Ukoro geni ebook

  • Published on
    07-Jul-2015

  • View
    293

  • Download
    5

Embed Size (px)

Transcript

<ul><li> 1. Pawon #35 tahun V/2012 - 1</li></ul><p> 2. Buletin sastra Pawon adalah buletin sastra yang dicetak di kota solo dan dibagikan secara GRATIS di setiap acara sastra di kota Solo.Dana penerbitan buletin di dapat dari saweran teman- teman redaksi ditambah beberapa donasiMemasuki tahun kelima berdirinya,buletin sastra pawon merilis edisi ebooknya.Semoga bermanfaat.Ukara Geni - 2 3. editor | Bandung Mawardicover dan layout isi | Yudhi HerwibowoKoordinator Redaksi Yudhi HerwibowoRedaksi Bandung Mawardi, Puitri Hati Ningsih, Indah Darmastuti, Fanny Chotimah, Yunanto Sutyastomo, Han Gagas Lasinta Ari Nendra, Anton WP (Kalimantan) Desain Cover &amp; Layout Yudhi Herwibowo Alamat Vila Bukit Cemara No. 1 Mojosongo Solo 57127 Kontak 08122640769 (Yudhi), 08122623048 (Puitri)E-mail pawonsastra@yahoo.co.id Blog pawonsastra.blogspot.comPawon #35 tahun V/2012 - 3 4. PengisiMaulina - 5 | Ekohm Abiyasa - 6 | Hans Gagas - 7 |Arif Saifudin Yudistira - 9 | Pradita Nurmalia - 10 | Atmo Kanjeng - 11 |Sartika Dian Nuraini - 12 | Imaniar Yordan Christy - 13 |Aji Wicaksono - 14 | Eka Safitri - 15 | Fatimah Sundari - 16 |Nashita Zayn - 17 | Lasinta Ari Nendra Wibawa - 18 |Rere Croft - 20 | Lukas Yono - 21 | Desi Liana Djie - 22 |Riza Handoko - 23 | Istikharoh - 24 | Meilan Arsanti - 25 |Gunawan Tri Atmodjo - 26 | Setyaningsih - 27 |Budiawan Dwi Santoso - 28 | Pena Tumpul - 30 | Sofyan Adrimen - 31 |Santi Almufaroh - 33 | Maftukhatun Nimah - 34 |Mujadi Tani - 35 | Kurniasih Fajarwati - 36 | Sari Maras Dika - 37 |Gendut Pujianto - 38 | Yudhi Herwibowo - 39 |Bayu Prihantoro Sutarto - 41 | Muhammad Aprianto - 42 |Pramudyah Jana - 43 | Onnie Cahyo - 44 | Miftahul Abrori - 45 |Irfan Ruswandi - 46 | Rahmah Purwahida - 47 | Seruni - 48 |Akhdiyan Setiyorini - 49 | Sukarno - 50 | Prihatin Dwi Christina - 51 |Istikharoh - 52 | Aryani Kususmastuti Wahyu Lestari - 55 |Anna Subekti - 56 | Sulistyorini - 57 | Avan Putra - 58 |Bandung Mawardi - 60 |Fanny Chotimah - 61 |Puitri Hati Ningsih - 62 | Indah Darmastuti - 64 | Buletin Sastra Pawon menerima tulisan berupa cerpen, puisi, esai, kisah buku dan novelet. Tulisan dapat dikirim melalui email : hutan_cemara2000@yahoo.com (cerpen); puitrihati@yahoo.com (puisi) ; bandungmawardi@yahoo.co.id (esai), fannychotimah@ymail.com (kisah buku). Cc-kan ke pawonsastra@ yahoo.co.id Naskah yang dimuat akan diberikan 2 eks pawon sebagai bukti pemuatan. Ukara Geni - 4 5. Perayaan Katauntuk Ukara GeniBermula dari sebuah rapat kecil untuk merancang acara sastra di Solo,maka Ukara Geni dihadirkan.Dalam bahasa Jawa, ukara adalah kata, dan geni adalah api. Ini sebuahperayaan ringkas saja sebenarnya. Perayaan untuk kata-kata dengan formatyang berbeda. Mungkin sebuah perayaan yang modelnya baru pertama kalidigelar di seluruh jagat. Dimana siapa pun pesertanya, amatir atauprofesional, tua atau muda, jelek atau keren, tinggi atau pendek,menyebalkan atau menyenangkan, penyuka korea atau pun pembenci korea,dapat terlibat di sini tanpa seleksi.Setiap peserta hanya diminta untuk mengirimkan: 1 puisi terbaik. 