memperoleh keyakinan yang memadai mengenai apakah laporan keuangan telah bebas dari salah saji material, yang disebabkan oleh kesalahan atau kecurangan.</p> <p>Dalam memenuhi tanggung jawabnya, auditor harus memperhatikan : Salah saji material vs. Tidak material Keyakinan yang memadai Kesalahan vs. Kecurangan (PSA 70 SA 316)</p> <p> Skeptisme profesional (PSA 04 SA 230)</p> <p>Salah saji material vs. Tidak material Kesalahan saji biasanya dianggap material jika</p> <p>gabungan dari kesalahan-kesalahan yang belum dikoreksi dan kecurangan dalam laporan keuangan akan mengubah atau mempengaruhi keputusan orang-orang yang menggunakan laporan keuangan tersebut.</p> <p>Keyakinan yang memadai Keyakinan merupakan suatu ukuran atas tingkat</p> <p>kepastian yang telah didapatkan oleh auditor saat pengauditan telah diselesaikan. Konsep memadai, namun bukan absolute menandakan bahwa auditor bukanlah penjamin kebenaran atas laporan keuangan</p> <p>Kesalahan vs. Kecurangan (PSA 70 SA 316) Kesalahan merupakan salah saji dalam pelaporan</p> <p>keuangan yang tidak disengaja, contohnya yaitu kesalahan dalam mengalikan harga dengan kuantitas dalam faktur penjualan Kecurangan merupakan salah saji yang disengaja. Ada dua jenis kecurangan yaitu penyalahgunaan asset, atau yang sering disebut sebagai kecurangan karyawan, dan kecurangan dalam pelaporan keuangan, atau yang sering disebut sebagai kecurangan manajemen.</p> <p>Skeptisme Profesional (PSA 04 SA 230) Skeptisme professional merupakan suatu perilaku</p> <p>pemikiran yang secara kritis dan penilaian kritis atas bahan bukti audit. pengauditan didesain untuk menghasilkan keyakinan yang memadai untuk mendeteksi baik kesalahankesalahan yang material maupun kecurangan dalam laporan keuangan. Auditor tidak harus menganggap bahwa manajemen telah berlaku tidak jujur, namun kemungkinan bahwa adanya ketidakjujuran harus dipertimbangkan.</p> <p>Tanggungjawab auditor dalam mendeteksi kesalahan saji material Auditor menekan beragam kesalahan yang</p> <p>diakibatkan oleh kesalahan-kesalahan dalam perhitungan, kealpaan, kesalahpahaman dan kesalahan penerapan standar akuntansi, serta kesalahan dalam pengelompokkan penjelasan.</p> <p>Tanggung jawab auditor dalam mendeteksi kecurangan material Kecurangan dalam pelaporan keuangan</p> <p>membahayakan para pengguna dengan cara memberikan informasi laporan keuangan yang salah untuk membuat keputusan. Secara khas kecurangan dalam pelaporan keuangan dilakukan oleh manajemen karena manajemen berada dalam posisi yang mampu menentukan keputusankeputusan terkait dengan akuntansi dan pelaporannya tanpa sepengetahuan karyawan</p> <p>Tanggung jawab auditor untuk membongkar tindakan illegal Berdasarkan PSA 31 (SA 317) tindakan ilegal adalah</p> <p>pelanggaran terhadap hukum atau peraturan pemerintah selain kecurangan Tindakan ilegal berdampak langsung : mengevaluasi apakah terdapat bahan bukti yang tersedia dan mengindikasikan adanya pelanggaran yang signifikan terhadap peraturan perpajakan pemerintah Tindakan ilegal berdampak tidak langsung misalnya melanggar hukum perlindungan lingkungan, insider trading, hukum hak sipil, dan peraturan keselamatan karyawan</p> <p>Tiga tingkat tanggung jawab untuk menemukan dan melaporkan tindakan-tindakan illegal Akumulasi bukti ketika tidak ada alasan untuk</p> <p>meyakini adanya tindakan illegal berdampak tidak langsung Akumulasi bukti ketika tidak ada alasan untuk meyakini adanya tindakan illegal berdampak langsung atau tidak langsung yang mungkin timbul Tindakan ketika auditor mengetahui adanya tindakan illegal</p> <p>Siklus Laporan Keuangan Pengauditan dilakukan dengan membagi laporan</p> <p>keuangan menjadi segmen atau komponen yang lebih kecil, untuk memudahkan pelaksanaan audit dan membantu pembagian tugas kepada anggota tim audit. Pendekatan siklus merupakan cara yang umum dalam mengelompokkan audit adalah dengan tetap menjaga jenis atau kelompok transaksi dan saldo akun yang terkait erat dalam satu kelompok yang sama.