Bab 16 Kelas X Seni Budaya

  • Published on
    18-Jul-2015

  • View
    3.742

  • Download
    5

Embed Size (px)

Transcript

<ul><li><p>420 Kelas X SMA / SMK / MA / MAK</p><p>Bab 16 Kritik Teater</p></li><li><p>421Seni Budaya</p><p>Setelah mempelajari Bab 16 peserta didik diharapkan dapat: </p><p>1. Mendeskripsikan pengertian kritik teater.</p><p>2. Mengidentifikasi unsur kritik Teater.</p><p>3. Membandingkan jenis kritik Teater.</p><p>4. Mengidentifikasi fungsi kritik Teater.</p><p>5. Mengidentifikasi simbol kritik Teater.</p><p>6. Mengidentifikasi nilai estetik kritik Teater.</p><p>7. Mengapresiasi karya teater melalui media.</p><p>8. Menulis kritik bersumber apresiasi karya teater</p><p>9. Mempresentasikan karya kritik teater secara lisan dan tulisan.</p><p>10. Memaknai pembelajaran kritik teater.</p></li><li><p>422 Kelas X SMA / SMK / MA / MAK</p><p>PengantarPembelajaran Seni Teater Semester dua, Bab 8, Kelas X ini, merupakan tahapan selanjutnya dari bahasan materi pembelajaran Bab 7. Terkait dengan pembelajaran seni teater Bab 8 ini, Kalian akan belajar untuk mengetahui, memahami dan mempraktikan pembelajaran kritik dalam seni teater. Untuk memberikan pembelajaran yang optimal dalam materi kritik teater, disyaratkan Kalian memahami, mengingat kembali materi pembelajaran bab-bab sebelumnya terkait materi lingkup seni Teater dan beberapa unsur penting di dalamnya. </p><p>Di awal pembelajaran seni teater, kita sepakat bahwa belajar teater adalah belajar tentang lingkup kehidupan. Maksudnya, kehidupan yang kita alami sehari-hari, dan melalui pengalaman hidup orang dapat dijadikan sumber, gagasan dalam penciptaan seni Teater. </p><p>Setiap hari, Kalian melihat kejadian peristiwa, mendengar khabar berita, baik, melalui; pengalaman langsung, tontonan televisi maupun siaran radio. Berangkat dari pengalaman Kalian, baik secara langsung maupun melalui media, pasti tidak semua pengalaman menarik hati dan Kalian tanggapi dengan serius. Tetapi, sebaliknya bagi orang lain, pengalaman yang sama dengan Kalian, justru menjadi hal menarik dan penting untuk dibicarakan. Oleh sebab itu, perbedaan dalam menanggapi terhadap suatu pengalaman adalah akibat dari perbedaan kepekaan seseorang. Kepekaan sebagai kemampuan Kalian dalam menanggapi, termasuk menanggapi karya Teater adalah hal penting dalam pembelajaran kritik. Kritik terhadap karya Teater, diperlukan kepekaan seni dan kepekaan intelektual. Kepekaan seni diperlukan ketajaman rasa seni melalui indra pendengaran dan penglihatan. Kepekaan intelektual adalah ketajaman dalam memahami dan menemukan makna, pesan moral yang terkandung, tersembunyi, implisit di dalam nilai bentuk karya seni, karya Teater. Dengan demikian, belajar tentang kepekaan di dalam menanggapi karya Teater adalah belajar tentang kritik Teater. Kritik, terhadap karya Teater merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan apresiasi. </p><p>Ketika Kalian menyaksikan pertunjukkan teater di atas panggung, media televisi atau layar perak (bioskop), unsur apa saja yang Kalian lihat (tonton)? Coba kalian amati gambar di bawah ini!</p></li><li><p>423Seni Budaya</p><p>1. Gambar manakah yang menunjukkan peristiwa teater yang Kalian sukai dan tidak sukai?</p><p>2. Dapatkah Kalian memberikan alasan , pendapat terkait pernyataan Kalian pada pertanyaan nomor satu? </p><p>3. Apa perbedaan yang menonjol dari sudut pandang apresiasi teater berdasarkan gambar yang ditampilkan?</p><p>4. Dapatkah Kalian mengidentifikasi unsur-unsur karya teater dari contoh gambar tersebut?</p><p>5. Bagaimanakah perbedaan teater tradisional dan non tradisional berdasarkan rumpun/Genre melalui contoh gambar tersebut? </p><p>Kalian perhatikan gambar di atas dengan cermat, kemudian jawablah pertanyaan di bawah ini!