1kehadiran. 1 kelayakan. Seperti yang ditulis pada poster acara yang dirilissebelumnya. Untuk itu redaksi menyediakan hadiah senilai Rp. 500.000,vandel (yang dibatasi nilainya Rp. 50.000) dan paket buku dari sponsor.Lebih dari 70 email redaksi terima. Namun sayang tak semuanya dapatdimasukkan. Banyak peserta yang mengirimkan lebih dari 1 puisi, bahkanada yang mengirimkan 10 puisi. Ada juga yangragu, hingga mengirimkan 2 sampai 3 kali puisiyang sama. Alhasil, hanya 53 puisi yangkemudian diikutkan dalam Ukara Geni.Acara cukup meriah. Walau tanpapublisitas yang berlebihan. Suasana lebihhening dari acara-acara biasanya. Sebagianmembaca, sebagian merenung, dan sebagianyang lain seperti biasa: tetap bercanda.Setidaknya para penulis puisi ini kemudianmemiliki hak untuk memilih puisi terbaik.Mereka dapat memilih 2 puisi berbeda, dimana1 pilihan bisa puisi mereka sendiri, itu bilamereka cukup pecaya diri.Sebagai tambahan, sebuah toples kunodibuka untuk saweran. Semua yang hadirPawon #35 tahun V/2012 - 5 6. diminta menyumbangkan uang ala kadarnya, yang nantinya akandiperuntukkan untuk Sang Ukara Geni. Maka hanya butuh beberapa menitsaja uang sebesar Rp. 205.000 terkumpul. Uang ini kemudian dijumlahkanuntuk sang pemenang, sehingga total uang yang akan dibawa Sang UkaraGeni adalah Rp. 705.000.Maka setelah proses hitung layaknya pilkada DKI, namun tanpa perluadanya putaran kedua, terpilihlah Wuyung Kethundung, puisi milik MiftahulAbrori sebagai Sang Ukara Geni 2012.Selamat! Selamat Selamat!Malam ini adalah malam yang sempurna bagi Sang Ukara Geni. Namunwalau begitu, peserta lain yang tak terpilih sekali pun, tetap kami yakiniakan membawa pulang kisah malam ini sebagai salah satu malam yangmenciptakan acara paling dikenang di hari-hari depan :) Mungkin, dengantambahan sedikit pengharapan: bila tahun depan perayaan Ukara Geni iniakan dapat kembali diulang, tentu dengan hadiah yang lebih dasyat. Hmm,siapa tahu?Buletin Sastra PawonUkara Geni - 6 7. 1Puisi MaulinaAku tak dapat membaca makna.Walau mataku tak lagi terpejam.Dapatkah kau menjelaskannya? Pawon #35 tahun V/2012 - 7 8. 2Puisi Ekohm AbiyasaAku Ingin HidupSeribu Tahun yang Lalukebohongan adalah hal biasabagi mereka yang suka menyembunyikan petakatanpa disadariada hal lain yang mengganjal kepalakemudian menyulut api menyala membakar kotahangus menjadi kebusukan yang memenuhi dunia tua inikebodohan adalah hal lumrah sajabagi mereka yang tercuci otaknya pada televisimengagungkan keindahan semu pada layar dan fenomenatanpa mereka sadarimenciptakan bara senyala neraka tiada diperhitungkan olehnyakemudian membakar habis sampai sisasisa mulut merekadunia tua ini siapa yang peduli lagi nasib orang lainyang mereka tahu adalah bagaimana mengenyangkan perut dan nafsu kepuasan dirio mengapa aku hidup pada dunia yang mengerikan ini? Jakal KM 14 Jogja, 03 Juni 2012Ukara Geni - 8 9. 