Filsafat dan Agama (Persamaan dan Perbedaannya)

  • Published on
    05-Jul-2015

  • View
    3.962

  • Download
    3

Embed Size (px)

DESCRIPTION

31 Oktober 2014

Transcript

<ul><li> 1. 1BAB IPENDAHULUANA. LATAR BELAKANGAda yang mengatakan bahwa antara filsafat dan agama memilikihubungan. Baik filsafat dan agama mempunyai tujuan yang sama yaitumemperoleh kebenaran. Manusia selalu mencari sebab-sebab dari setiapkejadian yang disaksikannya. Dia tidak pernah menganggap bahwa sesuatumungkin terwujud dengan sendirinya secara kebetulan saja, tanpa sebab.Hasrat ingin tahu dan ketertarikan yang bersifat instinktif terhadap sebab-sebabini memaksa kita menyelidiki bagaimana benda-benda di alam ini muncul,dan menyelidiki ketertibannya yang mengagumkan. Kita dipaksa untuk bertanyaApakah alam semesta ini, dengan seluruh bagiannya yang saling berkaitan yangbenar-benar membentuk satu kesatuan sistem yang besar itu, terwujud dengansendirinya, ataukah ia memperoleh wujudnya dari sesuatu yang lain?Dalam makalah ini penulis berusaha mencoba menjelaskan secarasederhana mengenai filsafat, ilmu pengetahuan dan agama. Dimana dalammakalah ini penulis berusaha memecahkan dua masalah tentang kedudukanfilsafat dan agama serta bagaimana relasi antara filsafat dan agama.B. RUMUSAN MASALAH1. Apa yang dimaksud dengan filsafat?2. Apa yang dimaksud dengan agama?3. Adakah persamaan dan perbedaan antara filsafat dan agama?</li></ul><p> 2. 2BAB IIPEMBAHASANFILSAFAT DAN AGAMA (PERSAMAAN DAN PERBEDAANNYA)A. Pengertian FilsafatSalah satu kebiasaan dunia penelitian dan keilmuan, berfungsi bahwapenemuan konsep tentang sesuatu berawal dari pengetahuan tentangsatuan-satuan. Setiap satuan yang ditemukan itu dipilah-pilah, dikelompokkanberdasarkan persamaan, perbedaan, ciri-ciri tertentu dan sebagainya.Berdasarkan penemuan yang telah diverifikasi itulah orang merumuskandefinisi tentang sesuatu itu.Dalam sejarah perkembangan pemikirian manusia, filsafat juga bukandiawali dari definisi, tetapi diawali dengan kegiatan berfikir tentang segalasesuatu secara mendalam. Orang yang berfikir tentang segala sesuatu itutidak semuanya merumuskan definisi dari sesuatu yang dia teliti, termasukjuga pengkajian tentang filsafat.Jadi ada benarnya Muhammad Hatta dan Langeveld mengatakan"lebih baik pengertian filsafat itu tidak dibicarakan lebih dahulu. Jika orangtelah banyak membaca filsafat ia akan mengerti sendiri apa filsafatitu.1 Namun demikian definisi filsafat bukan berarti tidak diperlukan. Bagiorang yang belajar filsafat definisi itu juga diperlukan, terutama untukmemahami pemikiran orang lain.Penggunaan kata filsafat pertama sekali adalah Pytagoras sebagaireaksi terhadap para cendekiawan pada masa itu yang menamakan dirinyaorang bijaksana, orang arif atau orang yang ahli ilmu pengetahuan. Dalammembantah pendapat orang-orang tersebut Pytagoras mengatakanpengetahuan yang lengkap tidak akan tercapai oleh manusia.21 Ahmad Tafsir, Filsafat Umum, Akal dan Hati sejak Thales sampai James, (Bandung: Rosdakarya,1994), hlm. 8.2 H.A. Dardiri, Humaniora, Filsafat dan Logika, (Jakarta : Rajawali Press, 1986), hlm. 9. 3. 3Semenjak semula telah terjadi perbedaan pendapat tentang asal katafilsafat. Ahmad Tafsir umpamanya mengatakan filsafat adalah gabungan darikata philein dan sophia. Menurut prof. Dr. Harun Nasution, filsafat berasal darikata yunani yang tersusun dari dua kata philein dalam arti cinta dan shoposdalam arti hikmat (wisdom). Orang arab memindahkan kata yunaniphiloshopia kedalam bahasa mereka dengan menyesuaikan dengan tabiatsusunan kata-kata arab yaitu falsafa dengan pola falala, falalah, denganfilal. Dengan demikian kata benda dari kata kerja falsafa seharusya menjadifalsafah atau filsaf.Selanjutnya kata filsafat yang banyak terpakai dalam bahasa Indonesia,menurut Prof. Dr. Nasution