</p> <p>Pendekatan siklus dalam pengelompokan audit Siklus penjualan dan penagihan</p> <p> Siklus pembelian dan pembayaran Siklus penggajian dan kepegawaian Siklus persediaan dan pergudangan</p> <p> Siklus akuisisi modal dan pelunasan</p> <p>Hubungan di antara siklus</p> <p>Menetapkan Tujuan Pengauditan Cara yang paling efektif dan efisien untuk melakukan</p> <p>pengauditan dengan mendapatkan beberapa kombinasi keyakinan untuk setiap kelompok transaksi dan untuk saldo akhir akun-akun terkait. Tujuan audit terkait transaksi adalah beberapa tujuan audit harus terpenuhi sebelum auditor dapat menyimpulkan bahwa transaksi tersebut telah dicatat dengan tepat. Tujuan audit terkait saldo adalah beberapa tujuan audit harus terpenuhi oleh masing-masing saldo akun. Tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan informasi laporan keuangan.</p> <p>Asersi Manajemen Asersi manajemen adalah pernyataan yang tersirat</p> <p>atau tertulis oleh manajemen mengenai kelompokkelompok transaksi akun-akun terkait serta pengungkapan dalam laporan keuangan. PSA 07 (SA 326) mengelompokkan asersi ke dalam tiga kategori, sebagai berikut: 1. Asersi mengenai kelompok-kelompok transaksi dan kejadian-kejadian selama periode yang diaudit. 2. Asersi mengenai saldo akun di akhir periode pembukuan. 3. Asersi mengenai penyajian dan pengungkapan.</p> <p>Tujuan Audit Terkait Transaksi untuk memberikan kerangka untuk membantu</p> <p>auditor dalam mengumpulkan bahan bukti audit yang memadai yang diharuskan oleh standar ketiga pekerjaan lapangan dan untuk memutuskan bukti yang tepat untuk dikumpulkan bagi setiap kelompok transaksi sesuai dengan kondisi kontrak kerja tersebut.</p> <p>Tujuan umum audit terkait transaksi1. Keterjadian transaksi yang dicatat benar-benar ada 2. Kelengkapan transaksi yang ada telah dicatat 3. Akurasi transaksi yang dicatat disajikan dalam</p> <p>jumlah yang benar 4. Pemindahbukuan dan pengikhtisaran transaksi yang dicatat telah dimasukkan dalam arsip utama dengan tepat dan telah diikhtisarkan dengan benar 5. Klasifikasi transaksi yang dimasukkan dalam jurnal klien telah diklasifikasikan dengan tepat 6. Penetapan waktu transaksi dicatat pada tanggal yang benar</p> <p>Tujuan khusus audit terkait transaksi Setelah tujuan umum audit terkait transaksi</p> <p>ditentukan, tujuan khusus audit terkait transaksi untuk setiap kelompok transaksi yang penting dapat dikembangkan. Kelompok-kelompok transaksi tersebut biasanya termasuk penjualan, penerimaan kas, pembelian barang dan jasa, gaji, dan sebagainya.</p> <p>Hubungan antara asersi manajemen dan tujuan audit terkait saldoAsersi ManajemenKeterjadian Kelengkapan Akurasi Tujuan Audit Umum Berkait Transaksi Keterjadian Kelengkapan Akurasi Tujuan Audit Spesifik Berkait Transaksi Penjualan yang dicatat adalah untuk pengiriman kepada konsumen yang benar-benar ada. Teransaksi penjualan yang ada seluruhnya telah di catat.</p> <p>Penjualan yang dicatat adalah untuk sejumlah barang yang dikirim dan telah dicatat dan ditagih dengan benar. Transaksi penjualan telah dimasukkan ke dalam arsip utama dengan benar dan telah diikhtisarkan dengan benar.Teransaksi penjualan diklasifikasikan dengan benar. Transaksi penjualan dicatat pada tanggal yang benar.</p> <p>Pemindahbukuan dan Pengikhtisaran Klasifikasi Pisah Batas Klasifikasi Penetapan Waktu</p> <p>Tujuan Audit Terkait Saldo memberikan kerangka kerja untuk membantu auditor</p> <p>untuk mengumpulkan bahan bukti yang memadai terkait saldo akun. Tujuan audit terkait saldo ada yang bersifat umum dan ada juga yang bersifat khusus.</p> <p>Tujuan umum audit terkait saldo1. Keberadaan jumlah yang dicatat memang benar-benar ada 2. Kelengkapan jumlah yang ada telah dicatat 3. Akurasi jumlah yang dimasukkan dinyatakan dalam jumlah 4. 5. 6.</p> <p>7. 8.</p> <p>yang benar Klasifikasi jumlah yang dimasukkan pada daftar milik klien telah diklasifikasikan dengan benar Pisah batas transaksi mendekati tanggal neraca dicatat dalam periode yang benar Keterikatan perincian saldo akun sesuai dengan jumlah di arsip utama yang terkait sesuai dengan jumlah total saldo akun dan sesuai dengan jumlah di buku besar Nilai terealisasi aset dicatat pada estimasi jumlah yang dapat terealisasi Hak dan kewajiban sebagai pelengkap asersi manajemen tentang hak dan kewajiban untuk saldo akun</p> <p>Tujuan khusus audit terkait saldo Setidaknya ada satu tujuan audit khusus terkait saldo</p> <p>yang harus dimasukkan ke dalam setiap tujuan umum audit terkait saldo kecuali jika auditor yakin bahwa tujuan umum audit terkait transaksi tidak relevan dan tidak penting dalam situasi tersebut.