3Puisi Hans GagasSiapa SebenarnyaMati dalam kepala. Pisau menancapi ingatan. Matahari lumer di malampekat, menyusur tirai duniaku. O Duniaku duniamu, pecahberhamburan. Menusuk jantungku berkali-kali. Apakah yang sedangterjadi? Dadaku ringan, kepalaku berat, menyibak yang tersayat-sayat di benak. Imajiku terlempar busa-busa kardus, kulkas, danburung yang terkapar bersimbah darah. Menetes menganak sungaidi pipi, tersayat belati masa lalu. O kamu dimana nanti, aku dimana,kalian dimana, kita di mana nanti.Oh masa depan, o masa lalu sungguh kebak penyakit. Penyakit? Sukamalang , suka suka. Amboi pikiranku, pikiranmu.Lupakan saja,Kebun terlalu pahit, lupakan gang-gang itu, rumah itu, toko terbakar itu,baliho yang membara, bata-bata rubuh, dan tubuh adikmu yanggosong.Tuhan, lari kemana lagi dirimu?Tak ada Tuhan di tempat ini!Hidup dalam mati. Mati dalam hidup .Hidup di sini bukan hidup karena mati menggantungnya menjadi abu.Tapi jiwa terus melayang-layang, perih, tipis, rapuh, gentayangan tak tahurumah. Tak tahu setitik air. Telaga. Panas terik.Perutku mulas oleh berita itu, oleh kabar mengerikan, malam purnamadiserang oleh halo sinarnya sendiri. Tubuh perkasanya lunglaidiserbu panah Kurawa.O, gelap, o, pekat, o buntu, o, jurang,O, curam, o, terjal, o lubang, o api matahari,O, pancamaya!Jalan kematianmu telah dekat, belatung-belatung menggerogoti.O, lekatnya tubuhku pada dunia terperi hilang musnah dihantam beliung.Pawon #35 tahun V/2012 - 9 10. Bumi mengamuk, air panas menyembur, alirannya masuk ke ac-ac apartemen, ke Sungai Gendhol, ke Dieng, Merapi, Pantai Utara Jakarta, ke Aceh, Sumbawa, Porong Sidoarjo, Banten, dan Merak.O berita, surat kabar, o surat , o televisi, o telepon, o kata-kata.Siapakah kalian ini sebenarnya? Ukara Geni - 10 11. 4Puisi Arif Saifudin YudistiraIbu Yang BaikDi desa yang penuh kaca, dan suara lolongan anjing, bulan menari-nari takberhenti sampai disini. Hingga ku usia kanak-kanak, iblis masih tertawa,genit mendekatiku, dengan berbagai riuh di masa lalu. Wajah ibumenutupiku dari lubang gelisah, dari tirai keterpurukan.Dan, malam adalah tempat lagu indah yang bernaung. Di pangkuan dangendongannya aku menyanyikan sendiri laguku, bersama masa lalu yangtak terbaca. Masa laluku jadi masa depanku. Dan biografi mati di selembarkertas. Saat itu aku mulai mengenal ibuku benar-benar baik hati. Melahirkansapi, menetek air susu, memberiku kisah yang tak habis hingga hari ini.Ibuku yang baik adalah kisahku di ujung barat, meski ku sekarang disisitimur, aku tak lupa biografi. Entah kapan aku kembali, menjawabpanggilanmu yang lama merindu. Solo,Oktober 2011 Pawon #35 tahun V/2012 - 11 12. 5Puisi Pradita Nurmalia..?Pagi melahirkan sunyi di hatikuMeninggikan timbunan resah yang semakin basahMengendap di paru-paru, seperti asap rokokDaun-daun jatuh di permukaan, namun ulat tak kunjung berubanMelubangi hasratku untuk bercumbu dan merayuAkankah ada sebentuk takdir terbacaDari kuncup-kuncup rindu yang mengangkaraAkankah kau kembaliSaat musim menggetarkan dawai pelangiKuncup bermekaran, warna-warniBergandengan walau titik-titik tak terbatikMatahari menciptakan jarak seperti buiKita di dalamnya namun pada sisi yang berbedaAku berharap malam datang lebih awalMenjemput nafasmuAgar aku lebih leluasa menghirupnya Karanganyar, 19-06-12 Ukara Geni - 12 13. 