Yogyakarta Area

  • Published on
    15-Sep-2015

  • View
    24

  • Download
    6

Embed Size (px)

DESCRIPTION

buku tentang yk dan kebudayaannya

Transcript

  • BAB I

    GAMBARAN UMUM

    1.1 Daerah Istimewa Yogyakarta

    Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diakui secara formal oleh

    Pemerintah Pusat sebagai daerah Istimewa pasca ditetapkannya Undang-

    Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa

    Yogyakarta. Meskipun dilihat dari sejarah, DIY memiliki keistimewaan yang

    melekat sejak dari terbentuknya baik dari segi kepemimpinan, letak wilayah,

    maupun nilai budaya.

  • Nilai filosofi budaya DIY yang dimiliki dan terus dijunjung tinggi sebagai

    pondasi keistimewaan dan mendasari keberadaan DIY yang menjadi

    pemandu tumbuh dan berkembangnya peradaban masyarakat DIY, antara

    lain:

    a. Hamemayu Hayuning Bawana, mengandung makna menjaga Bawana

    atau dunia ini tetap Hayu yang bermakna indah dan Rahayu yang

    bermakna lestari. Konsep ini mengandung makna sebagai kewajiban

    melindungi, memelihara, serta membina keselamatan dunia dan lebih

    mengedepankan kepentingan masyarakat daripada kepentingan pribadi

    maupun kelompok.

    b. Sangkan Paraning Dumadi, Manunggaling Kawula lan Gusti. Konsep

    Sangkan Paraning Dumadi berawal dari keyakinan bahwa Tuhan ialah

    asal-muasal dan tempat kembali segala sesuatu. Sementara itu, konsep

    Manunggaling Kawula lan Gusti berdimensi vertikal dan horizontal.

    Manunggaling Kawula Gusti dapat dimaknai dari sisi kepemimpinan yang

    merakyat dan disisi lain dapat dimaknai sebagai piwulang simbol

    ketataruangan.

    Kota pusat pemerintah Mataram Yogyakarta dirancang dengan filosofi

    sangkan paraning dumadi manunggaling kawula gusti. Di batas selatan

    terdapat Panggung Krapyak yang melambangkan unsur wanita (yoni), di

    utara terdapat Tugu Pal Putih yang melambangkan unsur laki-laki

    (lingga), sedangkan di tengah terdapat kraton yaitu tempat kehidupan

    yang terjadi karena perpaduan unsurwanita dan laki-laki. Perjalanan dari

    Panggung Krapyak ke Kraton dimaknai sebagai perjalanan manusia dari

    lahir hingga siap bekerja, sedangkan dari Tugu Pal Putih ke Kraton

    dimaknai sebagai perjalanan manusia menghadap Khaliknya.

    c. Tahta Untuk Rakyat. Konsep Tahta Untuk Rakyat dari segi maknanya

    tidak dapat dipisahkan dari konsep Manunggaling Kawula Gusti karena

    pada hakekatnya keduanya menyandang semangat yang sama yakni

    semangat keberpihakan, kebersamaan dan kemenyatuan antara

    penguasa dan rakyat, antara Kraton dan Rakyat.

  • d. Golong Gilig, Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh. Konsep

    inibermakna kesatupaduan komunitas, etos kerja, keteguhan hati, dan

    tanggungjawab sosial untuk membangun bangsa dan negara dalam

    melawan penjajahan dan untuk menciptakan kesejahteraan bersama.

