WUJUD PERJUANGAN PEREMPUAN DALAM PENDIDIKAN PADA ANTOLOGI ... ?· keseluruhan antologi cerita pendek…

  • Published on
    08-Jun-2019

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

WUJUD PERJUANGAN PEREMPUAN DALAM PENDIDIKAN

PADA ANTOLOGI CERITA PENDEK

SERIBU IMPIAN PEREMPUAN BURU

SEBUAH PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Sastra Indonesia

Oleh

Sigit Permadi Wibowo

NIM: 004114054

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2008

Skripsi ini kupersembahkan untuk:

Dia yang menjadi pujaan segala iman

Ayahanda dan Ibunda yang selalu mendoakan aku

Dan Saudara yang selalu mendukungku

MOTO

Orang kalah

adalah

orang yang berhenti untuk berusaha

(Tora Sudiro dalam Quickie Express)

Pernyataan Keaslian Karya

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini

tidak memuat karya atau bagian orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam

kutipan dan daftar pustaka, sebagai layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 10 Oktober 2008

Penulis

Sigit Permadi Wibowo

ABSTRAK

Wibowo, Sigit Permadi. 2008. Wujud Perjuangan Perempuan dalam Pendidikan pada Antologi Cerita Pendek Seribu Impian Perempuan Buru: Sebuah Pendekatan Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma.

Penelitian ini mengkaji wujud perjuangan perempuan dalam pendidikan pada antologi cerita pendek Seribu Impian Perempuan Buru. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Menganalisis kondisi sosiokultural yang tercermin pada antologi cerita pendek yang melatarbelakangi wujud perjuangan perempuan dalam pendidikan. (2) Mendeskripsikan wujud perjuangan perempuan dalam pendidikan di Pulau Buru yang terdapat dalam antologi cerita pendek Seribu Impian Perempuan Buru.

Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sosiologi sastra yang mengutamakan teks sastra sebagai bahan penelaahan. Penelitian ini memilih tiga cerita pendek sebagai perwakilan dari enam cerita pendek yang terdapat dalam antologi, semua populasi bersifat sama dalam mengungkapkan wujud perjuangan perempuan dalam pendidikan serta budaya yang melatarbelakanginya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan metode analisis. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua hal, yakni teknik simak dan teknik catat.

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut. (1) Penganalisisan kondisi sosiokultural dari tiga judul cerita pendek yang mewakili keseluruhan antologi cerita pendek ini dapat terlihat secara garis besar bahwa sistem-sistem dan pengaruh-pengaruh yang tercermin pada antologi cerita pendek Seribu Impian Perempuan Buru yang melatarbelakangi perjuangan perempuan dalam pendidikan, adalah kawin piara, sistem patriarkhi, dan konflik bernuansa agama. (2) Wujud perjuangan perempuan dalam pendidikan terlihat pada tokoh Maria dalam cerita pendek Maria, Keteguhan Hati Perempuan, terhadap Lusi, anak perempuan satu-satunya yang selamat dan harus melalui perjuangan berat untuk dapat menyekolahkannya. Lusia Latun (Lusi) dalam cerita pendek Tragedi Turun-Temurun Anak Perempuan Buru, Lusi tidak ingin anak-anak perempuannya memiliki nasib yang sama seperti dirinya walaupun salah satu putrinya tetap harus mengalami nasib yang sama menjadi korban tradisi kawin piara. Lusi menginginkan anak perempuan yang lain tetap bersekolah. Tokoh kedua dalam cerita pendek Tragedi Turun-Temurun Anak Perempuan Buru adalah Yati, dalam cerita ini Yati berjuang agar dirinya tetap bisa sekolah walaupun harus bertengkar dengan sang ayah, Yati lebih memilih mati jika dipinangkan dengan orang lain. Yosepha Wael (Yos) dalam cerita pendek Perempuan Di Musim Angin Timur, ia memutuskan meninggalkan orangtuanya untuk waktu yang sangat lama. Yos berani mengambil keputusan penting demi perkembangan dirinya. Wujud perjuangan dari Tokoh-tokoh yang dipaparkan merupakan gambaran perjuangan perempuan sejati dalam arti sesungguhnya, demi hak dan kebebasan untuk kemajuan, mereka berani memberontak tradisi.

ABSTRACT

Wibowo, Sigit Permadi. 2008. The Form of Womens Struggle in the Education Field as seen in the Short Stories Anthology Seribu Impian Perempuan Buru: A Review on Sociology of Literature. Indonesian Literature Department of Sanata Dharma University: Yogyakarta.

This research analyzed the form of womens struggle in the education field as mention in short stories anthology Seribu Impian Perempuan Buru. The aims of this research are (1) To Analyze sosiocultural condition which seen in the short story anthology which background of form womans struggle in the education. (2) To describe form of womens struggle in the education field at Buru Island as mention in the short story anthology Seribu Impian Perempuan Buru,

The approach which was used is a sociology literature approach which prioritizes the literature text as a basis of the study. To efficiency, this research is chosen three title as delegation from six short story which there are in anthology and population have all the same of character in laying open form of womans struggle in the education and culture which it. The methods which were used in this research were an descriptive method and analysis method. The techniques which ware used in this research consist of two things, a monitor technique and a note taking technique.