</p> <p>Hubungan antara asersi manajemen dengan tujuan audit terkait saldoAsersi Manajemen Keberadaan Kelengkapan Penilaian atau Alokasi Tujuan Audit Umum Terkait Saldo Keberadaan Kelengkapan Akurasi Tujuan Audit Spesifik Terkait Saldo Yang Diterapkan Pada Persediaan Barang Semua persediaan yang dicatgat memang terdapat pada tanggal neraca Semua persediaan yang telah dihitung dan dicantumkan dalam ikhtisar persediaan Jumlah persediaan sesuai dengan setiap rincian barang-barang yang secara fisik ada ditangan. Harga yang digunakan untuk menilai persediaan sudah wajar Perhitungan harga dikalikan jumlah yang sudah benar dan rincia di tambahkan secara benar Pos-pos persediaan telah diklasifikasikan dengan pantas menurut bahan baku, barang dalam proses, dan barang jadi Pisah batas pembelian pada akhir tahun adalah pantas Pisah batas penjualan pada akhir tahun adalah pantas Total persediaan sesuai dengan buku besar Persediaan telah diturunkan nilainya dimana ada pengurangan nilai bersih yang direalisasikan Perusahaan berhak atas semua persediaan yang tercantum. Persediaan tidak digunakan sebagai jaminan</p> <p>Klasifikasi</p> <p>Pisah batas Keterkaitan rincian Nilai terealisasikan Hak dan kewajiban Hak dan kewajiaban</p> <p>Tujuan Audit Terkait Penyajian dan Pengungkapan Tujuan audit terkait penyajian dan pengungkapan</p> <p>sama dengan asersi manajemen untuk penyajian dan pengungkapan. Konsep yang sama yang diterapkan untuk tujuan audit terkait saldo juga diterapkan untuk tujuan audit penyajian dan pengungkapan.</p> <p>Bagaimana Memenuhi TujuanTujuan Audit auditor menjalankan sebuah proses audit yang</p> <p>merupakan sebuah metodologi yang sangat jelas untuk pengorganisasian sebuah audit untuk meyakinkan bahwa bukti yang dikumpulkan memadai dan tepat serta semua tujuan audit yang diperlukan telah dinyatakan dengan jelas dan terpenuhi.</p> <p>Empat Fase dalam Proses Audit (Fase I) Merencanakan dan Merancang Sebuah</p> <p>Pendekatan Audit (Fase II) Melaksanakan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Transaksi (Fase III) Melakukan Prosedur Analitis dan Pengujian atas Rincian Saldo (Fase IV) Menyelesaikan Audit dan Menerbitkan Laporan Audit</p> <p>(Fase I) Merencanakan dan Merancang Sebuah Pendekatan Audit Pertimbangan untuk memilih pendekatan untuk mengaudit : 1. Bukti memadai dalam jumlah yang cukup harus dikumpulkan</p> <p>untuk memenuhi tanggung jawab profesional dari auditor 2. Biaya pengumpulan bahan bukti sebaiknya diminimalisir Aspek kunci pendekatan audit : 1. Mendapatkan pemahaman atas entitas klien dan lingkungannya 2. Memahami pengendalian internal dan menilai risiko pengendalian, yaitu auditor mengidentifikasi pengendalian internal dan mengevaluasi efektivitasnya 3. Menilai risiko salah saji material dengan memahami industri dan strategi bisnis klien serta efektivitas dalam pengendalian internal</p> <p>(Fase II) Melaksanakan Pengujian Pengendalian dan Pengujian Substantif Transaksi Pengujian pengendalian adalah menguji efektivitas</p> <p>pengendalian. Tes substantif transaksi adalah auditor mengevaluasi catatan transaksi klien dengan melakukan verifikasi jumlah nominal transaksi.</p> <p>(Fase III) Melakukan Prosedur Analitis dan Pengujian atas Rincian Saldo Prosedur analitis menggunakan perbandingan dan</p> <p>keterkaitan untuk menilai apakah saldo akun atau data lain disajikan secara wajar. Menguji rincian saldo merupakan prosedur khusus yang dimaksudkan untuk menguji salah saji nilai nominal saldo akun di laporan keuangan.</p> <p>(Fase IV) Menyelesaikan Audit dan Menerbitkan Laporan Audit Ketika audit telah diselesaikan, seorang akuntan</p> <p>publik harus menerbitkan laporan audit untuk menyertai laporan keuangan yang diterbitkan oleh klien. Laporan audit berisi gabungan informasi yang didapatkan untuk mencapai kesimpulan menyeluruh mengenai apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar.</p>