</p><p>1 2 3</p><p>654</p><p>7 8 9</p></li><li><p>424 Kelas X SMA / SMK / MA / MAK</p><p>No Gambar Bentuk Teater </p><p>Unsur TeaterUraian Penokohan Tata Pentas</p><p>1 23456789</p><p>Berdasarkan pengamatan melalui gambar, sekarang Kalian kelompokkan dan isilah tabel di bawah ini sesuai dengan jenis, bentuk dan unsur penting di dalam karya teater!</p><p>Setelah kalian mengisi kolom tentang pengamatan terhadap karya teater melalui gambar. Selanjutnya, bacalah tulisan atau ulasan pertunjukan teater di bawah ini, kemudian diskusikanlah dengan teman-teman kalian! </p></li><li><p>425Seni Budaya</p><p>MANUKSMASebuah Tawaran Kreativitas Pertunjukan </p><p>Berakar Lokal Berdampak Global(Catatan: Karya Tari STSI Surakarta di Gedung Sunan Ambu </p><p>STSI Bandung, 26 November 2005)Oleh, Agus Supriyatna</p><p>Manuksma adalah kisah kasih manusia dalam luka liku kehidupan. Kurawa yang serakah dan Pandawa yang pasrah sebuah prahara perang saudara berakar ketidakadilan Maha Raja Destarata terhadap Sang Putra. Bharata Sang Kuasa berkata kebenaran adalah nyata dan kesalahan adalah azab yang tertunda . Itulah sepenggal kisah Epos Mahabharata karya besar Empu Tantular yang diangkat oleh STSI Surakarta pada pertunjukan lawatan di kota Bandung, tepatnya di gedung pertunjukan Sunan Ambu STSI Bandung, tanggal 25 November 2005.</p><p>Panggung pertunjukan tampak gelap, tanpa suara. Tak lama Secercah lampu damar dibawa seseorang berpakaian Pandita masuk dari arah wing kanan depan, seperti tengah mencari-cari sesuatu. Musik sayup dan lirih Saluang (ala Minang) dengan sesekali perkusi lonceng kecil dibunyikan mengisi suasana semakin hening larut dalam sebuah pencarian. Jelang sesaat, Sang Pandita pun bertemu dengan lima sosok manusia diam (variasi pose) nyaris disentral panggung dengan penataan leveling apik sebagai gambaran ketakberdayaan ulah manusia. Hanya warta yang bisa didapat, hanya derita yang dapat disampaikan keangkuhan, kedengkian dan keserakahan manusia membuat alam gersang tak bersahabat murka menimpa umat . Sebuah inti prolog yang disampaikan tokoh Pandita dalam membuka lembar kisah Bharata yang tak asing dibenak kita.</p><p>Lambat laun cahaya biru (lighting vocus) memperjelas geliat di tempat lima sosok manusia dengan ungkapan tembang keprihatinan dan gerak-gerak tari maknawi bercampur ekspresi teatrikal hingga rubuh satu persatu jatuh tak bernyawa. Hanya satu yang hidup Destarata Sang Maha Raja. Dalam bimbang dan ragunya larut dalam pertanyaan sarkasme Kenapa Pandawa di tempatkan di Pura Warnamarta tidak Kurawa, tempat asri subur makmur loh jinawi ? Karena Pandawa masih ingusan, dan tidak tahu balas budi. Celoteh Sang Kurawa, yang berakhir dengan titah Bakar Warnamarta ! Panggung pun mendadak dominan merah, visualisasi pembakaran pun diperjelas dengan silhouette gunungan dari layar mobile manual disorot lampu Parcan dari arah belakang. Tampak Destarata membelakangi penonton, galau menyaksikan dibakarnya Warnamarta. </p></li><li><p>426 Kelas X SMA / SMK / MA / MAK</p><p>Pura Warnamarta dan rakyat luluh lanta. Sang Bima pergi menghadap Baginda Destarata memohon petunjuk atas prahara. Destarata sungguh bahagia, Sang putra Pandawa masih bernyawa. Pandawa emban tugas titah Baginda Bangun kembali Warnamarta. Pandawalilima pun (Bima, Arjuna, Kresna, Nakula dan Sadewa) bermusywarah, bersiaga dan bergegas mempersiapkan diri. Hal ini, tampak lewat ungkapan komposisi tarian dengan gerak-gerak dominan tari maknawi dan button signal (kepalan tangan dan lipatan kaki khas tarian Jawa) yang dibawakan oleh lima orang penari pria dengan kostum: Samping Dodot lereng putih, celana Sontog warna merah berpolet lingkaran mas di ujung betis celana dengan rumbai putih ala pakaian etnik Irian Jaya melingkar seluas pinggang. </p><p>Warnamarta berhasil dibangun kembali oleh Pandawa. Babak ini, dipertegas melalui ungkapan perupaan teatrikal bersumber gagasan artistik Wayang Kulit dengan menghadirkan adegan-adegan silhuette tumbuhan dan hutan yang subur (gunungan), binatang yang hidup pada habitatnya (darat, laut, hutan dan udara) dan para rakyat pun tampak damai, ceria dan penuh canda. Adegan keceriaan para rakyat, tampaknya dipertebal dengan menghadirkan tokoh goro-goro sebagai ungkapan keceriaan dan struktur khas teater tradisi atas kemenangan , di kala Sang majikan membutuhkan hiburan dan nasihat. Iringan gamelan berlaras pelog berirama ceria mengantar tarian goro-goro dengan asesoris costume (koteka, gelang lengan, kaki dan rambut) dominan warna kuning dan motif gerak-gerak popular khas etnik Kalimantan (Tari giring-giring) larut dalam suasana penuh canda dan humor. </p><p>Babak berikutnya Pandawa membalas Kurawa. Pandawa kalah perang. Karena kekhilapan Pandawa Sang Pandita (Semar melalui silhuette) berpetuah pada Pandawa Ndooo ndo hiduplah dalam payung kesucian dan jiwa-jiwa manunggaling Kawulaning Gusti . Selepas ucapan Sang Pandita (Semar), Sang Bunda yang anggun dan bijaksana (Dewi Kuntinalibrata) pakaian apok hijau muda, sinjang polos hijau tua, berselendang kuning dengan rambut cepol dilingkari warna mas masuk menemui para Sang Putra untuk memberikan semangat dan memberikan kekuatan pada Bima selaku Sang putra terbesar diungkap melalui gerak-gerak maknawi dan button signal (gerakan memberikan kekuatan pada tubuh Bima, menaiki Bima sambil menari seolah-olah memasukan kekuatan dan akhirnya berjalan dengan posisi tangan di simpan di pundak tengadah ke atas seolah-olah memohon doa pada Sang Kuasa).</p><p>Perang Pandawa dan Kurawa pun terjadi. Suasana berkecamuk semakin menjadi, lebih-lebih dipertebal dengan suasana musikal kolaborasi instrumen gamelan Jawa dan tepak rebana ala Rudatan mengantar dan memberi alur Dramatik Ironi (yang benar akan menang dan yang salah pasti kalah). Terbukti peperangan pun berpihak pada Pandawa. </p></li><li><p>427Seni Budaya</p><p>Kemenangan Pandawa teraih sudah. Kedamaian Warnamarta tercapai sudah. Permusuhan Kurawa Pandawa belumlah sudah. Akhir kisah pun jelang sudah, Sang Sutradara berpihak sudah pada Pandawa pemegang pataka kebenaran. Adegan pun ditutup sudah, Pandawa berpose sudah, di atas hamparan kain putih, haru biru spotlight menyorot backdrop triangle (simbol vertikal) bermanik cahaya obor. Sesaat Pandita melintas panggung berjalan keluar, dan lampu pun padam sudah. Tinggalah tepuk tangan penonton mengantar seluruh pendukung naik ke atas panggung, terima penghargaan tanda tontonan sangat berkesan.</p><p>Mengkritisi karya Manuksma sajian STSI Surakarta sebagai bentuk Dramatari bersumber lokal berdampak global merupakan hasil apresiasi penulis bukan tanpa alasan.</p><p>Pertama, hadirnya penyebutan karya Manuksma sebagai bentuk Dramatari, karena di dalamnya mengandung unsur-unsur penting pertunjukan dramatari, yaitu adanya; naskah , cerita berfungsi penjalin kisah dan benang merah secara dramatic lakon, penokohan dan karakteristik yang jelas, kata-kata (bahasa verbal) dipergunakan seperlunya sepanjang tidak dapat dijelaskan dengan bahasa gerak tari, lebih dominan estetik gerak sebagai media utama pengungkap makna, hadirnya visualisasi perupaan (silhouette, Wayang Kulit) tidak mengurangi bobot penyebutan bentuk Dramatari, kuatnya unsur musik berfungsi sebagai pengiringi tarian dalam penggambaran adegan dan penebal suasana adegan. Bahkan lebih jauh dari itu, apabila merujuk pendapat Soedarsono bahwa sebenarnya semua jenis dan bentuk pertunjukan yang mempergunakan naskah , cerita dengan media utamanya gerak disebut dramatari . Itulah sebabnya penulis menyebut pertunjukan Manuksma adalah Dramatari.