bukan berasal dari kata arab falsafah dan bukan puladari kata barat philoshopy. Disini dipertanyakan tentang apakah fil diambil darikata barat dan safah dari kata arab. Dari pengertian secara etimologi itu, iamemberikan definisi filsafat sebagai berikut: Pengetahuan tentang hikmah Pengetahuan tentng prinsip atau dasar-dasar Mencari kebenaran Membahas dasar-dasar dari apa yang dibahasDengan demikian ia berpendapat bahwa intisari filsafat adalah berfikirmenurut tata tertib (logika) dengan bebas tidak terikat pada tradisi, dogma sertaagama dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasarpersoalannya. 3Dalam al-Quran kata filsafat tidak ada, yang ada hanya adalah katahikmah. Pada umumnya orang memahami antara hikmah dan kebijaksanaanitu sama, pada hal sesungguhnya maksudnya berbeda. Harun Hadiwijonomengartikan kata philosophia dengan mencintai kebijaksanaan4, sedangkanHarun Nasution mengartikan dengan hikmah5. Kebijaksanaan biasanyadiartikan dengan pengambilan keputusan berdasarkan suatu pertimbangan3 Harun nasution, Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang: 1973).4 Harun Hadiwijono, Sari-Seri Sejarah Filsafat Barat I, (Yogyakarta: Kanisius, 1991), hlm. 7.5 Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), hlm. 9. 4. 4tertentu yang kadang-kadang berbeda dengan peraturan yang telahditentukan. Adapun hikmah sebenarnya diungkapkan pada sesuatu yangagung atau suatu peristiwa yang dahsyat atau berat.Herodotus mengatakan filsafat adalah perasaan cinta kepada ilmukebijaksanaan dengan memperoleh keahlian tentang kebijaksanaan itu6.Plato mengatakan filsafat adalah kegemaran dan kemauan untukmendapatkan pengetahuan yang luhur. Aristoteles (384-322 sm) mengatakanfilsafat adalah ilmu tentang kebenaran. Cicero (106-3 sm.) mengatakanfilsafat adalah pengetahuan terluhur dan keinginan untuk mendapatkannya.Thomas Hobes (1588-1679 M) salah seorang filosof Inggrismengemukakan filsafat ialah ilmu pengetahuan yang menerangkan hubunganhasil dan sebab, atau sebab dan hasilnya dan oleh karena itu terjadiperubahan. R. Berling mengatakan filsafat adalah pemikiran-pemikiran yangbebas diilhami oleh rasio mengenai segala sesuatu yang timbul daripengalaman-pengalaman.7Alfred Ayer mengatakan filsafat adalah pencarian akan jawaban atassejumlah pertanyaan yang sudah semenjak zaman Yunani dalam hal-halpokok. Pertanyaan-pertanyaan mengenai apa yang dapat diketahui danbagaimana mengetahuinya, hal-hal apa yang ada dan bagaimanahubungannya satu sama lain. Selanjutnya mempermasalahkan apa-apa yangdapat diterima, mencari ukuran-ukuran dan menguji nilai-nilainya apakahasumsi dari pemikiran itu dan selanjutnya memeriksa apakah hal itu berlaku.Immanuel Kant (1724-1804 M) salah seorang filosof Jermanmengatakan filsafat adalah pengetahuan yang menjadi pokok pangkalpengetahuan yang tercakup di dalamnya empat persoalan, yaitu: Apa yangdapat diketahui? Jawabnya : Metafisika. Apa yang seharusnya diketahui?Jawabnya : Etika. Sampai di mana harapan kita ? Jawabnya : Agama. Apamanusia itu? Jawabnya Antropologi.8 Jujun S Suriasumantri mengatakan6 Hamzah Ya`qub, Filsafat Agama, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991), hlm. 3.7 Gerard Beekman, Filsafat para Foloosf Berfilsafat, diterjemahkan oleh R. A. Rifai dari Filosofie,Filosofen, dan Filosoferen, (Jakarta : Erlangga, 1984), hlm. 14.8 Ahmad Tafsir, op. cit., hlm. 9. 5. 