From the result of the research, it could be concluded that (1) Analysis of sosiocultural condition from three short story title of deputizing the overall of this short story anthology earn seen marginally that systems and effects which seen in the short story anthology which background of form womans struggle in the education is kawin piara, patriarchy system, and religion conflict nuance, (2) the form of womans struggle in the world of education as seen in the character of Maria in the short story Maria, Keteguhan Hati Perempuan, toward Lusi, the only one daughter who saved and have to struggle to get education. Lusia Latun (Lusi) in the short story Tragedi Turun-Temurun Anak Perempuan Buru, Lusi doesnt want her daughters have the same life as her life eventough one of her daughter still have to experienced the same life as her life, become the victim of tradition kawin piara. Lusi wants her remain daughters go to school. The second of Figure in The short story Tragedi Turun-Temurun Anak Perempuan Buru is Yati, in this story Yati fight for herself to get stay in School eventough she have to quarrel with her father, she chooses to die if she have to be engaged with someone. Yosepha Wael (Yos) in the short story Perempuan Di Musim Angin Timur, she decides to leave her parents for a long time. Yos dares to take important decision for her development. The form struggle of each character being told is a view of true womens struggle in the real life for the rights of freedom of development, they dare to break the tradition.

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberi

kelimpahan dan tuntunan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi

dengan judul Perjuangan Perempuan dalam Pendidikan pada antologi cerita pendek

Seribu Impian Perempuan Buru: Sebuah Pendekatan Sosiologi Sastra, ditulis sebagai

salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra Indonesia.

Skripsi ini dapat terwujud berkat bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak.

Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. S.E. Peni Adji, S.S., M.Hum, dan Dra. F. Tjandrasih Adji M.Hum, selaku

dosen pembimbing, yang telah bersedia meluangkan waktu untuk

membimbing sampai tersusunnya skripsi ini;

2. Drs. B. Rahmanto, M.Hum, Drs. FX. Santosa, Dr. I. Praptomo Baryadi,

M.Hum, Drs. A. Hery Antono, M.Hum, dan Drs. Ari Subagyo, M.Hum,

yang telah dengan sabar mendidik penulis;

3. Para karyawan dan karyawati sekretariat Sastra dan BAAK yang selalu

mempermudah pengurusan administrasi;

4. Para karyawan dan karyawati Perpustakaan Universitas Sanata Dharma

yang telah membantu mempermudah peminjaman buku-buku;

5. Ayahanda Hari Suatmadji, Ibunda Budi Umi Winarti, dan Kakanda Aries

Sutanto serta Agung Budiharto yang telah memberi dukungan kepada

penulis;

6. Unit Kegiatan Mahasiswa Pecinta Alam Sanata Dharma (MAPASADHA)

dan saudara-saudaraku di pondok tercinta, yang telah banyak memberikan

pengalaman berharga dan rasa persaudaraan yang luar biasa serta membantu

penulis mewujudkan skripsi ini;

7. Keluarga besar paguyuban Waris Mataram Muntilan yang telah memberi

dukungan kepada penulis;

8. Vinawinanti yang selalu mendukung penggarapan sehingga skripsi ini dapat

diselesaikan dengan baik;

9. Sutikno Sutantyo yang telah banyak memberikan cerita dan pengalamannya

selama berkarya di Pulau Buru;

10. Teman-teman Bengkel Sastra dan teman-teman seperjuangan Sastra

Indonesia 2000 serta yang telah membantu penulis mewujudkan skripsi ini;

11. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, namun telah

banyak memberikan dukungan dalam penyelesaian skripsi ini.

Penulis mengerjakan skripsi ini dengan bantuan pihak-pihak di sekitar, panduan

dari buku-buku yang terdapat dalam lembar daftar pustaka. Dengan demikian, segala

sesuatu yang terdapat dalam hasil penelitian ini akan menjadi tanggung jawab

penulis. Penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi pembaca, terima kasih.

