Waspada ISPA Dan Pneumonia

  • Published on
    21-Feb-2016

  • View
    6

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ispa

Transcript

Waspada ISPA dan Pneumoniahttp://dinkes.pekanbaru.go.id/eHealth. Saat ini, salah satu penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut). Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat ringan seperti batuk-pilek, namun jika ISPA yang berkelanjutan akan menjadi Pneumonia.Penyakit ISPA adalah infeksi saluran pernafasan akut yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran napas mulai dari hibung (saluran atas) hingga alveoli (saluran bawah) termasuk jaringan adneksanya, seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura.

ISPA sering terjadi pada anak, karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian penyakit batuk-pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali per tahun, yang berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk-pilek sebanyak 3 sampai 6 kali setahun.

ISPA yang berlanjut menjadi pneumonia. Pnemonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan paru-paru (alveoli). Terjadinya pneumonia pada anak sering kali bersamaan dengan terjadinya proses infeksi akut pada bronkhus yang disebut bronkopneumonia.

Etiologi ISPA terdiri dari lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah genus Streptokokus, Stafilokokus, Pnemokokus, Hemofilus, Bordetella dan Korinebakterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, adenovirus, koronavirus, pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.

Masa inkubasi adalah rentan hari dan waktu sejak bakteri atau virus masuk kedalam tubuh sampai timbulnya gejalah klinis yang disertai dengan berbagai gejalah. Infeksi akut ini berlangsung sampai dengan 14 hari, batas 14 hari di ambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA berlangsung lebih dari 14 hari.

Gejalanya bervariasi, mulai dari demam, nyeri tenggorokan, pilek dan hidung mampet, batuk kering dan gatal, batuk berdahak, dan bahkan bisa menimbulkan komplikasi seperti pneumonia (radang paru) dengan gejala sesak napas.

Umumnya, influenza dikaitkan dengan gejala yang lebih berat, serta lebih sering menimbulkan komplikasi pneumonia. Pada bayi, bisa pula timbul bronkhiolitis (radang di saluran pernapasan halus di paru-paru) dengan gejala sesak nafas. Selain itu, bisa pula terjadi laryngitis (peradangan pada daerah laring atau dekat pita suara) yang menimbulkan croup dengan gejala sesak saat menarik napas dan batuk menggonggong (barking cough).

Cara penularan ISPA dapat ditularkan melalui air ludah, darah, bersin, udara pernapasan yang mengandung kuman yang terhirup oleh orang sehat ke saluran pernapasannya. Terdapat faktor tertentu yang dapat memudahkan penularan

Kuman (bakteri dan virus) yang menyebabkan ISPA mudah menular dalam rumah yang mempunyai kurang ventilasi (peredaran udara) dan bayak asap (baik asap rokok maupun asap api). Selain itu orang bersin atau batuk tanpa menutup mulut dan hidung akan mudah menularkan kuman pada orang lain.Pencegahan

Pencegahan ISPA sangat erat kaitannya dengan sistem kekebalan tubuh yang dimiliki oleh seseorang. Seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah akan sangat rentan terhadap serangan ISPA.

Keadaan gizi dan keadaan lingkungan merupakan hal yang penting bagi pencegahan penyakit ISPA. Beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencegah ISPA antara lain dengan memberikan gizi yang cukup kepada anak atau dapat juga dengan melakukan imunisasi untuk menjaga kekebalan tubuh.

Sebagai pencegahan ISPA dapat dilakukan dengan menjaga keadaan gizi agar tetap baik, Imunisasi, menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan, mencegah kontak dengan penderita ISPA. (Ima)

Sumber: Buku pedoman pemberantasan penyakit infeksi saluran pernafasan akut untuk penangulangan Pneumonia pada bailta, serta berbagai sumber- See more at: http://dinkes.surabaya.go.id/portal/index.php/artikel-kesehatan/waspada-ispa-dan-pneumonia/#sthash.jM61EyfN.dpuf\