6Puisi Atmo KanjengKabar Minggu PagiKetika kereta kuda berlalu pada minggu pagiAda cerita yang tertinggal pada debunya sepanjang jalan menuju ibukotaMulut-mulut bersengketa siapakah tamu yang melintas dini hari tadiapakah pangeran atau pencuri yang sedang melarikan dirigadis-gadis juga sama herannya, seakan membayangkanpangeran tampan atau pencuri gagah nan dermawanyang akan singgah ke rumah merekalantas orang-orang berduyun meminta fatwa pada sang hakimapa sebenarnya yang telah terjadi pada negeripertanda apakah sebuah kepergian kereta kuda dan penumpangnyamenjadi berita besar di seantero kotasi hakim lalu berfatwa, bahwa telah terjadi ontran-ontran memalukan diistanapara raja sedang berebut tahta dan nafsu ketamakan membuat parapangeranyang semula gagah rupawan menjelma sekawanan maling berwajah babidemi seonggok mahkota dari kayu berduriKaranganyar, 23 Juni 2012Pawon #35 tahun V/2012 - 13 14. 7Puisi Sartika Dian NurainiKERINDUAN BUTAKita menyulam kerinduan buta dalam kaos itu, segelas es di siang bolongdan jembatan yang selalu dilewati jutaan mesin tiap hari. Pada saat itu kaumembaca bahwa jiwaku menggigil. Dan aku bertanya, apa itu? Apa yangsalah? Dan apa yang harus dilakukan? Dan apa yang menjadi? Bagaimanamenjawab, aku bertanya dengan suara tergetar berliku.Di waktu lain, ada keraguan di wajahmu dan ia berubah begitu biru danmenyamar.Aku tak bisa membacanya, hanya bekas luka yang jengkel. Dan saat itu, akuseperti masuk sebuah rumah biru yang memiliki banyak batas di antarabatas, jarak seperti menepuk-nepuk, ruang yang berbeda yang kusut taktertata, yang kian buat kita buta. Dan kita hanya bisa menutup mata.Lalu kita berhenti. Aku tidak bisa melihat batas-batas itu, invissible!, kataku.Lalu batu-dingin jiwaku terluka membentur dinding yang tak terlihat itu,yang membuatku dan kamu terpisah.Mungkin dengan jiwa yang sama, kita memiliki sungai. Sebuah sungai panjangnantinya....tapi harapan hanyalah batu-batu rajam.Aku akan tumbuh. Bangun. Menyangga kepalaku sendiri agar dapat melihathatimu yang biru dan tubuhmu yang marah. Licin, menggigil, tergetar dalamkerinduan. Karena aku melihat keinginan kita telah kering. Tapi di atasnyaaku merindukan senyum itu.Senyum yang selalu kudamba.Ukara Geni - 14 15. 8Puisi Imaniar Yordan ChristyDI MANA MATAHARIAku bertanya pada matahari;Hai matahari! Di mana kau sembunyi?Di balik awan?Di balik bintang?Atau kau sembunyi di bawah kolong tempat tidurku?Kolong tempat tidurku tempatku menyimpan lelakiku kala suamikudatang mengetuk pintu.Matahari, kau yang bakar gairahku bercumbu dengan pucuk kering pohonjati yang tak lebih besar dari batang suamiku.Kau sulut perselingkuhanku dengan timah, aspal, minyak yangmemberikanku siraman kenikmatan birahi.Lalu sekarang kau dimana?Kau di mana matahari!!Kau sembunyi, tak berani tampak, tak membelakuPadahal kau membujukku dan menjadi saksi persetubuhanku;Kala suamiku menyeretku ke depan api yang suci. Semarang, 26 juni 2012 Pawon #35 tahun V/2012 - 15 16. 