Yogyakarta, Oktober 2008

Penulis

(Sigit Permadi Wibowo)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.. i

HALAMAN PERSETUJUAN... ii

HALAMAN PENGESAHAN iii

HALAMAN PERSEMBAHAN. iv

MOTO........ v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA..... vi

ABSTRAK. vii

ABSTRACT......viii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS. ix

KATA PENGANTAR........ x

DAFTAR ISI.. xii

BAB I PENDAHULUAN.... 1

1.1 Latar Belakang................................... 1

1.2 Rumusan Masalah.............................................................. 4

1.3 Tujuan Penelitian................................... 4

1.4 Manfaat Penelitian......................................... 5

1.5 Landasan Teori.............. 6

1.5.1 Sosiologi Sastra ................... 6

1.5.1.1 Hubungan Karya Sastra dengan Kenyataan......... 7

1.5.1.2 Sosiokultural dalam Karya Sastra 8

1.5.2 Pendidikan........ 9

1.5.3 Kawin Piara.................. 10

1.6 Metode Penelitian...... 12

1.6.1 Metode Analisis.........12

1.6.2 Teknik Pengumpulan Data....... 13

1.6.3 Populasi dan Sampel............. 14

1.6.3.1 Populasi........ 14

1.6.3.2 Sampel.......... 14

1.6.4 Sumber Data. 15

1.7 Sistematika Penyajian............ 16

BAB II KONDISI SOSIOKULTURAL YANG TERCERMIN PADA

ANTOLOGI CERITA PENDEK SERIBU IMPIAN PEREMPUAN BURU

YANG MELATARBELAKANGI WUJUD PERJUANGAN

PEREMPUAN DALAM PENDIDIKAN 17

2.1 Kawin Piara... 18

2.2 Patriarkhi....... 24

2.3 Konflik Bernuansa Agama.... 29

BAB III WUJUD PERJUANGAN PEREMPUAN DALAM PENDIDIKAN

PADA ANTOLOGI CERITA PENDEK SERIBU IMPIAN

PEREMPUAN BURU....... 37

3.1 Wujud Perjuangan Perempuan dalam Pendidikan pada Cerita

Pendek Maria, Keteguhan hati Perempuan, karya Sutikno

Sutantyo...... 38

3.2 Wujud Perjuangan Perempuan dalam Pendidikan pada Cerita

Pendek Perempuan Di Musim Angin Timur, karya Bambang

A. Sipayung................ 42

3.3 Wujud Perjuangan Perempuan dalam Pendidikan pada Cerita

Pendek Tragedi Turun-Temurun Anak Perempuan Buru, karya

Melani Wahyu Wulandari.......46

BAB IV PENUTUP.... 51

4.1 Kesimpulan........ 51

4.2 Saran.. 53

DAFTAR PUSTAKA......... 54

BIODATA PENULIS......... 56

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Karya sastra merupakan hasil cipta pengarang yang dicipta dengan maksud

menyampaikan perasaan-perasaannya sebagaimana yang dirasakannya pada waktu ia

bersentuhan dengan kehidupan sekitar (Suharianto, 1982: 17). Sistem nilai dalam

tradisi lokal dan kapitalisme global memiliki pertautan yang unik dalam memandang

perempuan. Keduanya meneriakkan jargon tentang tingginya posisi perempuan, tetapi

pada saat yang sama menjadikan perempuan sebagai sandera untuk kepentingannya.

Dalam banyak tradisi, nilai perempuan ditentukan oleh harga mas kawin para gadis.

Sementara kapitalisme global yang mengusung isu demokrasi dalam praktiknya

memandang perempuan lebih sebagai pasar, komoditas, sekaligus konsumen. Di

dalam kedua sistem nilai itu terjadi hubungan yang rumit di antara perempuan

sehingga yang tertindas dan yang menindas menjadi tidak jelas lagi. Namun, yang

tidak jelas itu bisa diperjelas dengan melihat pola penindasannya karena ia menukik

ke bawah dalam spiral dehumanisasi sistematis. Seperti diingatkan ilmuwan dan

pengamat masalah globalisasi, Dr. I. Wibowo, perempuan dunia pertama menikmati

hasil dari perjuangan melawan patriarki, tetapi dengan keringat, ratapan, dan darah

perempuan dunia ketiga yang miskin dan kurang pendidikan. Istilah dunia pertama

dan dunia ketiga harus dibaca sebagai metafor dari kelas sosial yang lebih tinggi di

satu negara. Sekaligus kenyataan riil dari bangsa yang lain di negara yang lebih maju

dibandingkan dengan negara-negara pengirim buruh migran, khususnya perempuan,

lebih khusus lagi yang tidak punya keterampilan khusus dan bekerja di wilayah

domestik. Pola penindasan memperjelas wujud nilai dan sifat patriarki dalam sikap

dan tingkah laku. Meskipun sebagian besar yang menginternalisasikannya adalah

laki-laki, patriarki tidak terpilah secara ketat atas dasar jenis kelamin biologis.

Perempuan dari suku apalagi sebagai suku terasing ras, etnis, kelompok, golongan,

dan agama minoritas berada di lapisan paling bawah. Lebih bawah dari yang

terbawah kalau dalam kelompoknya mereka berada di lapis sosial terbawah.

Penindasnya bisa siapa pun si lapisan sosial di atasnya, entah laki-laki atau

perempuan (Hartiningsih, 2006).

Pendidikan di Indonesia masih membedakan pendidikan untuk laki-laki dan

pendidikan untuk anak perempuan. Menurut Muller (1999: 16) perempuan yang

miskin, baik anak maupun orang dewasa, paling sering tidak berkesempatan

memperoleh pendidikan karena bermacam-macam alasan, terutama yang bersifat

sosio-budaya. Kenyataan ini adalah faktor penting sehubungan dengan permasalahan

feminisme kemiskinan karena melestarikan diskriminasi struktural kaum

perempuan dan ket...