</p><p>Kedua Dramatari Manuksma adalah sebuah tawaran alternatif tontonan dan tuntunan yang diangkat dari sebuah cerita klise (semua orang sudah membaca dan mengetahui bahkan telah mementaskannya), yaitu kisah Mahabharata dengan tema sentral sengketa tahta pembagian negara berakibat perang saudara antara Kurawa dan Pandawa prahara berakar Raja Destarata. Tatapi di balik semua itu, ditangan STSI Surakarta menjadi tontonan yang atraktif dan mengigit. Greget yang muncul tidak hanya sebatas pemilihan casting , pendukung artistik lainnya, tetapi yang patut mendapat acungan jempol adalah orsinalitas gagasan dalam mengawinkan , mengkolaborasikan potensi warna lokal seni daerah kita (baca, Indonesia), yaitu dengan menghadirkan warna etnik : wayang kulit (silhouette), kolaborasi unsur musik (gamelan Jawa, Rebana, Perkusi, Saluang, Tembang Jawa (macopat), gerak tari (dominan Jawa gaya Surakarta, tari Kalimantan (giring-giring) termasuk di dalamnya pemilihan kostum pemain (motif batik, motif Kalimantan dan Papua). Ini membuktikan bahwa Manuksma mencoba menawarkan sajian karya inovatif yang mengarah pada keindonesiaan yang bahan bakunya diambil dari local color dan local genius nusantara.</p></li><li><p>428 Kelas X SMA / SMK / MA / MAK</p><p>Ketiga, pertunjukan Manuksma sebuah tawaran tontonan yang praktis dan fleksibel. Artinya, kreativitas STSI Surakarta sebagian besar tidak menggantungkan diri pada teknologi seni yang serba canggih, seperti; multimedia, equipment lampu yang lengkap, cyclorama yang bagus dan terpasang rapi , pendek kata gedung pertunjukan yang serba lengkap dengan fasilitasnya. Justru dengan, kepiawaian inilah, dengan tidak mengurangi estetis pertunjukan Manuskma telah membuka pikiran para kreator seni di kita untuk kembali dalam mengoptimalkan pemberdayaan potensi dan aset lokal yang apabila diolah dan ditata dengan kesungguhan bernilai jual dan dapat mengangkat citra bangsa pada tataran global- international. Bahkan lebih jauh memiliki karakter kebangsaan kita yang khas, bukan kita dijajah oleh kemajuan teknologi barat. Jika diangkat pikiran hematnya, kita tidak terjebak dengan peralatan yang mahal dalam sebuah urusan kreativitas seni dan nilai fleksibelnya peralatan dan pemilihan barang yang dipergunakan pertunjukan baik dalam persiapan maupun dalam pelaksanaannya dapat dilakukan dan dibawa dengan mudah, cepat, murah, tidak makan ruang, waktu pendek dan tempat yang sederhana pun jadi.</p><p>Selamat buat para pendukung Dramatari Manuksma, simbol makna bangkitnya keindonesiaan lewat seni pertunjukan dengan kemampuan untuk berdiri di kaki sendiri, tetapi dengan legowo tidak menampik teknologi barat yang canggih. </p><p>Format Diskusi Hasil PengamatanNama Siswa : </p><p>NIS :</p><p>Hari/Tanggal Pengamatan :</p><p>No. Aspek Pengamatan Uraian Hasil Pengamatan1 Judul Ulasan</p><p>2 Jenis dan Bentuk Ulasan</p><p>3 Gambaran Umum Pertunjukan4 Ulasan Pemeranan 5 Ulasan Tata Pentas </p><p>Setelah kalian membaca tulisan atau ulasan terkait pertunjukan teater tersebut, kemudian diskusikanlah dengan teman-teman dan isilah kolom di bawah ini!</p></li><li><p>429Seni Budaya</p><p>6 Bahasan/ Ulasan Pertunjukan7 Pesan Masukan Pembaca</p><p>8 Pesan Masukan Sutradara/Koreografer/Komposer</p><p>9 Pesan Masukan Pemeran/Pemain</p><p>A. Pengertian Kritik</p><p>Pengertian kritik secara etimogis (asal usul kata) telah banyak disinggung pada materi pembelajaran seni sebelumnya. Sekedar untuk menyegarkan kembali, kritik dapat diartikan dengan ulasan, tulisan, tanggapan, penilaian, penghargaan, terhadap objek yang dikritik, yakni; karya seni, karya Teater.</p><p>Karya Teater sebagai Objek, sumber, bahan kritik, dapat dilakukan melalui kegiatan apresiasi langsung dan tidak langsung. Apresiasi langsung, artinya menonton, menyaksikan pergelaran Teater di gedung pertunjukan. Adapun, apresiasi karya teater bersifat tidak langsung, Kalian dapat menonton, menyaksikan melalui pemutaran, siaran ulang karya Teater dalam bentuk rekaman video dan jejaring sosial media (internet).</p><p>Untuk memahami tentang kritik, pada bagian awal tepatnya pada pengantar pembelajaran kritik dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang dalam menanggapi sesuatu, yakni menilai, menghargai, karya Teater. Kritik terhadap karya Teater merupakan pr...</p></li></ul>