Sejarah berdirinya muhammadiyah

  • Published on
    27-May-2015

  • View
    3.532

  • Download
    7

Embed Size (px)

Transcript

<ul><li> 1. SEJARAH BERDIRINYA MUHAMMADIYAH Oleh: Fatimmatuz Zahro Siti Nur Alfinaini Hasty Prahastuti Leylia Panca Mekti Guruh Maulana Novia Hastin </li></ul> <p> 2. Profil pendiri Muhammadiyah KH.Ahmad Dahlan,lahir di Kauman,Yogyakarta pada 1868 dengan nama Muhammad Darwis.Merupakan Anak ke empat dari enam bersaudara,dari Ayah KH.Abu Baakar dan Ibu Siti Aminah. Pada 1889,menikah dengan Siti Walidah dan menunaikan haji pada 1890.Pada 1896 Ia diangkat menjadi Khatib Masjid Besar oleh Kesultanan Yogyakarta dengan gelar Khatib Amin. Pada 1909,Ia bertemu dengan Dr.Wahidin Sudirohusodo,Pendiri organisasi Budi Utomo,kemudian bergabung dan mulai belajar berorganisasi. 3. Latar Belakang Berdirinya Muhammadiyah Muhammadiyah berasal dari kata bahasa arab Muhammadiyah yaitu nama nabi dan rasul Allah yang terakhir, kemudian mendapatkan ya dengan bentuk nisbiyah yang artinya menjeniskan. Jadi Muhammadiyah berarti Umat Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yaitu semua orang yang mengakui dan meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan pesuruh Allah yang terakhir. Sementara menurut istilah [terminology], Muhammadiyah merupakan gerakan islam, dakwah amar makruf nahi munkar, berakidah islam dan bersumber pada Al-Quran dan as- Sunnah. 4. Muhammadiyah didirikan pada 18 Nov 1912 M,atau pada 8 Dzulhijah 1330 H di Yogyakarta. Gerakan ini diberi nama Muhamaddiyah dengan maksud untuk berpengharapan baik, dapat mencontoh dan meneladani jejak perjalanan Rasullullah SAW dalam rangka menegakan dan menjujung tinggi agama islam. 5. Tujuan berdirinya Muhammadiyah yaitu terbentukanya perilaku individu, kolektif seluruh anggota Muhammadiyah yang menunjukkan keteladanan yang baik (uswah hasanah) menuju terwujudnya masyarakat islam yang sebenar-benarnya.Dimaksud dapat ditafsirkan sebagai citraan masyarakat utama yaitu masyarakat yang unggul di berbagai bidang, utamanya akhlak masyarakatnya dan unggul dari sudut politik, ekonomi dan budaya. Fenomena baru yang juga tampak menonjol dari kehadiran Muhamaddiyah ialah, gerakan islam yang murni dan berkemajuan itu dihadirkan bukan lewat jalur individu, tetapi melalui sebuah sistem organisasi 6. Maksud Berdirinya Muhammadiyah Berdirinya Muhammadiyah Memiliki Maksud Sebagai Berikut : Menyebarkan pengajaran Nabi Muhammad SAW kepada seluruh penduduk, di dalam residensi Yogyakarta Memajukan hal agama islam kepada anggota-anggotanya 7. Perkembangan Muhammadiyah Perkembangan Muhammadiyah Dan Ekonomi Dibagi Menjadi Dua Yaitu : Perkembangan secara Vertikal Perkembangan Muhammadiyah sedikit lebih lambat dengan Nu,hal ini dikarenakan usaha Muhammadiyah dalam mengikis adat istiadat yang mendarah daging di kalangan masyarakat, sehingga banyak memenuhi tantangan dari masyarakat 8. Perkembangan secara Horizontal Perkembangan Muhammadiyah dalam bidang keagamaan terlihat dalam upaya - upaya, seperti terbentuknya majelis tarjih (1927), yaitu lembaga yang menghimpun ulama ulama dalam Muhammadiyah yang secara tetap mengadakan permusyawaratan dan memberi fatwa fatwa dalam bidang keagamaan serta memberi tuntunan mengenai hukum. 9. Tiga Identitas Muhammadiyah Muhammadiyah sebagai Gerakan islam Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah Islam Muhammadiyah sebagai gerakan Tajdid 10. Sebab Sebab Muhammadiyah a. Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan al Quran dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bidah dan khurafat. Akibatnya umat Islam tidak merupakan suatu golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam tidak memancarkan kemurniannya lagi. b. Ketiadaan persatuan dan kesautan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknuya ukuawah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat 11. c. Kegagalan dari sebagian lembaga lembaga pendidikan Islam dalam memproduksi kader kader Islam karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman. d. Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaqlid buta serta berpikir secara dogmatis. Kehidupan umat Islam boleh dikatakan masih dihinggapi konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme. e. Karena keinsyafan akan bahaya yang mengancam kehidupan dan pengaruh agama Islam, berhubung dengan kegiatan dari misi dan zending Kristen di Indonesia yang semakin menanamkan pengaruhnya di kalangan rakyat. 12. g. Adanya tantangan dan sikap acuh tak acuh atau rasa kebencian di kalangan intelijensia kita terhadap agama Islam, yang oleh mereka dianggap sudah kolot dan tidak up to date lagi. h. Ingin membentuk suatu masyarakat, dimana di dalamnya benar benar berlaku segala ajaran dan hukum hukum Islam. 