    e. Catur Gatra Tunggal Catur Gatra Tunggal merupakan filosofi dan juga

    konsep dasar pembentukan inti kota. Konsep Catur Gatra Tunggal yang

    tidak lepas dari konsep sumbu Imaginer (Gunung Merapi-Laut Selatan)

    dan Sumbu Filosofis (Panggung Krapyak-Kraton-Tugu) bukan hanya

    sekedar meletakkan dasar identitas atau keabadian saja, melainkan juga

    memiliki kapasitas memandu dengan tersambungnya empat elemen

    kota ini dengan sumbu Kraton-Tugu yang memberikan arah panduan

    perkembangan kota membujur ke utara sampai Tugu dan melintang ke

    kiri (barat) ke arah Kali Winongo serta melintang ke kanan (timur) ke

    arah Kali Code. Konsep ini memberikan makna teks sekaligus konteks

    (ruang dan waktu), dalam arti konsep ini telah memberikan modal

    awal bagi pembentukan kota dan sekaligus memberikan bekal pada

    perkembangan kota di masa depan.

    f. Pathok Negara adalah salah satu konsep penting yang memberikan nilai

    keistimewaan tata ruang Yogyakarta, yang tidak hanya sekedar ditandai

    dengan dibangunnya empat sosok masjid bersejarah (Mlangi, Ploso

    Kuning, Babadan, dan Dongkelan), tetapi juga memberikan tuntunan

    teritori spasial yang didalamnya secara implisit menyandang nilai

    pengembangan ekonomi masyarakat, pengembangan agama Islam, dan

    pengembangan pengaruh politik kasultanan.Secara spasial, konsep

    Pathok Nagara sesungguhnya memberikan pesan dan pelajaran yang

    sangat berharga yakni pentingnya membatasi perkembangan fisik

    keruangan kota untuk melindungi fungsi-fungsi pertanian dan

    perdesaan yang menjadi penyangganya.

    Visi Pembangunan 2012-2017: Daerah Istimewa Yogyakarta yang

    berkarakter, berbudaya, maju, mandiri, dan sejahtera menyongsong

    peradaban baru

  • Misi pembangunan daerah 2013-2017:

    1. Membangun peradaban berbasis nilai-nilai kemanusiaan dengan

    meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, mengembangkan

    pendidikan yang berkarakter didukung dengan pengetahuan budaya,

    pelestarian dan pengembangan hasil budaya, serta nilai-nilai budaya.

    2. Menguatkan perekonomian daerah yang didukung dengan semangat

    kerakyatan, inovatif dan kreatif disertai peningkatan daya saing

    pariwisata guna memacu pertumbuhan ekonomi daerah yang

    berkualitas dan berkeadilan.

    3. Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang baik ke arah katalisator

    yang mampu mengelola pemerintahan secara efisien, efektif, mampu

    menggerakkan dan mendorong dunia usaha dan masyarakat lebih

    mandiri.

    4. Memantapkan prasarana dan sarana daerah dalam upaya

    meningkatkan pelayanan publik dengan memperhatikan kelestarian

    lingkungan dan kesesuaian Tata Ruang.

  • 1.2 Aspek Geografi dan Demografi

    Sumber: Bappeda DIY, 2013

    Gambar 1.1

    Peta Administrasi Daerah Istimewa Yogyakarta

    1.2.1 Wilayah Administrasi

    Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terletak di Pulau Jawa bagian tengah

    selatan dimana di sebelah selatan berbatasan dengan Laut Indonesia, sebelah

    Timur Laut berbatasan dengan Kabupaten Klaten, sebelah Tenggara

    berbatasan dengan Kabupaten Purworejo, serta di sebelah Barat dan Barat

    Laut masing-masing berbatasan dengan Kabupaten Purworejo dan

    Kabupaten Magelang.

  • DIY terletak antara 7.33- 8.12 Lintang Selatan dan 110.00 -

    110.50 Bujur Timur. DIY memiliki luas 3.185,80 km atau 0,17% dari luas

    Indonesia (1.860.359,67 km) dan merupakan wilayah terkecil setelah

    Provinsi DKI Jakarta.