5bahwa filsafat menelaah segala persoalan yang mungkin dapat dipikirkanmanu-sia.9 Sesuai dengan fungsinya sebagai pionir, filsafatmempermasalahkan hal-hal pokok, terjawab suatu persoalan, filsafat mulaimerambah pertanyaan lain.Ir. Poedjawijatna mengatakan filsafat adalah ilmu yang berusahamencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkanpikiran belaka. Titus memberikan difinisi bahwa filsafat itu adalah sikap kritis,terbuka, toleran, mau melihat persoalan tanpa prasangka10.Kattsoff mengemukakan filsafat, ialah ilmu pengetahuan yang dengancahaya kodrati akal budi mencari sebab-sebab yang pertama atau azas-azasyang tertinggi segala sesuatu. Filsafat dengan kata lain merupakan ilmupengetahuan tentang hal-hal pada sebab-sebabnya yang pertama termasukdalam ketertiban alam11. Selain itu Liang Gie mengemukan metode yangberbeda dalam pembahasan ini. Penulis itu meninjau filsafat dan segi pelakufilsafat sendiri. Menurutnya pelaku filsafat itu terdiri atas beberapa kelompok,antara lain : pengejek filsafat, peminat filsafat, penghafal filsafat, sarjanafilsafat, pengajar filsafat, dan pemikir filsafat yaitu seorang pemikir dalambidang filsafat (filosof). Filosof ialah seorang yang senantiasa memahamipersoalan-persoalan filsafat dan terus menerus melakukan pemikiranterhadap jawaban-jawaban dari persoalan-persoalan itu dari waktu ke waktudan diungkapkan dalam bentuk lisan maupun tulisan.12Itulah di antara definisi yang dikemukakan oleh filosof. Perbedaan itudefinisi itu menimbulkan kesan bahwa perbedaan itu disebabkan olehberbagai factor. Tetapi walaupun telah terjadi berbagai pemikiran dalamfilsafat yang berbentuk umum menjadi berbagai bidang filsafat tertentu,ternyata ciri khas filsafat itu tidak hilang, yaitu pembahasan bersikap radikal,sistematis, universal dan bebas.9 Jujun S Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta : Sinar Harapan, 1995),hlm. 25.10 Titus (dkk.), Living Issues in Philosophy, (New York: De Vand Nostrand Company), hlm.7.11 Kattsoff, Louis O, Pengantar Filsafat, terjemahan dari Element of Philosophy, oleh SoejonoSoemargono, Yogyakarta: Tiara Wacana, 1992, hlm. 67.12 Dardiri, op. cit., hlm. 12. 6. 6B. Pengertian AgamaKata agama berasal dari bahasa Sanskrit a yang berarti tidak dangam yang berarti pergi, tetap di tempat, diwarisi turun temurun dalamkehidupan manusia13. Dick Hartoko menyebut agama itu dengan religi, yaituilmu yang meneliti hubungan antara manusia dengan Yang Kudus danhubungan itu direalisasikan dalam ibadat-ibadat. Kata religi berasal daribahasa Latin rele-gere yang berarti mengumpulkan, membaca. Di sisi lainkata religi berasal dari religare yang berarti mengikat.Sidi Gazalba mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata relegereasal kata relgi mengandung makna berhati-hati hati-hati. Sikap berhati-hati inidisebabkan dalam religi terdapat norma-norma dan aturan yang ketat. Dalamreligi ini orang Roma mempunyai anggapan bahwa manusia harus hati-hatiterhadap Yang kudus dan Yang suci tetapi juga sekalian tabu14.Selain itu dalam al-Quran terdapat kata din yang menunjukkanpengertian agama. Kata din dengan akar katanya dal, ya, dan nundiungkapkan dalam dua bentuk yaitu din dan dain. Al-Quran menyebutkata din ada menunjukkan arti agama dan ada menunjukkan hari kiamat,sedangkan kata dain diartikan dengan utang.Edgar Sheffield Brightman15 mengatakan bahwa agama adalah suatuunsur mengenai pengalaman-pengalaman yang dipandang mempunyai nilaiyang tertinggi, pengabdian kepada suatu kekuasaan-kekuasaan yangdipercayai sebagai sesuatu yang menjadi asal mula, yang menambah danmelestarikan nilai-nilai, dan sejumlah ungkapan yang sesuai tentang urusanserta pengabdian tersebut, baik dengan jalan melakukan upacara-upacarayang simbolis maupun melalui perbuatan-perbuatan yang lain yang bersifatperseorangan, serta yang bersifat kemasyarakatan.13 Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta: Universitas IndonesiaPress, 1979), cet. ke-1, hlm. 9.14 Sidi Gazalba, Ilmu Filsafat dan Islam tentang Manusia dan Agama, (Jakarta : Bulan Bintang,1978), hlm. 100.15 E. S. Brightman dalam A Philosophy of Religion. New York Prentice Hall Inc 1950 halaman 71sebagaimana dikutip oleh Louis O. Kattsoff dalam Element of Philosophy diterjemahkan SoejonoSoemargono dalam Pengantar Filsafat. Tiara Wacana Jogyakarta 1989 halaman 448. 