Bestfriend another story

  • Published on
    30-Jun-2015

  • View
    1.271

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

<ul><li> 1. BestFriend By Lely Mardiyanti </li></ul><p> 2. Sahabat, adalah kata pertama dan terakhir yang ingin gue tau sejak dulu. Menurut gue, persahabatan itu gak pandang umur. Mau tua kek, muda atau bahkan anak-anak, tetep persahabatan. Gue gak setuju kalo ada orang yang bilang persahabatan gue itu kekanakan. Kalo pun emang kekanakan, itu adalah pola pikir individunya. Kami berlima bersahabat sejak kelas 5 SD. Awal persahabatan kami di mulai dari kegiatan perkemahan terakhir ekstrakulikuler pramuka. Itu adalah kali pertama gue kenal Mia, Della, Bianca, dan Hana. Yang gue tau saat itu, Mia orangnya pendiam banget, beda sama Hana yang dari awal emang super berisik. Kalo Della dan Bianca mereka berdua kemana-mana bawa buku. Cuma bacaanya Della lebih ekstrim (komik dan majalah dewasa). Waktu itu, gue sama mereka berempat jadi wakil sekolah masing-masing buat jumbara. Tapi saat perburuan malam harinya, kami berlima tersesat di tengah hutan. Saat itu kami yang merupakan saingan terpaksa harus bekerja sama untuk bertahan hidup, sampai keesokan harinya panitia menemukan kami. Sejak saat itu, kami berlima jadi dekat, bertukar nomor telpon dan sering jalan bareng. Sampai kami lulus dari Sekolah Dasar. Entah karena takdir atau emang kebetulan, kami berlima masuk ke SMP yang sama. Nah, saat itu kami memutuskan untuk membuat geng sekaligus group band yang diberi nama Black Rosses. Hanna sebagai vokalis, Bianca sebagai gitaris, Mia sebagai Bassist, Della sebagai keyboard, dan gue tentu aja sebagai drummer. Saat itu adalah masa-masa bahagia kami sekaligus masa terberat buat gue. Menginjak semester kedua tahun pertama, kedua ortu gue pisah. Gara-gara masalah itu, gue sempet shock dan depresi. Tapi beban gue mendadak ringan karena mereka berempat selalu menyemangati dan menghibur gue. Semenjak itu, gue menganggap persahabatan diatas segalanya bahkan melebihi cinta dan keluarga. 5 tahun kemudian............. Sekarang Black Rosses udah mulai terkenal. Kami berlima sering dipanggil manggung ke kafe-kafe. Lumayan lah, walaupun bukan duit sih 3. yang gue suka dari semua itu, tapi kebersamaan dan solidaritas kami. Bukannya fokus belajar untuk menghadapi Ujian kelulusan, kami malah asyik nge-band. Etz, gak cuma kami doang yang badung, ada band di SMA kami yang digawangi oleh empat cowok yang lumayan tenar, yaitu Bara (vocalis), Arya (gitaris), Sammy (drummer) dan Ilham (Bassis). Entah kebetulan atau emang di sengaja, nama group band mereka hampir sama seperti band kami yaitu Black Horses. Tapi bagaimana pun juga, kami akan menjadi rival sampai akhir. Dan menurut gue, Black Rosses jauh lebih baik dari Black Horses di segala hal. Waktu adalah satu-satunya yang gak pernah berubah mungkin pepatah itu benar. Kalo dibandingkan, gak sedikit yang berubah dari kami berlima. Sekarang, Della makin parah. Tau kenapa? Gak cuma bacaannya yang berlebel khusus dewasa tapi juga tontonannya udah level BF (Blue xxxx), padahal bokapnya seorang petinggi polisi. Sedangkan Mia berubah ke arah yang lebih positif, lebih murah senyum dan udah mulai aktif sebagai wakil sekolah untuk kejuaraan lari dan Baseball (Atlet kebanggan sekolah). Sayang sifat joroknya juga makin bertambah parah. Bianca, udah mulai pakek kaca mata sejak pertama kali masuk SMA. Gak tau deh kenapa, mungkin kebanyakan buku yang udah dia baca kali. Sementara Hana makin genit dan berisik aja. Dia naksir berat dengan pengajar ekskul drama yang usianya mungkin terpaut cukup jauh (Tapi ya udah lah yaw, itu urusan mereka). Dan gue, seperti biasanya aktif sebagai anggota karate dan basket sekolah. Kami berlima selalu tersulut saat salah satu diantara kami mendapat masalah. Karena masalah seorang diantara kami, adalah masalah kami berlima. Mungkin hal itu yang membuat persahabat kami terlihat seperti kekanakan (But, whos care?). Selama kami bahagia, kami tetap akan melakukannya. Karena sejak awal, persahabatan ini ada untuk mencari kebahagian yang kami berlima inginkan. 