    Tabel 1.1

    Luas dan Pembagian Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

    menurut Kabupaten/Kota, 2012

    Kabupaten/Kota Luas Wilayah

    Kecamatan Kelurahan/De

    sa (Km2) %

    Kota Yogyakarta 32,50 1,02 14 45

    Bantul 506,85 15,91 17 75

    Kulon Progo 586,27 18,40 12 88

    Gunungkidul 1.485,36 46,63 18 144

    Sleman 574,82 18,04 17 86

    DIY 3.185,80 100 78 438

    Sumber: BPS Provinsi DIY, 2013

    Berdasarkan pembagian wilayah menurut administrasi pemerintahan,

    DIY dibagi menjadi 4 kabupaten dan 1 kota, dengan wilayah terluas adalah

    Kabupaten Gunungkidul sebesar 1.485,36 km2atau 46,63% dan wilayah

    terkecil adalah Kota Yogyakarta, yaitu 32,50 km2 atau 1,02%.

  • Gambar 1.2

    Prosentase Luas Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta

    menurut Kabupaten/Kota, 2013

    1.2.2 Kondisi Geografis

    Berdasarkan bentang alam, wilayah DIY dapat dikelompokkan menjadi

    empat satuan fisiografi sebagai berikut:

    Satuan fisiografi Gunungapi Merapi, memiliki luas 582,81 km2 dan

    ketinggian 80-2.941m,terbentang mulai dari kerucut gunung api hingga

    dataran fluvial gunung api termasuk juga bentang lahan vulkanik,

    meliputi Sleman, Kota Yogyakarta dan sebagian Bantul. Daerah kerucut

    dan lereng gunung api merupakan daerah hutan lindung sebagai

    kawasan resapan air daerah bawahan. Satuan bentang alam ini

    terletak di Sleman bagian utara.

    Pegunungan Selatan dengan luas 1.656,25 km2 dan ketinggian 150-

    700 m. Satuan Pegunungan Selatan, yang terletak di wilayah

    Gunungkidul, merupakan kawasan perbukitan batu gamping

    (limestone) dan bentang alam karst yang tandus dan kekurangan air

    permukaan, dengan bagian tengah merupakan cekungan Wonosari

    (Wonosari Basin) yang telah mengalami pengangkatan secara tektonik

    Kota Yogyakarta

    1,02 %

    Kab. Bantul 15,91 %

    Kab. Kulon Progo

    18,40 %

    Kab. Gunungkidul

    46,63 %

    Kab. Sleman 18,04 %

    Sumber: DDA 2013, BPS Provinsi DIY

  • sehingga terbentuk menjadi Plato Wonosari (dataran tinggi Wonosari).

    Satuan ini merupakan bentang alam hasil proses solusional (pelarutan),

    dengan bahan induk batu gamping dan mempunyai karakteristik

    lapisan tanah dangkal dan vegetasi penutup sangat jarang.

    Pegunungan Kulonprogo dan Dataran Rendah Selatan memiliki luas

    706,25 km2 dan ketinggian 0-572 m. Satuan Pegunungan Kulonprogo,

    terletak di Kulonprogo bagian utara, merupakan bentang lahan

    struktural denudasional dengan topografi berbukit, kemiringan lereng

    curam dan potensi air tanah kecil.

    Dataran rendah antara Pegunungan Selatan dan Pegunungan

    Kulonprogo memiliki luas 215,62 km2 dan ketinggian 0-80 m. Satuan

    Dataran Rendah, merupakan bentang lahan fluvial (hasil proses

    pengendapan sungai) yang didominasi oleh dataran aluvial,

    membentang di bagian selatan DIY, mulai dari Kulonprogo sampai

    Bantul yang berbatasan dengan Pegunungan Selatan. Satuan ini

    merupakan daerah yang subur. Termasuk dalam satuan ini adalah

    bentang lahan marin dan eolin yang belum didayagunakan, merupakan

    wilayah pantai yang terbentang dari Kulonprogo sampai Bantul. Khusus

    bentang lahan marin dan eolin di Parangtritis Bantul, yang terkenal

Recommended

View more >