Analisis berita pelemahan rupiah terhadap mata uang asing

  • Published on
    29-Nov-2014

  • View
    4.142

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Makalah untuk menyelesaikan tugas ekonomi mengenai analisa berita ekonomi.

Transcript

  • 1. LAPORAN 19 Desember 2013 Analisis Berita Tiga Bulan ke Rp 12.000 Oleh : Afifah Nurul Hidayah 0131131367 Anthony 0131131233 Erica Gomulya 0131131374 Kevin Jayadi 0131131185 Michael Stefanus 0131131102 Stefan Wan 0131131118 Business J m.k. Introductory Economics S1 Prasetiya Mulya Business School 2013
  • 2. BAB I PENDAHULUAN Nilai tukar yang tidak stabil dan cenderung berada dalam tingkat yang terdepresiasi akan membawa dampak negatif dalam suatu perekonomian. Tidak stabilnya nilai tukar akan dapat mendorong terciptanya ketidakstabilan harga, khususnya ketidakstabilan harga barangbarang yang berasal dari impor. Depresiasi nilai tukar yang terlalu besar akan mengakibatkan harga barang impor menjadi lebih mahal dan secara keseluruhan dapat meningkatkan laju inflasi selanjutnya, inflasi yang terlalu tinggi dapat menurunkan daya beli masyarakat dan menurunkan kegiatan ekonomi. Selain itu, depresiasi nilai tukar dapat memberatkan neraca perusahaan yang sumber pembiayaannya berasal dari hutang luar negeri. Depresiasi akan mengakibatkan beban bunga dan pokok hutang luar negeri dalam mata uang domestik menjadi semakin besar. Nilai tukar merupakan variabel penting dari kondisi perekonomian suatu negara, sehingga memerlukan perhatian agar variabel ini bergerak dalam keadaan stabil dan dapat menunjang kegiatan perekonomian lainnya. Analisis mengenai pergerakan nilai tukar Rupiah diperlukan karena nilai tukar mencerminkan kondisi perekonomian suatu negara. Fluktuasi nilai tukar yang terlalu tinggi akan mengganggu kegiatan perekonomian baik di sektor riil maupun moneter. Mengingat besarnya pengaruh dari fluktuasi nilai tukar terhadap perekonomian, maka jelas diperlukan manajemen nilai tukar yang baik sehingga pergerakan nilai tukar menjadi stabil, fluktuasinya dapat diprediksi dan perekonomian dapat tetap berjalan dengan baik. 1
  • 3. 1. 1. STUDI KASUS Kompas, 6 Desember 2013 Pada analisis kali ini, kami mengambil berita dari koran Kompas, 6 Desember 2013 mengenai melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Pada berita ini dijabarkan mengenai nilai tukar rupiah yang menyentuh posisi terlemah baru sepanjang tahun 2013 pada kamis (5/12), yakni Rp 12.018 per dollar. Menurut data pada Bank Indonesia, perlu waktu 3 bulan sejak rupiah menembus Rp 11.093 pada 4 September 2013 hingga melewati Rp 12.000. Sebelumnya, nilai tukar terlemah adalah pada 10 Maret 2009 dengan nilai tukar rupiah mencapai Rp 12.040 per dollar AS. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Difi Ahmad Johansyah mengaku tingginya permintaan dollar AS, terutama oleh korporasi. Namun, BI sudah mengantisipasi hal ini secara langsung untuk menjamin ketersediaan dollar AS di pasaran. 2
  • 4. Namun, BI yakin pelemahan ini hanya bersifat sementara. Hal ini dikarenakan para eksportir yang menyimpan dollar AS mulai melepas dollar AS ke pasar, sehingga persediaan atau supply meningkat. Walaupun merupakan nilai tukar rupiah menyentuh posisi terlemah, pada akhir pecan lalu sempat menguat dari Rp 11.900-an menjadi Rp 11.830 per dollar AS pada Selasa (3/12). Penguatan terjadi setelah BPS (Badan Pusat Statistik) mengumumkan neraca perdagangan yang surplus 42,4 juta dollar AS, dan inflasi November yang hanya sebesar 0,12 persen (tergolong rendah). Selain itu, keyakinan BI bahwa pelemahan ini hanya bersifat sementara didukung dengan utang luar negeri pemerintah, bank sentral, dan swasta yang per September 2013 mencapai 259,867 miliar dollar masih dapat dikelola. Hal ini ditunjukkan bahwa untuk pembayaran hutang, hanya sebagian kecil yang memerlukan dollar AS saat ini. Sebagian sudah menyiapkan kebutuhan dollar AS itu jauh-jauh hari. Likuiditas di pasar valas juga hanya sekitar 500 juta dollar AS per hari, yang angka ini cukup kecil dibandingkan dengan permintaan pasar. Misalnya jika dibandingkan dengan ekspor yang sekitar 15 miliar dollar AS per bulan. Begitu juga dengan impor yang rata-rata 15 miliar dollar AS per bulan. Ditambah lagi, ekonom Standard Chartered Indonesia, Eric Alexander menyatakan pelemahan rupiah kali ini sifatnya psikologis. Investor pasar keuangan, terutama lokal, sedikit panik. Ditambah lagi, masih ada eksportir yang menahan dollar AS. Industri Menurut direktur utama PT ADhi Karya (Persero) Tbk Kiswodarmawan, pengaruh pelemahan rupiah ada terhadap industry ada, tetapi kecil. Pengaruh kenaikan dollar ada untuk proyek yang carry over atau berkelanjutan. Sedangkan, proyek-proyek baru pada bidang industri telah disesuaikan dengan nilai tukar yang baru. Masyarakat Bagi masyarakat, pelemahan nilai tukar rupiah berdampak terhadap harga yang lebih mahal. Hal ini didukung dengan masih banyaknya barang modal dan bahan baku yang di impor. 3