4. Hari ini adalah hari yang gue benci sepanjang sejarah. Karena tepat pada tanggal 16 September, kedua ortu gue cerai 5 tahun lalu. Mood gue hari ini jadi super buruk. Dan sepertinya itu bakal tambah buruk sejak gue liat Hana lari ke sini dengan muka yang udah bisa ditebak dia mau ngomong apa. Gawat-gawat... anak sini mau dikroyok sama anak sebelah kata Hana sambil terengah-engah. Gimana, Browsis? tanya Della. Tangan gue udah gatel rasanya jawab Mia. Aduh....masa bolos lagi sih? kata Bianca. Ayo, kita habisi aja mereka! kata gue yang sejak awal udah bad mood. Kami pun segera berangkat ke tanah lapang tempat tawuran antar sekolah biasa terjadi. Walaupun yang jago berkelahi diantara kami hanya gue dan Mia, bukan berarti Della, Bianca dan Hanna gak jago tawuran. Dalam tawuran, yang menentukan pemenangnya bukan seberapa banyak jumlah, seberapa jago berkelahi, seberapa banyak uang yang dikeluarkan, tapi yang bakal menang adalah yang paling besar kenekatannya (bonex). Dalam kamus besar persahabatan kami, kalah itu memalukan, so pilihannya cuma ada menang (sebagai pemenang) atau menang (sebagai pecundang). Dengan memakai seragam sekolah, kami pergi untuk menghajar para tentangga (anak sekolah sebelah) yang gak sopan. Sesampainya di lapangan, kami berlima langsung ambil ancang-ancang sambil menanggapi sambutan dari para cowok tengik pembuat onar itu. Wah, ada apa nih, cewek-cewek semanis kalian ada disini? sambut anak Calyptra (SMA swasta yang sejak dulu jadi musuh sekolah kami). Lepasin Danar (cowok culun di sekolah kami yang juga suka sama Bianca) sekarang! Kalian gak malu ya, beraninya main keroyokan balas gue ke mereka. Kenapa emang? Kalo gak mau babak belur juga kayak kutu ini (Danar), mendingan elo pada cabut deh. Pergi ke salon kek atau kemana gitu kata Dony (pentolan anak Calyptra). Elo ngomong apaan sih? Kalian semua (12 anak cowok Calyptra) nglawan kita berlima aja belum tentu menang. Jadi mendingan elo yang cabut deh, sebelum babak belur kita hajar balas Hana. Kalian itu gak lebih kayak upil buat kami oceh Dony. Kita liat aja seberapa parah luka yang bisa dibuat oleh upil tantang Mia. Ah, kelamaan....kita hajar aja mereka kata gue sambil mulai menghajar beberapa anak-anak brengsek itu. Kalah jumlah membuat kami babak belur. Tapi kami tidak sendiri, beberapa anak Calyptra juga udah ada yang tepar kena bogem kami. Bagaimana, manis? Masih mau nambah lebam di wajah cantik elo? ledek Dony ke gue. Sambil meludah, gue membalas perkataannya Luka ini, cuma gigitan semut buat gue. Terlihat marah, Dony bersiap menonjok gue dengan tenaga terakhir yang dia miliki. Gue pun sudah siap menerimanya dengan semua tenaga yang Lexy, seorang ahli karate, jago basket, jago dalam tawuran, pandai dalam bermain gitar dan piano yang juga adalah seorang drummer hebat. Tumbuh sebagai anak keluarga Broken Home, membuatnya merasa sendiri dan diabaikan di dunia ini. Sekarang ia tinggal bersama ibunya yang adalah seorang pengacara Ayahnya seorang pembisnis yang gak suka dikekang istri dan kini telah menikah lagi Anak tunggal yang merasa kesepian dan menginginkan kasih sayang Visi dan misinya mencari kebahagian 5. tersisa. Babak belur bagi kami adalah sebuah kehormatan dalam tawuran. Tapi dari samping, Bara menonjok Dony dengan satu pukulan yang langsung membuatnya tepar seketika. Tampaknya Black Horses datang untuk membantu kami. Kayak pahlawan kesiangan, mereka menghajar anak-anak Calyptra yang sebelumnya udah babak-belur kami hajar. Setelah menang, kami