13. Sikap, perilaku, cita-cita dan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan sebelum dan sesudah mendirikan Muhammadiyah senantiasa berada dalam delapan acuan, yaitu: Keimanan dan tauhid yang bersih kepada Allah. Beribadat yang wajar menurut tuntutan Rasulullah saw. Bermusyawarah dan bermufakat. Perikemanusiaan. Bebas berpikir untuk menegakkan kebenaran. Beramal shaleh dan beramar maruf nahi munkar. Kerukunan dan gotong royong menuju Ukhuwah Islamiyah. Kesediaan berkorban untuk menegakkan agama. 14. Tahap-Tahap Perkembangan 1969,KH Mas Mansyur untuk kali kedua,datang ke rumah KH.Ahmad Dahlan di Yogyakarta K.H. Mas Mansur nampaknya amat terkesan dengan kepiawaian K.H. Ahmad Dahlan dalam menafsirkan Al-Quran, yang dinilai sangat cermat, sehingga keterangannya hebat dan dalam serta tepat. Berangkat dari kekagumannya kepada K.H. Ahmad Dahlan dan didorong oleh gelora jiwanya sebagai pejuang dan intelektual muda, pada 1920 K.H. Mas Mansur menerima ajakan K.H. Ahmad Dahlan untuk mendirikan Muhammadiyah di Surabaya. Maka dengan dukungan oleh beberapa tokoh yang menerima paham pembaruan, antara lain H. Ali, H. Azhari Rawi, H. Ali Ismail dan Kyai Usman, Muhammadiyah dapat berdiri di Surabaya. 15. Era pertumbuhan Muhammadiyah di Jawa Timur dapat dikelompokkan dalam tiga tahap, yaitu tahap perintisan, tahap persebaran, dan tahap perluasan. a.Tahap perintisan, Tahap perintisan ini berarti bahwa benih paham pembaharuan yang disebarkan K.H. Ahmad Dahlan telah mulai tumbuh di Jawa Timur. b.Tahap Persebaran,Pada tahap ini Muhammadiyah tersebar ke berbagai tempat di Jawa Timur, yaitu Madiun, Ngawi, Situbondo, Gresik, Jember, Lumajang, Probolinggo, Trenggalek, Bondowoso, Bangkalan, Sumenep, dan Sampang 16. c. Tahap Perluasan Pada tahap ini Muhammadiyah tersebar luas sampai ke Pamekasan, Kediri, Tulungagung, Banyuwangi, Magetan, Nganjuk, Pacitan, Tuban, Mojokerto dan Sidoarjo. Aset Gerakan Sampai dengan berakhirnya masa penjajahan Belanda di Indonesia (1942), Muhammadiyah di Jawa Timur telah telah tumbuh amat pesat. Tahun 1921, berdiri di dua tempa, yaitu Surabaya dengan status cabang dan Kepanjen (Malang) dengan status groep/gerombolan (sekarang disebut ranting). Pada 1941, di Jawa Timur telah tercatat enam Daerah, yaitu Surabaya, Madura, Besuki, Pasuruan, Madiun dan Kediri. 17. Peta Gerak Pertumbuhan Pertumbuhan Muhammadiyah di Jawa Timur dapat dipetakan secara kronikal. Pangkal tolak gerak pertumbuhan itu adalah berdirinya Muhammadiyah di Surabaya dan Kepanjen pada 1921. Dinamika Organisasi Aktivitas dan Dinamika di Daerahdan Cabang Muhammadiyah di Jawa Timur ditandai dengan kegiatan para pengurus dan gerak daerah atau cabang dalam penyelenggaraan konperensi serta program-program kerja yang dilaksanakan. 18. Beramal untuk Kejayaan Islam dan Umat Sejak kelahirannya, Muhammadiyah sudah ditakdirkan sebagai persyarikatan yang bergerak untuk izz al-islam wa al-muslimin (kejayaan islam dan umat). Ini terbukti, ketika berdiri, sebuah Ranting Muhammadiyah langsung menggeliat beramal untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dan kesejahtereaan umat. 19. Pendidikan Salah satu amal usaha Muhammadiyah yang permanen, berkesinambungan, sistematik dan fundamental adalah pendidikan. Pendidikan yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah sejak awal sudah menggunakan sistem klasikal. Seperti telah disinggung oleh Nieuwenhuijze, kurikulum sekolah-sekolah Muhammadiyah banyak mengikuti sekolah-sekolah pemerintah 20. Perpustakaan Amal usaha Muhammadiyah untuk mencerdaskan rakyat tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal, tetapi juga melalui perpustakaan. H. Hubungan berdirinya Muhammadiyah dengan Budi Utomo Perjuangan Indonesia mulai awal abad ke 20 memasuki jaman modern. Maksudnya perjuangan yang mereka lakukan mulai menggunakan cara-cara organisasi modern. Hal ini di tandai dengan lahirnya organisasi Boedi Oetomo. Masuk nya K.H. Ahmad Dahlan dalam Boedi Oetomo medapat manfaat antara kedua belah pihak, Boedi Oetomo memperoleh ilmu agama , sedang K.H. Ahmad Dahlan memperoleh ilmu berorganisasi 21. Kedekatan K.H. Ahmad Dahlan dengan Boedi Oetomo terbukti setelah Muhammadiyah berdiri , antara lain kongres Boedi Oetomo pada tahun 1917 di rumah K.H. Ahmad Dahlan , beliau bertabligh dan memukau para anggota kongres, setelah kongres banyak surat yang dikirim ke tempat Pengurus Besar Muhammadiyah yang meminta untuk didirikan cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai tempat, dan Muhammadiyah berkembang dari hari ke hari. </p>