9Puisi Aji WicaksonoNasihat UmurSejak nyawa hadir dalam diriKita harus menjaga sampai nantirambut memutihMata tak mampu lagi menikmati aksara dalam puisiBerjalan dengan tiga kakiTubuh membungkuk batuk-batuk sesekaliDan tersungkur kaku ditimbun tanah dengan rapi,matiKapan kita ke surgaSetiap hari kita mengulang sesuatu yang samaDalam sajak kehidupan fanaUkara Geni - 16 17. 10Puisi Eka SafitriSawung Mas, Muara CintaTeruntuk: Sang Penjaga HatiIngatkah engkau, bambubambu persaksianSaat kau sentuh jari jemari iniPenuh keraguanKini kali pertama kutatap matamu, bersama angin dalam remang lampuWajah manismu, menebarkan cahaya dalam sirat matakuKau yang bersama malamBersiap mengejar keraguan, hinggaKau cumbu malam ini dengan senyumanSawung Mas, Muara CintaKau gapai hatiku yang kini sepiKau menyambutku, dengan keabadianMaka kau bersiapKau cumbu malam ini dengan senyuman gadisembun, 2012 Pawon #35 tahun V/2012 - 17 18. 11Puisi Fatimah SundariTak LagiAku hanya abu yang berdebuTak ingin syahduTak ingin senduAku hanya butir yang mengalirTak bersyairTak menyingkirSatu bait saja aku bersajakMenginginkanku untuk beranjakTak beranakSendiri tak menepiBersama tak bersuaKita adalah jahanamYang tertanamUkara Geni - 18 19. 12Puisi Nashita ZaynDetak AkuGerak susur bergurindamSerasa asing, serasa kenalTenaga hidup, pagi terang malam kelamAninggalke rasa susah lan sedihSakwise prasetya marang gustiKadang wujud, kadang menghilangDetakku makin luruh tenangSetinggi julang yang cemerlangMeskipun jadi vitalis1 tak mudahBergerak dinamis hadirkan cerahAgar makna tetap darahMenyala dihampiri cintaRanggas ditempa deraSemua koma di saat cinta menghampaAku dalam detakBertapa tak ingin lantakMemaknai jalan tanpa sentak2 Seorang vitalis: pemilik keuletan &amp; semangat berkobar dalam menempuhhidup Pawon #35 tahun V/2012 - 19 20. 13Puisi Lasinta Ari Nendra WibawaKEPADA PAWON, KEPADAKENANGAN-KEMENANGANYANG TAK BISA DITUKARselalu ada mata air yang mengalir, tiap kemenangan demikemenangan aku ukir. sebab berulangkali kaki mendaki,kau setia mendirikan fondasi tangga ini. sampai aku ragumenyebutmu guru, sahabat, kekasih atau orangtuaah, ternyata benar, kau mewarisi wajah mereka semua!keluarlah, kau tak mahir terbang di kamar dengan sinar lampusudah saatnya kau berkeliling di halaman sebagai kupu-kupuadalah suara yang terdengar saat pertama menjabat tanganmukuterjemahkan itu sebagai musim baik untuk berguru-berburudan sejak itulah aku mengasah tombak dan membuat busur barusejauh-jauhnya langkahku memburuadalah sekuat-kuatnya aku menyusupadamukurapal asa pagi tiap kali membuka lebar pintu-jendelasenja kembali dengan memanggul piagam dan pialamenjelang malam kau mengajakku meneruskan perburuanberbekal pena-buku sebagai tiang dan atap perkemahantempat menginap rasa ingin tahu dan gigil penasaranyang tersebar di pen...</p>