segera kembali ke sekolah untuk mengobati luka-luka di UKS. Seperti biasa, kami di sidang sambil diobati di ruang UKS. Disana kami mendapat peringatan keras dari si botak secara langsung. Serasa mendengar burung beo bernyanyi saat kami semua sedang diobati oleh perawat UKS. Setelah luka di tangan dan kaki selesai di perban, gue langsung pergi ke kelas. Tapi diperjalanan, Bara menghalangi gue sambil pamer tindakan sok kepahlawanannya itu Untung aja gue datang tepat waktu. Kalo gak, pasti elo kalah. Elo itu pahlawan kesiangan. Lagian gara-gara elo, kemenangan gue jadi gak sah jawab gue sambil menyingkir dari hadapan cowok tukang ikut-ikutan itu. Lex, seenggaknya elo bilang makasih kek atau apa gitu kata Bara sambil menahan bahu kanan gue. Lalu gue berbalik dan bilang Makasih? Buat apaan? Oh gue tau, makasih banyak karena udah merusak kemenangan kami. Sesampainya di kelas, semua anak menyoraki kami sebagaimana layaknya sorang pahlawan yang menang di medan perang. Dan itu semua gara-gara mulut ember Danar yang kami tolong tadi. Hal kayak giitu emang biasa. Tapi gue gak suka. Karena itu sama aja mentertawakan muka gue yang bonyok (menurut gue). Tapi seperti biasa, di sisi lain kelas ada seseorang yang justru memandang kami seperti berandalan yang baru pulang dari berbuat onar. Dia Ardan, sahabat baiknya Danar. Menurut gue, Danar lebih baik dari Ardan. Cowok sok kegantengan yang menilai persahabatan kami sebagai hal yang kekanakan, menurut gue gak lebih dari seorang pecundang. Tapi bagaimanapun juga, gue harus ketemu dia tiap hari di tempat latihan karate. Gue gak nyangka aja, cowok kayak dia bisa menang jadi ketua OSIS dua kali berturut-turut. Pinter sih anaknya, tapi apa hebatnya kalau gak bisa nikmatin hidup bareng temennya (temennya culun semua gitu). Mia yang tau seberapa benci gue sama ekspresi Ardan, langsung coba menenangkan Udahlah, sob...biasanya juga kan dia gitu. Baru aja sampai di dalam kelas dan baru menaruh tas, Hana seperti biasanya seenaknya aja mengajak kami cabut ke kantin Guys, ke kantin yuk, gak mood nie gue ikut pelajaran. Ayo, gue juga gak mood jawab Della. Haa... bolos lagi? Adu..h keluh Bianca. Dari pada elo bad mood disini, mendingan kita ke kantin aja bujuk Mia. Entah kerasukan setan apa, gue akhirnya ikut bolos jam dan nongkrong di kantin. Disana Della, penggemar komik ,majalah , dan video dewasa Impiannya menikah muda dan punya banyak anak Berasal dari keluarga yang cukup terpandang Ayahnya seorang petinggi kepolisian yang diktator menurutnya Anak bungsu dari 3 bersaudara yang semuanya laki-laki Visi dan misinya adalah ingin menemukan kebahagian Semasa kecil ingin jadi pianis tapi remajanya jadi anggota band (keyboard) 6. ternyata ada Pak Beno (pengajar bahasa indonesia sekaligus pembimbing club drama) yang sedang makan. Sekarang gue tau, kenapa Hana ngotot pengen ke kantin. Ternyata untuk melihat orang yang dia taksir dari tahun pertama. Ah, sekarang gue tau kenapa elo ngotot pengen ke kantin, ternyata ada Mr. B (panggilan sayang Hana pada Pak Beno). Tau gitu gue ikut pelajaran aja kata Bianca. Dasar modus lama sahut Mia. Gak apa lah..., kan Hana yang bakal traktir kita bela Della. Begitulah kami melalui hari-hari sebagai siswi yang berpredikat buruk di sekolah. Tapi apa boleh buat, itu jugalah yang membuat kami selalu bahagia. Setiap hari adalah hari menyenagkan, hari yang panjang untuk sebuah petualangan. Sore harinya, gue ada pertemuan dengan anggota tim basket. Rupanya seleksi pemain yang bakal turun ke lapangan saat pertandingan sabtu besok, diadakan hari ini. Pemain yang terpilih diumumkan, gue ternyata gak ada di list itu. Tentu aja gue langsung konfirmasi sama pelatih Pak, sebagai kapten masa saya gak diturunkan sih? (berbicara formal cuma buat guru, ortu, dan orang yang patut di hormati