MENGENAL PENYAKIT PNEUMONIA (ISPA)http://www.diskes.baliprov.go.id/id/MENGENAL-PENYAKIT-PNEUMONIA--ISPA-Penyakit Pneumonia adalah infeksi akut ( infeksi sampai dengan 14 hari ) saluran pernafasan yang sudah mengenai jaringan paru paru. Etiologi penyakit Pneumonia sukar ditegakkan karena dahak sulit didapat pada penderita Pneumonia, tetapi pada umumnya dari jenis virus dan bakteri seperti Streptokokus Pneumonia dan Hemofilus Influenza.Menurut Depkes RI. (2004), faktor pencetus penyakit ISPA antara lain :1.Kuman PenyakitPenyakit Pneumonia disebabkan oleh kuman penyakit. Beberapa kuman ini juga ditemui pada orang yang sehat, jika daya tahan tubuh melemah kuman ini dapat sebagai pencetus timbulnya penyakit.2.Penyakit Pneumonia disebabkan oleh kuman penyakit. Beberapa kuman ini juga ditemui pada orang yang sehat, jika daya tahan tubuh melemah kuman ini dapat sebagai pencetus timbulnya penyakit.3.Daya Tahan Tubuh PenderitaDaya tahan tubuh penderita adalah kemampuan tubuh untuk mencegah masuk dan berkembang biaknya kuman di dalam tubuh. Daya tahantubuh dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :a.Gizi : Gizi sangat berpengaruh terhadap daya tahan tubuh. Anak dengan gizi kurang ( buruk ) akan lebih rentan terhadap terjangkitnya penyakit menular.b.Kekebalan tubuh : Bayi yang baru lahir biasanya mempunyai kekebalan terhadap penyait Difteri dan Campak sampai dengan usia 9 bulan. Kekebalan selanjutnya pada bayi harus ditimbulkan dengan memberikan imunisasi kepada bayi.4. Keadaan LingkunganKeadaan lingkungan berpengaruh terhadap terjadinya penyakit, termasuk penyakit Pneumonia. Adapun keadaan lingkungan yang berpengaruh antara lain :a.Rumah dengan jendela yang tidak memenuhi syarat menyebabkan pertukaran udara di dalam rumah tidak baik. Udara yang tidak baik seperti asap dapur, asap rokok, debu yang terkumpul dalam rumah, apabila dihisap oleh bayi kan memudahkan terjangkitnya penyakit ISPA.b.Rumah yang lembab dan basah, dimana kelembabannya cukup tinggi (>70 %) mempermudah bayi terkena penyakit ISPA.c.Rumah yang padat dan kotor, menyebabkan kuman mudah menjalar dari satu tempat ke tempat lainnya, hal ini mempermudah bayi terkena penyakit ISPA.5. Umur dan Jenis KelaminAnak usia muda lebih sering menderita penyakit dari pada orang dewasa, sedangkan Balita dengan jenis kelamin laki-laki ternyata 1,5 kali lebih sering menderita penyakit Pneumonia di bandingkan Balita perempuan.6. Sosial EkonomiTingkat sosial ekonomi yang rendah dalam keluarga pada umumnya berpengaruh tidak langsung terhadap terjadinya penyakit Pneumonia pada Balita.7. MusimMusim kemarau dengan debu yang beterbangan dan udara yang dingin dimana sirkulasi udara didalam rumah tidak lancar, cendrung sebagai pencetus penyakit ISPA.8.Tingkat PendapatanTingkat pendapatan serta tingkat pendidikan yang rendah akan menurunkan kualitas pencegahan dan pengobatan Balita yang menderita penyakit Pneumonia.WHO pada tahun 1984, mencanangkan strategi yang dibutuhkan untuk pendidikan atau promosi kesehatan meliputi :1). Advokasi (advocacy), adalah kegiatan yang ditujukan kepada pembuatan keputusan (decision makers) atau penentu kebijakan (policy makers), baik di bidang kesehatan maupun di luar sektor kesehatan, yang mempunyai pengaruh terhadap kesehatan publik.2). Dukungan sosial (social support), adalah kegiatan yang ditujukan kepada tokoh masyarakat, baik formal maupun informal, yang mempunyai pengaruh di masyarakat.3). Pemberdayaan masyarakat (empowerment), ditujukan langsung kepada masyarakat sebagai sasaran utama promosi kesehatan.(Penulis : Ni Nyoman Kristina, SKM, MPH, Widyaiswara Muda UPT BPKKTK Dinas Kesehatan Provinsi Bali)

Recommended

View more >