7. 7Muhammad Abdul Qadir Ahmad mengatakan agama yang diambil daripengertian din al-haq ialah sistem hidup yang diterima dan diredai Allah ialahsistem yang hanya diciptakan Allah sendiri dan atas dasar itu manusia tundukdan patuh kepada-Nya. Sistem hidup itu mencakup berba-ai aspekkehidupan, termasuk akidah, akhlak, ibadah dan amal perbuatan yangdisyari`atkan Allah untuk manusia.16Harun Nasution mengemukakan delapan definisi untuk agama, yaitu:1. Pengakuan terhadap adanya hubungan manusia dengankekuatan gaib yang harus dipatuhi.2. Pengakuan terhadap adanya kekuatan gaib yang menguasai manusia.3. Mengikatkan diri kepada suatu bentuk hidup yang mengandungpengakuan pada suatu sumber yang berada di luar diri manusia danyang mempengaruhi perbuatan-perbuatan manusia.4. Kepercayaan kepada sesuatu ikatan gaib yang menimbulkan cara hiduptertentu.5. Suatu sistem tingkah laku yang berasal dari kekuatan gaib.6. Pengakuan terhadap adanya kewajiban-kewajiban yang diyakini berasaldari suatu kekuatan gaib.7. Pemujaan terhadap kekuatan gaib yang timbul dari perasaan lemah danperasaan takut terhadap kekuatan misterius yang terdapat dalam alamsekitar manusia.8. Ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melaluiseorang Rasul.Jika disimpulkan, definisi-definisi agama itu menunjuk kepada kuatangaib yang ditakuti, disegani oleh manusia, baik oleh kekuasaan maupunkarena sikap pemarah dari yang gaib itu. Dari delapan difinisi di atas dapatdiklasifikasikan bahwa terdapat empat hal penting dalam setiap agama, yaitu:16 Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, terjemahandari Turuq al-Ta`lim al-Tarbiyah al-Islamiyyah, (Direktorat Jenderal Pembinaan KelembagaanAgama Islam, 1984-1985), hlm. 8. 8. 8Pertama, kekuatan gaib, manusia merasa dirinya lemah dan berhajatpada kekuatan gaib itu sebagai tempat minta tolong. Oleh sebab itu, manusiamerasa harus mengadakan hubungan baik dengan kekuatan gaib tersebut.Hubungan baik itu dapat diwujudkan dengan mematuhi perintah dan larangankekuatan gaib itu.Kedua keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia ini danhidup akhirat tergantung pada adanya hubungan baik dengan kekuatan gaibitu. Dengan hilangnya hubungan baik itu, kesejahteraan dan kebahagiaan,yang dicari akan hilang pula.Ketiga respon yang bersifat emosionil dari manusia. Respon itu bisaberupa rasa takut seperti yang terdapat dalam agama-agama primitif, atauperasaan cinta seperti yang terdapat dalam agama-agama monoteisme.Selanjutnya respon mengambil bentuk penyembahan yang terdapat di dalamagama primitif, atau pemujkaan yang terdapat dalam agama menoteisme.Lebih lanjut lagi respon itu mengambil bentuk cara hidup tertentu bagimasyarakat yang bersangkutan.Keempat paham adanya yang kudus (sacred) dan suci dalam bentukkekuatan gaib, dalam bentuk kitab yang mengandung ajaran-ajaran agamaitu dan dalam bentuk tempat-tempat tertentu.17Setelah diketahui pengertian masing-masing dari agama dan filsafat,perlu diketahui apa sebenarnya pengertian filsafat agama. Harun Nasutionmengemukakan bahwa filsafat agama adalah berfikir tentang dasar-dasaragama menurut logika yang bebas. Pemikiran ini terbagi menjadi dua bentuk,yaitu:Pertama membahas dasar-dasar agama secara analitis dan kritis tanpaterikat kepada ajaran agama, dan tanpa tujuan untuk menyatakan kebenaransuatu agama. Kedua membahas dasar-dasar agama secara analitis dan kritisdengan maksud untuk menyatakan kebenaran suatu ajaran agama atausekurang-kurangnya untuk menjelaskan bahwa apa yang diajarkan agamatidaklah mustahil dan tidak bertentangan dengan logika. Dasar-dasar agama17 Harun Nasution, Islam Ditinjau, hlm. 11. 9. 9yang dibahas antara lain pengiriman rasul, ketuhanan, roh manusia,keabadian hidup...</p>