menurut gue). Bapak tau kondisi kaki dan tangan kamu tidak memungkinkan untuk babak penyisihan sabtu besok jelas pelatih. Marah bercampur kecewa, dan rasanya gue tau harus melampiaskan ke siapa. Bar, elo kan yang ngadu sama pelatih tentang kondisi gue? Gue tau elo pengen banget jadi top score, tapi gak gini juga dong caranya. Dasar licik!! kata gue yang emosi gak masuk daftar pemain. Setelah bilang gitu, gue langsung pergi, enek banget lihat muka Bara si cowok licik itu. Tapi Bara langsung nahan bahu gue sambil ngomong hal yang menurut gue cuma alasannya doang Gue bilang ke pelatih karena gue tau kalo kaki sama tangan lo dipaksa buat main, bisa-bisa jadi cidera yang parah. Alasan aja lo! jawab gue dengan sinis. Keesokan harinya, Della berlari ke arah kami berempat, seakan ada hal penting yang pengen dia omongin Guys, ada seleksi Band di Mall lusa. Dan hadiahnya rekaman di bawah lebel yang kita impikan kata Della sambil terengah-engah sehabis berlari. Wah, bagus dong sahut Bianca. Dengan raut muka yang antusias, Hana juga setuju Black Rosses ikutan kempetisi itu Mungkin ini saatnya Black Rosses dapat dikenal dunia. Mendengar itu semua Mia langsung bertanya ke gue Gimana kondisi elo? Tangan dan kaki elo kan yang paling parah memarnya akibat tawuran kemarin? Apa elo yakin bisa nge-drum untuk waktu dekat?. Ah, luka kayak gini tu kecil buat gue, udah kita ikut aja. Jarang kan ada kesempatan kayak gini datang dua kali? jawab gue. Gue gak mau jadi batu yang Hana, seorang anak ketua yayasan sekolah Naksir berat sama guru ekskul drama (Pak Beno) Sikapnya semena-mena, suka makan permen karet meskipun sedang pelajaran Ayahnya duda yang suka gonta-ganti pacar Dia ikut club drama dan dance khusus untuk mengejar Pak Beno Visi dan misinya mencicipi kebahagian Sifat baik yang juga buruk : gak suka kalah apalagi Cuma jadi no 2, suaranya sangat merdu (vokalis Band) 7. menghambat kesuksesan para sahabat gue. Jadi, meskipun tangan dan kaki masih sakit, gue bakal nge-drum di hari penting itu. Tapi pertama-tama, gue harus membiasakan tangan gue yang sakit ini untuk pegang stick drum. Berapa kali pun di coba, tangan gue tetep gak mau di ajak kompromi. Good Damn gue harus gimana? Sedangkan lusa udah pertunjukannya. Gue harus muter otak buat itu. Terpaksa deh harus bolos jam pelajaran lagi buat latihan tanpa diketahui keempat sahabat gue. Tapi sepertinya tangan kiri gue gak bisa pegang stick drum, meskipun udah gue coba sampai jam istirahat berbunyi. Meskipun tangan udah mulai mati rasa karena terlalu sakit, gue tetep harus bisa. Dan ditengah keputusasaan itu, seseorang yang menyebalkan membuat gue makin emosi dengan omongannya yang bikin kuping gatel dengernya Kalo dipaksain buat gitu terus, tangan elo bisa aja diamputasi loh. Bisa jaga mulut gak sih elo? Lagian ngapain elo disini? bentak gue. Ssst!! Di perpustakaan dilarang berisik. Elo yang ngapain disini? Ini bukan studio musik, ini tempat untuk orang baca buku balas Ardan. Ah, gue lupa klo ada di perpustakaan. Habis ini adalah satu-satunya tempat yang bisa gue pakai latihan tanpa ketahuan yang lain. Apes !! pakek ketemu Ardan lagi. Kayaknya gue harus cari tempat lain buat latihan. Jadi, gue putusin buat pergi. Tapi sebelum gue pergi, Ardan sempet bilang sesuatu yang menurut gue itu satu-satunya hal rasional yang gak masuk akal Harusnya bilang aja ke sahabat elo, kalau elo gak bisa ngelakuin itu. Kalau mereka beneran sahabat sejati elo, pasti bakal ngerti kok. Hah.... membayangkan perkataannya, membuat gue mempertanyakan persahabatan kami. Jadi pendapatnya bisa sangat menyesatkan. Satu- satunya jalan adalah gue harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa pegang stick drum. Sampai malam harinya pun gue masih gelisah banget sampai bingung apa yang harus dilakuin. Hah.... kal...</p>