  • 5. BAB II LANDASAN TEORI 2.1. KEBIJAKAN MONETER Kebijakan moneter adalah upaya untuk mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara berkelanjutan dengan tetap mempertahankan kestabilan harga. Untuk mencapai tujuan tersebut Bank Sentral atau Otoritas Moneter berusaha mengatur keseimbangan antara persediaan uang dengan persediaan barang agar inflasi dapat terkendali, tercapai kesempatan kerja penuh dan kelancaran dalam pasokan/distribusi barang. Kebijakan moneter dilakukan antara lain dengan salah satu namun tidak terbatas pada instrumen sebagai berikut yaitu suku bunga, giro wajib minimum, intervensi dipasar valuta asing dan sebagai tempat terakhir bagi bank-bank untuk meminjam uang apabila mengalami kesulitan likuiditas. 2.1. 1. Jenis-jenis Kebijakan Moneter Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan menjadi dua, yaitu: 1. Kebijakan moneter ekspansif (Monetary expansive policy) Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan untuk mengatasi pengangguran dan meningkatkan daya beli masyarakat (permintaan masyarakat) pada saat perekonomian mengalami resesi atau depresi. Kebijakan ini disebut juga kebijakan moneter longgar (easy money policy) 2. Kebijakan Moneter Kontraktif (Monetary contractive policy) Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan ini dilakukan pada saat perekonomian mengalami inflasi. Disebut juga dengan kebijakan uang ketat (tight money policy) 2.1. 2. Instrumen Kebijakan Moneter Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain: 4
  • 6. 1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation) Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat berharga pemerintah (government securities). Jika ingin menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah akan menjual surat berharga pemerintah kepada masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain diantaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga Pasar Uang. 2. Fasilitas Diskonto (Discount Rate) Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah uang yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank sentral pada bank umum. Bank umum kadang-kadang mengalami kekurangan uang sehingga harus meminjam ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah, pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang yang beredar berkurang. 3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio) Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang beredar, pemerintah menaikkan rasio. 4. Imbauan Moral (Moral Persuasion) Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhati-hati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak jumlah uang beredar pada perekonomian. 5
  • 7. 2.1. 3. Tujuan Kebijakan Moneter Bank Indonesia memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Tujuan ini sebagaimana tercantum dalam UU No. 3 tahun 2004 pasal 7 tentang Bank Indonesia. Hal yang dimaksud dengan kestabilan nilai rupiah antara lain adalah kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang tercermin pada inflasi. Untuk mencapai tujuan tersebut, sejak tahun 2005 Bank Indonesia menerapkan kerangka kebijakan moneter dengan inflasi sebagai sasaran utama kebijakan moneter (Inflation Targeting Framework) dengan menganut sistem nilai tukar yang mengambang (free floating). Peran kestabilan nilai tukar sangat penting dalam mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan. Oleh karenanya, Bank Indonesia juga menjalankan kebijakan nilai tukar untuk mengurangi volatilitas nilai tukar yang berlebihan, bukan untuk mengarahkan nilai tukar pada level tertentu. Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar atau suku bunga) dengan tujuan utama menjaga sasaran laju inflasi yang ditetapkan oleh Pemerintah. Secara operasional, pengendalian sasaran-sasaran moneter tersebut menggunakan instrumen-instrumen, antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan. Bank Indonesia juga dapat melakukan cara-cara pengendalian moneter berdasarkan Prinsip Syariah. 2.2. PERMINTAAN DAN PENAWARAN UANG 2. 2. 1. Permintaan Uang Permintaan uang adalah jumlah unit moneter yang ingin dipegang sebagai harta tunai. Permintaan uang dipengaruhi oleh tiga hal. Ketiga hal ini pada prinsipnya sejalan dengan teori pendapatan yang dikemukakan oleh J.M Keynes. 1. Kebutuhan bertransaksi Terkait dengan fungsi uang sebagai alat tukar, kita menggunakan uang untuk membeli barang atau jasa atau untuk membayar tagihan. Jika pendapatan naik, nilai barang yang kita beli akan naik sehingga kita membutuhkan lebih banyak uang untuk bertransaksi. 6
  • 8. 2. Kebutuhan berjaga-jaga Kebutuhan ini dipengaruhi oleh biaya menyimpan uang, yang ditentukan oleh tingkat bunga. Dalam hal ini fungsi uang adalah sebagai penyimpan kekayaan. 3. Kebutuhan berspekulasi Spekulasi berarti melakukan sesuatu atas dasar ramalan perubahan nilai harta di masa depan. Jika seseorang melakukan spekulasi terhadap asetnya, tentu dengan sendirinya mengurangi permintaan uang. Sebaliknya, jika orang tersebut kurang berani berspekulasi, dia akan memilih menyimpan uang, yang merupakan aset paling aman untuk disimpan sebagai harta. 2. 2. 2. Kurva Permintaan Uang Salah satu hal yang memengaruhi permintaan uang adalah biaya penyimpanan uang, yang ditentukan oleh tingkat bunga. Orang akan menyimpan uangnya jika tingkat bunganya lebih tinggi daripada keuntungan menggunakan uang dalam kegiatan ekonomi atau membeli aset lain. Jadi, jika tingkat bunga meningkat, permintaan atas uang akan turun dan sebaliknya. Permintaan uang turun ketika tingkat bunga meningkat karena orang tertarik menyimpan uang yang dimilikinya. Uang menjadi produktif karena digunakan untuk kegiatan ekonomi riil. Jumlah uang yang diminta sebagai penyimpan nilai kekayaan tergantung pada tingkat bunga. 2. 2. 3. Pergeseran Kurva Permintaan Uang Faktor-faktor yang dapat menggeser kurva permintaan uang ke kiri atau ke kanan adalah tingkat bunga riil, nilai kekayaan masyarakat, dan perubahan pendapatan nasional. Jika ada perubahan dalam kekayaan, permintaan uang akan meningkat. Begitu pula jika kekayaan menurun, permintaan uang akan menurun. Perubahan kekayaan masyarakat dapat merubah kebutuhan bertransaksi, kebutuhan berjaga-jaga, dan kebutuhan spekulasi. Jika pendapatan nasional dan produk nasional meningkat, kurva permintaan akan bergeser ke kanan. Sebaliknya, jika pendapatan dan produk nasional menurun, kurva akan bergerak ke kiri. 7
  • 9. 2. 2. 4. Penawaran Uang Penawaran uang adalah jumlah uang yang tersedia dalam suatu perekonomian. Kebijakan moneter bertujuan untuk mengatur penawaran uang atau mengatur uang yang beredar. Oleh karena itu, penawaran uang merupakan tugas pemerintah melalui Bank Indonesia. 2. 2. 5. Kurva Penawaran Uang Kurva penawaran uang umumnya mempunyai slope positif. Seperti halnya kurva permintaan uang, jumlah uang yang beredar dipengaruhi oleh tingkat bunga. Jadi, semakin tinggi tingkat bunganya, semakin banyak jumlah uang yang beredar. Dan begitu pula sebaliknya. Kurva penawaran uang digambarkan dengan slope positif karena, sebagai contoh, bank akan lebih terpacu untuk memberikan kredit kepada dunia usaha jika tingkat bunga lebih tinggi, dibandingkan jika tingkat bunga rendah. Hal ini karena keuntungan meminjamkan uang akan lebih besar ketika tingkat bunga tinggi. Dengan demikian, perubahan tingkat bunga akan menyebabkan pergerakan jumlah uang beredar di sepanjang kurva MS. 2.3. NERACA PERDAGANGAN Menurut IMF dalam Hadi (2002) neraca pembayaran adalah suatu catatan yang disusun secara sistematis tentang seluruh transaksi ekonomi yang meliputi perdagangan barang atau jasa, transfer keuangan dan moneter antara penduduk (resident) suatu Negara dan penduduk luar negeri (rest of the world) untuk suatu periode waktu tertentu. Batiz dan Batiz (1994) menyatakan neraca pembayaran semua transaksi antara penduduk merupakan domestik dan warga negara asing suatu catatan atas untuk periode tertentu, biasanya satu tahun. Pencatatan dilakukan dengan sistem double entry book keeping yaitu dengan menggunakan debit dan kredit. Dengan total debit...